Hadis Arba’in KH. Hasyim Asy’ari: Menangisi Agama yang Kehilangan Ahlinya (Bagian II)

155
Ilmu dan Waktu dalam pesan KH Hasyim Asy'ari bagi generasi muda.
Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari

Barangkali kita pernah mempraktikkan apa yang dilakukan Abu Ayyub, yaitu menziarahi makam tokoh agama karena merasa gelisah melihat pemimpin dan masa depan persatuan umat Islam. Dan memang, hari ini—di tahun ini, di masa ini—kekhawatiran itu terasa relevan, terutama ketika kita merenungkan sabda Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ “. قَالَ : كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ ” رواه البخاري.

Dari Abū Hurairah r.a., ia meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah datangnya kiamat.” Lalu ada yang bertanya: “Bagaimana bentuk penyia-nyiaan amanah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya kiamat.”

Penjelasan Ibn Baṭṭāl dalam memahami hadis ini sangat membantu menjembatani perspektif kita hari ini (lihat Syarh Ṣaḥīḥ al-Bukhārī li Ibn Baṭṭāl, juz 10, t.t., h. 206–207). Ketika Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa kiamat ditandai oleh disia-siakannya amanah, beliau tidak sedang berbicara tentang masa depan yang jauh dan abstrak. Justru, sabda itu terasa salih likulli zaman wa makan, dan sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Amanah, sebagaimana dijelaskan Nabi dan diperdalam oleh para ulama, bukan hanya soal kejujuran pribadi, tetapi juga tentang siapa yang mengelola urusan publik dan atas dasar apa.

Hari ini, penyia-nyiaan amanah terlihat jelas ketika kita memaknai kepantasan dan keahlian. Jabatan publik sering kali tidak lagi diberikan karena kapasitas, integritas, atau rekam jejak moral, melainkan karena kedekatan, popularitas, loyalitas politik, atau kemampuan mengelola citra. Urusan besar—pendidikan, hukum, agama, bahkan kemanusiaan—kerap jatuh ke tangan orang yang pandai bicara, tetapi miskin tanggung jawab.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Inilah yang disebut Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya”. Hal ini menyasar individu yang tidak kompeten sekaligus mekanisme sosial yang memungkinkan ketidaklayakan itu dianggap wajar. Ada yang memang benar kompeten di bidangnya dan dijadikan pemimpin, namun ternyata kekuasaannya dipelintir untuk memperkaya diri. Korupsi pun menjamur di mana-mana.

Fenomena “orang remeh berbicara dalam urusan umum” yang disebut Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan istilah ar-ruwaibidhah (Sunan Ibnu Majah, no. 4036, 5/501) kini menemukan bentuknya di ruang digital. Media sosial telah menghapus batas antara opini dan otoritas. Siapa pun bisa bicara tentang apa pun, dan sering kali yang paling lantang justru paling didengar.

Inilah yang digelisahkan juga oleh Tom Nichols dalam bukunya Matinya Kepakaran (2018: 16). Menurutnya, ruang publik semakin didominasi oleh orang yang miskin informasi. Sebagian di antara mereka belajar sendiri, sebagian yang lain memandang rendah pendidikan formal serta meremehkan pengalaman. Dalam iklim seperti ini, pengetahuan kalah oleh sensasi dan integritas kalah oleh viralitas.

Akibatnya, orang jujur dan berhati-hati kerap dicurigai, sementara yang manipulatif justru dipercaya. Fakta sering kalah cepat dibanding narasi, dan kebenaran kalah menarik dibanding kemarahan. Apa yang dulu diperingatkan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam —pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan—kini menjadi pemandangan sehari-hari.

Matinya Kepakaran “Ahl al-Din

Krisis amanah juga tampak dalam dunia keagamaan. Ketika ulama (ahl al-din) wafat atau disingkirkan, posisi mereka tidak selalu digantikan oleh orang yang matang secara ilmu dan akhlak. Kita bisa melihat akhir-akhir ini, banyaknya figur-figur yang fasih sekali dalam retorika, kuat di panggung, tetapi dangkal dalam tanggung jawab moral. Agama pun berisiko direduksi menjadi alat legitimasi, bukan sumber etika.

Dan sebagaimana hadis “lā tabkū ‘alā ad-dīn idzā waliyahu ahluh” (Musnad Aḥmad ḥadīṡ no. 23585, 38/558), kita patut berduka cita terhadap matinya kepakaran “ahl al-din”.

