Hari Ibu di Mata Mahasantri Ma'had Aly

Tebuireng.online – Hari Ibu kembali diperingati pada hari ini 22 Desember 2019. Ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959. Pada awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan  dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja sama.Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapan rasa sayang  dan terima kasih kepada para ibu hanya berupa ucapan dan postingan foto-foto beliau. Beberapa Mahasantri Tebuireng khususnya Ma’had Aly angkat suara untuk menyampaikan  pendapatnya mengenai hari ibu.

“Dalam memperingati Hari Ibu tidak cuma hari ini saja (22 Desember), tapi setiap harinya. Karena kasih sayang ibu itu setiap hari sampai meninggalpun beliau tetap kita kenang, karena kita tetap ngerasain kasih sayang yang beliau tanamkan di dalam hati kita dan tidak hari ini saja berbuat baik kepada orang tua kita tetapi setiap saat, dan menurut saya pribadi tidak perlulah memposting foto ibu kita seperti”SELAMAT HARI IBU”. Cukup ibu ditelfon semisal jauh, atau berupa tindakan, jadi tak usahlah ucapan dan kata-kata saja, karena tindakan itu lebih mengena.” (Dinar Hanin Khoirun Nisa, Semarang)

“Hari ibu ialah sebuah simbolis penghargaan kepada para ibu. Tapi sayangnya masih banyak para anak yang sering memposting perayaan hari ibu di sosmed, namun secara realnya mereka belum benar-benar berbakti terhadap ibunya. Menyayangi seorang ibu tidak hanya berlaku di saat hari ibu saja. Namun hal ini harus diaplikasikan setiap saat karena mengingat jasa para ibu yang telah merawat anak-anaknya semenjak dari kandungan.” (Devi Yuliana, Bojonegoro)

“Yang dilakukan remaja masa kini, bukannya memberikan hadiah atau pun membantu ibu secara langsung, eh cuma mosting foto di sosial media. Kalau pun hari ibu itu ditandai dengan membantu ibu atau lebih giat membantu ibu, menurut saya hari ibu itu seharusnya setiap hari.” (Dewi Nurul Izzah, Pekalongan)

“Berbicara mengenai hari ibu, di mana kita bisa mengingat perjuangan seorang ibu, pengorbanan , dan kemuliaannya. Karena mungkin setiap harinya kita disibukkan dengan berbagai aktivitas, maka dari itu perlu kiranya pengadaan perayaan hari ibu. Tapi meskipun begitu, itu tidak cukup untuk membalas jasa-jasanya.” (Nafasatul Qamariyah, Sumenep Madura)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Menurutku, hari ibu itu hari dimana kita sebagai seorang anak mengingat kembali jasa-jasa seorang ibu dari mengandung hingga sekarang hari bertafakur kepada mahluk ciptaan Allah yaitu ibu kita.” (Rizka Nur Maulidiyah, Gresik)

“Hari ibu itu momen kita buat ngungkapin rasa terimakasih dan rasa sayang peduli kita terhadap ibu, Karena menurut saya ibu itu juga ingin dapet ucapan kasih sayang dari anaknya bukan hanya perbuatan saja.” (Munikatus Sa’diyah, Jombang).

“Supaya ada penghargaan, setidaknya kepada ibu-ibu di Indonesia, supaya mengingatkan kepada para ibu khususnya ibu-ibu yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sibuk dengan prestasinya, sibuk dengan tugas-tugas di kantor. Bahwa mereka tetap seorang ibu yang punya anak. Setidaknya mereka sadar sejauh mana, setinggi apa, sebanyak apa, yang mereka dapatkan pada hakikatnya mereka tetap seorang ibu.” ( Moh. Kholil, Bangkalan Madura)

🤔  [Video] Trailer Wawancara Eksklusif Santri Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari

“Menurutku, hari ibu itu bukan cuma hari ini tgl 22 Desember yang harus diperingati dan dikenang bagaimana perjuangan dan pengorbanan seorang ibu, tapi hari ibu itu setiap hari, ya jadi kalo tidak diucapkan juga tidak papa. Karena bukan (hanya) itu yang ibu kita harapkan. Kalau aku sendiri, masih malu mau ngucapin hari ibu.” (Rizka Zahara, Aceh)

“Manusia yang namanya ibu itu sangat luar biasa sekali, kenapa begitu? Karena secara teori tubuh manusia hanya mampu menahan sakit sampai 45 del (satuan untuk unit dalam istilah kedokteran) sedangkan melahirkan itu sakitnya 57 del setara dengan patahnya 20 tulang secara bersamaan jadi pantas saja alloh menitipkan surga dibawah telapak kaki ibu. Dan  memperingati hari ibu itu merupakan salah satu  bentuk rasa terimakasih kita kepada seorang ibu. Terimakasih ibu, madrasah pertamaku kasih sayangmu sepanjang masa semoga kebaikan selalu menyelimuti engkau.”( Qumil Laila, Mojokerto)

“Saya tadi liat video seorang ustad membahas tentang hari ibu. Beliau menyatakan bahwa hari ibu itu bukan tradisi kita umat muslim. Padahal kalau kita melihat sejarah, hari ibu ditetapkan oleh insinyur Soekarno pada tanggal 22 Desember 1959 melalui Dekrit Presiden yang pada saat itu bertepatan dengan Kongres Perempuan di Indonesia sebagai bentuk penghargaan pada kaum hawa. Dari latar belakang ini saya rasa tidak ada masalah dalam syara’.” (Achmad Shidiqur Razaq, Sumenep Madura)

“Untuk mengenang perjuangan perempuan, sejarah memang menetapkan bahwa 22 Desember sebagai hari ibu bertepatan dengan Kongres Perempuan pertama pada masa presiden Soekarno.Tapi bagiku bukan hanya 22 Desember untuk mengenang jasa perempuan terutama ibu. Bagiku, mengenang jasa ibu itu di setiap hembusan nafasku, karena bagaimanapun dia tak hanya mengorbankan raga dan waktunya untukku. Tapi juga merelakan hembusan nafasnya agar aku  juga bisa bernafas dan tetap  bisa bernafas, agar merasakan pengabdian kepada sang tuhan.” (Miranda Wardania, Banyuwangi)

“Hari ibu merupakan hari peringatan betapa besarnya jasa seorang ibu, betapa mulianya seorang ibu, dan menurut saya peringatan hari ibu penting untuk diperingati.” (Anisa Khoiril Fadila, Magetan)

“Esensi ibu bukan hanya pada hari ibu,  tpi bagaimana kamu membuat hari ibu itu ada di setiap hari.” (Yuniar Indra Yahya, Yuniar Indra Yahya, Sidoarjo)

“Pentingnya kita memperingati hari ibu adalah untuk kita mengenang semua jasa-jasa yang pernah dilakukan oleh beliau. Dan untuk perkataan sebagian nash yang mengatakan sebenarnya setiap hari adalah hari ibu. Saya kurang setuju, sebab menurut saya tidak perlu dikatakan setiap hari itu adalah hari ibu. Karena sudah seharusnya dan semestinya, kita harus mengingat semua yang beliau korbankan kepada kita setiap hari dan setiap saat. Intinya menurut saya adanya hari ibu itu penting, untuk mengingat. Dan sudah seharusnya kita mengingat jasa-jasa beliau setiap hari tidak hanya pada hari ibu.” (Mudiatul Khalidah, Bangkalan Madura)


Pewarta: Qurratul Adawiyah