Pesantren Tebuireng Jadi Pemberhentian Terakhir Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama

120
Suasana saat KH. Azaim Ibrahimy menyerahkan tongkat kepada KH. Abdul Hakim Machfudz di depan Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng Jombang (foto: irsyad)

Tebuireng.Online— Pesantren Tebuireng, Jombang, menjadi pemberhentian terakhir rangkaian kegiatan Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) yang dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, pada Ahad (4/1/2026).

Rombongan Napak Tilas dipimpin langsung oleh KH. Azaim Ibrahimy, dzurriyah KH. Raden As’ad Syamsul Arifin. Kedatangan rombongan disambut secara langsung oleh KH. Abdul Hakim Machfudz, dzurriyah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng.

Baca Juga: Harlah ke-100 NU Tahun 2026, Dzurriyah Muassis NU Gelar Kirab Napak Tilas Tongkat Syaikhona Kholil Bangkalan

Prosesi penyambutan berlangsung khidmat dengan penyerahan tongkat dan tasbih dari KH. Azaim Ibrahimy kepada KH. Abdul Hakim Machfudz. Prosesi ini merupakan simbol pengulangan sejarah pendirian NU, sebagaimana dahulu KH. Raden As’ad Syamsul Arifin menyerahkan tongkat dan tasbih pemberian Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari sebagai isyarah berdirinya Nahdlatul Ulama.

Dalam sambutannya, KH. Abdul Hakim Machfudz menegaskan bahwa kegiatan Napak Tilas Isyarah Pendirian NU merupakan bagian penting dalam rangka memperingati satu abad Nahdlatul Ulama (1926–2026).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Hari ini kita memperingati satu abad Nahdlatul Ulama. Kegiatan-kegiatan seperti ini memiliki peran yang sangat signifikan untuk mengingat kembali sejarah berdirinya NU satu abad yang lalu, serta mengambil pelajaran dari perjuangan para pendahulu,” ujar beliau.

Saat rombongan napak tilas menuju maqbarah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di area makam Pesantren Tebuireng

Menurutnya, rangkaian perjalanan Napak Tilas yang dimulai dari Bangkalan, Surabaya, hingga Tebuireng mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan situasi perjuangan para ulama pada masa yang penuh keterbatasan.

Baca Juga: Syaikhona Kholil & KH. Hasyim Asy’ari, Indahnya Dialektika Guru-Murid

“Kita diingatkan kembali pada zaman yang sangat sulit. Para ulama, masyaikh, dan leluhur kita telah berjuang bukan hanya untuk agama, tetapi juga untuk kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan itu banyak dilakukan oleh ulama yang berbasis di pondok pesantren,” ungkapnya.

Ketua PWNU Jawa Timur itu, menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi para muassis NU pada masa penjajahan jauh lebih berat dibandingkan kondisi saat ini.

“Apa yang telah dilakukan oleh para leluhur kita jauh lebih berat daripada apa yang kita lakukan sekarang. Pada masa penjajahan Belanda, akses dan ruang gerak sangat terbatas, bahkan nyaris tanpa toleransi bagi bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan,” jelasnya.

Meski demikian, lanjut Gus Kikin, para muassis NU telah memulai konsolidasi jauh sebelum tahun 1926 dengan membangun kebersamaan, ukhuwah, dan persatuan umat.

Baca Juga: Khittah Tebuireng dalam Menjaga Nahdlatul Ulama

Menutup sambutannya, beliau mendoakan agar seluruh rombongan Napak Tilas memperoleh keberkahan dari para muassis Nahdlatul Ulama.

“Mudah-mudahan seluruh rombongan mendapatkan barokah, dapat berkumpul bersama para masyaikh, muassis Nahdlatul Ulama, serta bersama Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,” pungkasnya.



Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary