Ruwaibidhah dan Bahaya Inkompetensi: Ketika Urusan Diserahkan Bukan pada Ahlinya

10
ilustrasi tidak kompeten

Pada zaman modern ini serigkali kita menemui hal-hal yang sangat mengganggu telinga kita terutama dalam dunia digital. Banyak ditemui konten yang diisi oleh orang-orang yang tidak ahli dalam bidangnya. Misalnya, seseorang yang tidak punya latar belakang pendidikan agama, kemudian berani berkomentar terhadap permasalahan agama yang tidak ia kuasai. Atau  seseorang yang tidak punya pengalaman politik tetapi dia berani terjun dalam dunia politik.

Fenomena tersebut pernah dibicarakan di dalam hadis Nabi dan dijuluki sebagai Ruwaibidlah. Siapakah dia? Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam kitab Sunan Ibnu Majah disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ»، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ».

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah bersabda, Akan datang masa-masa yang penuh dengan kedustaan yang akan menimpa manusia, dimana pendusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap pendusta, pengkhianat dianggap orang yang amanah, orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan Ruwaibidlah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Siapakah Ruwaibidlah itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengatur urusan rakyat.”

Kajian Makna Hadis

Dalam sanad hadis ini terdapat Ishaq bin Abi al-Furat. Adz-Dzahabi berkata dalam kitab Al-Kāsyif bahwa ia adalah seorang yang majhul (tidak dikenal status dan kredibilitasnya). Ada pula yang mengatakan bahwa riwayatnya munkar. Namun, Ibnu Hibban mencantumkannya dalam kitab Ats-Tsiqāt. [1]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam hadis yang setema dalam kitab Musnad Ahmad disebutkan:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بَكْرِ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ ” قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: ” السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ “.[2]

Yazid telah menceritakan kepada kami, Abdul Malik bin Qudamah berkata telah memberitakan kepada kami, Ishaq bin bakr bin Abi Al Furat telah menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Abi Sa’id dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di dalamnya orang yang berdusta dipercaya sedangkan orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah sedangkan orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat Ar-Ruwaibidlah.” Ditanya, “Apa itu Ar-Ruwaibidlah wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang bodoh yang berbicara (memberi fatwa) dalam urusan manusia.”

Hadis ini terdapat pada kitab musnad Ahmad No. 7912. Dalam komentar pen-tahqiq yaitu, Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengatakan kalau hadis diatas statusnya sebagai hadis hasan namun, sanadnya dhaif karena ada salah satu perawi yakni Abdul Malik bin Qudamah yang dinilai dhaif dan Ishaq bin Bakr yang dinilai majhul. Status sebagai hadis hasan disematkan karena adanya jalur lain dari Anas bin Malik yang menjadi Syawahid atas hadis dari Abu Hurairah.[3] Berikut hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً، يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ”. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: “الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ”.[4]

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah bersabda, “Sebelum munculnya Dajjal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu, sehingga orang jujur didustakan sedangkan pendusta dibenarkan. Orang yang amanat dikhianati sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para ruwaibidhoh angkat bicara”, ada yang bertanya, apa itu ruwaibidhoh?, Rasulullah bersabda, “Orang fasik yang ia berbicara tentang persoalan publik”

Menurut sebagian Syarih hadis bahwasannya yang dimaksud Ruwaibidhah adalah:

وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ , قَالَ: ” الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ ”  التافه: قليل العلم.[5]

Siapakah Ar-Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang rendah (remeh) yang berbicara mengenai urusan masyarakat umum.” At-tafih yaitu orang yang sedikit ilmunya (kurang berilmu).

هُوَ الرَّجُلُ التَّافَةُ الْحَقِيرُ ينطق في أمور العامة، (لأنه) لَيْسَ بِأَهْلٍ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِي أُمُورِ الْعَامَّةِ، فَيَتَكَلَّمُ.[6]

Ia adalah seorang laki-laki yang hina dan rendah nilainya, yang berbicara tentang urusan-urusan masyarakat umum, padahal ia bukan orang yang layak untuk berbicara dalam urusan-urusan masyarakat. Namun, ia tetap berbicara tentangnya

والتافه: الخسيس الحقير، والمراد أن أدعياء العلم المقلدين الحاسدين صاروا يتكلمون في ذم إمام.[7]

At-tafih adalah orang yang rendah, hina, dan tidak bernilai. Yang dimaksud adalah bahwa orang-orang yang mengaku-ngaku berilmu, yang hanya bertaklid dan dipenuhi rasa hasad (dengki), telah mulai berbicara untuk mencela seorang imam.

Perkara Harus Diserahkan pada Ahlinya

Hadis-hadis di atas sejatinya mengerucut pada pembahasan yang sangat krusial pada tatanan keilmuan. Turut sertanya orang yang tidak kompeten dalam segala urusan akan mengakibatkan porak-porandanya hal yang ia tangani. Dalam sebuah hadis lain disebutkan tentang urgensi dari kepakaran dalam sebuah urusan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ» قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.[8]

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:”Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat.”

Sejatinya kepakaran dalam segala urusan adalah hal yang sangat penting dan tidak boleh diremehkan. Prinsip meritokrasi harus dijunjung setinggi tingginya jika ingin hal yang diurusi menjadi maksimal selesainya dan dapat dipertanggungjawabkan. Lahirnya ruwaibidhah dalam dunia modern ini perlu dikritik dan dihilangkan karena akan sangat merugikan orang banyak jika orang yang tidak punya kompetensi keilmuan tapi diberi tanggung jawab apalagi pada masalah yang menanggung hajat orang banyak..


[1] ابن ماجة، سنن ابن ماجه، (القاهرة: دار إحياء الكتب العربية، بدون السنة)، 2\1339. رقم الحديث 4036.

[2]  أحمد بن محمد بن حنبل، مسند الإمام أحمد بن حنبل، (بيروت: مؤسسة الرسالة، 2001)، 13/291.

[3] أحمد بن محمد بن حنبل، 13/291.

[4] أحمد بن محمد بن حنبل، 21/25.

[5] صهيب عبد الجبار، الجامع الصحيح للسنن والمسانيد، (غير مطبوع)، 2/268.

[6] إبراهيم بن موسى بن محمد اللخمي،  الاعْتِصَام، (المملكة العربية السعودية: دار ابن الجوزي للنشر والتوزيع، 2008)، 3/100.

[7] محمد رشيد بن علي رضا، رسائل السنة والشيعة لرشيد رضا، (القاهرة: دار المنار، 1947)، 1/121.

[8] محمد بن إسماعيل أبو عبدالله البخاري، صحيح البخاري، (بيروت: دار طوق النجاة، 2001)، 104/8


Penulis: Nurdiansyah, Santri Tebuireng

Editor: Sutan