Hal ini pernah diperingatkan oleh Mbah Hasyim dalam kitabnya Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (t.t: 22) bahwa orang yang berilmu akan mendapatkan kenikmatan surga jika niatnya tulus hanya Allah semata. Bukan untuk tujuan duniawi, seperti halnya mengejar pangkat, memperbanyak harta, dan melipatgandakan pengikut. Tujuan seperti ini bisa menempatkan seorang berilmu hancur dan mendapatkan tiket masuk neraka (al-Tirmidzi no. 2654, 4/392).

Senada dengan Mbah Hasyim, Khoiruddin Habziz dalam Syarḥ Laṭīf ‘alā Arba‘īna Ḥadīṡan Tata‘alluq bi-Mabādi’ Jam‘iyyah Nahḍlat al-‘Ulamā’ (2024: 22) ketika menjelaskan hadis kedua yang dicantumkan oleh Mbah Hasyim, beliau berkata:

فَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فِي هٰذَا الزَّمَانِ يُؤْثِرُونَ الْأُمُورَ الدُّنْيَوِيَّةَ الْفَانِيَةَ عَلَى أَعْمَالِ الْآخِرَةِ الْبَاقِيَةِ، لِأَنَّ الْأُمُورَ الدُّنْيَوِيَّةَ مَادِّيَّةٌ حِسِّيَّةٌ يَرَاهَا عُيُونُ الْبَاصِرَةِ، بِخِلَافِ أَعْمَالِ الْآخِرَةِ وَثَوَابِهَا فَإِنَّهَا رُوحِيَّةٌ مَعْنَوِيَّةٌ لَنْ يَشْهَدَهَا إِلَّا ذَوُو عُيُونِ الْبَصِيرَةِ. وَلِذٰلِكَ ابْتَلَاهُمُ اللَّهُ دَاءً ضَارًّا وَمُضِرًّا فِي نُفُوسِهِمْ، وَهُوَ الْوَهْنُ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

Banyak manusia pada zaman ini lebih mengutamakan perkara-perkara duniawi yang fana daripada amal-amal akhirat yang kekal. Hal itu karena urusan dunia bersifat material dan kasat mata, dapat dilihat oleh mata kepala. Berbeda dengan amal-amal akhirat dan pahala-pahalanya, yang bersifat ruhani dan maknawi, yang tidak dapat disaksikan kecuali oleh orang-orang yang memiliki mata batin (bashirah). Karena itu, Allah menimpakan kepada mereka suatu penyakit yang berbahaya dan merusak dalam jiwa mereka, yaitu al-wahn: cinta berlebihan kepada dunia dan benci terhadap kematian.”

Dalam konteks ini, hadis tentang dicabutnya amanah dari hati manusia yang tujuannya buruk terasa sangat relevan (Bukhari no. 7086, 9/52). Amanah tidak hilang sekaligus. Ia tergerus pelan-pelan melalui kebiasaan terhadap ketidakjujuran kecil, kompromi etis yang terus diulang, dan normalisasi kepalsuan. Hingga akhirnya, yang tersisa hanyalah tampilan luar: gelar, jabatan, dan simbol—tanpa isi yang berkualitas.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan bahwa kelak manusia akan banyak, tetapi yang benar-benar layak diandalkan sangatlah sedikit (Muslim no. 2547, 7/192). Ini bukan penghinaan terhadap manusia, tetapi kritik terhadap standar kelayakan “pakar” yang merosot. Ketika kompetensi dan amanah tidak lagi menjadi syarat utama, masyarakat memang ramai, tetapi kekurangan figur yang dapat dipercaya.

Namun, peringatan ini bukan untuk menjerumuskan kita ke keputusasaan. Ia justru memunculkan tanggung jawab. Jika amanah adalah tanda zaman yang runtuh, maka memelihara amanah adalah bentuk perlawanan moral. Menjadi jujur di tengah budaya manipulatif, kompeten di tengah ketidakcakapan yang dinormalisasi, dan bertanggung jawab di tengah penghindaran tanggung jawab—itulah makna iman yang hidup.

Barangkali, di zaman ketika amanah diangkat sedikit demi sedikit, iman tidak lagi tampak dalam slogan besar, melainkan dalam kesetiaan pada tanggung jawab kecil yang terus dijaga. Kita semua pasti pernah mendapatkan amanah dari orang lain, dan sekecil apa pun amanah itu, semoga kita bisa menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga: Hadis Arba’in KH. Hasyim Asy’ari: Menangisi Agama yang Kehilangan Ahlinya (Bagian I)


Penulis: Achmad Fauzan

Editor: Sutan