KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), saat launching dan bedah buku dalam memperingati haul Gus Sholah.

Oleh: KH. Abdul Hakim Mahfudz*

Saya mulai berinteraksi dengan KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) sejak tahun 2009, sejak beliau menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng ini. Beliau mengumpulkan semua dzuriyah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk diajak bersama-sama untuk memikirkan Pesantren Tebuireng.

Saat itu, Gus Sholah mengajak semua keluarga untuk ikut terlibat memikirkan Pesantren Tebuireng, dan yang saya amati keluarganya bersama kawan-kawan kolega dan lain sebagainya itu mengajak juga untuk beraktivitas bersama-sama di dalam memikirkan bangsa dan negara ini, bidang-bidang sosial politik beliau geluti. Dan itu menjadi inspirasi bagi kita, itu menjadi contoh tauladan yang harus kita lanjutkan.

Bagi saya paling tidak yang ada di Pesantren Tebuireng ini, begitu banyak hal-hal yang monumental dari bangunan-bangunan, pemikiran-pemikiran, yang sudah dirintis kemudian sampai pada tahap-tahap akhir, dan beliau tidak pernah berpikir apa yang beliau dapatkan dari apa yang dilakukan itu.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa, kalau saya melihat, hanya keikhlasan yang dilakukan. “Yang penting saya melakukan yang baik. Saya gak tahu itu soal sukses berhasil atau tidak.” Hal ini menjadikan pembelajaran bagi masyarakat umum. Dan itu satu keikhlasan yang membutuhkan satu pemahaman yang luar biasa terhadap agama ini.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Jadi, memang ada salah satu ulama yang menyampaikan bahwa Gus Sholah itu mengamalkan ilmu agama itu dengan luar biasa, tidak hanya memahami tapi mengamalkannya dengan luar biasa.

Banyak hal yang memang dilakukan tanpa berpikir apa yang dilakukan dari apa yang dilakukan itu ini menjadi inspirasi bagi kita semua terutama bagi saya.

Saya akan melanjutkan apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah ditinggalkan. Dan hal yang sama, kita hanya berpikir apa yang bisa menjadikan manfaat untuk orang banyak. Dan ini menjadi satu kebanggaan tersendiri.

Satu warisan budaya dari keluarga besar Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, yang diturunkan kemudian kepada putra-putranya terutama KH. Wahid Hasyim dan kemudian diturunkan juga dan diamalkan oleh KH. Abdurrahman Wahid dan kemudian yang terakhir KH. Salahudin Wahid.

Ini merupakan satu fondasi yang harus dilanjutkan oleh seluruh keluarga besar dzurriyah KH. Hasyim Asyari. Begitu banyak informasi yang menjadi inspirasi tadi,  bagi Gus Sholah tidak ada kebanggaan yang didapat, tidak ada kebanggaan yang ditonjolkan, semuanya dilakukan dengan keikhlasan.

Saya tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada seluruh kolega, kawan-kawan, dan siapa pun yang selama ini selalu bersama dengan almaghfurlah KH. Salahuddin Wahid, yang telah bekerja keras, berjibaku, bahkan di dalam ikut membesarkan Pesantren Tebuireng sehingga sekarang.

Saat ini kita bisa melihat dan bisa menyaksikan banyak hal yang sudah dilakukan untuk mengembangkan Pesantren Tebuireng ini. Itulah yang saya sampaikan, mudah-mudahan manfaat bagi kita semua.

Wallahul muwafiq ilaa aqwamitthoriq…

*Pengasuh Pesantren Tebuireng.

**Disampaikan dalam acara launching dan bedah buku “Gus Sholah, Sang Arsitek Pemersatu Umat” haul pertama KH. Salahuddin Wahid, pada Selasa (02 Februari 2021) di Pesantren Tebuireng Jombang.

Ditranskip oleh: Devi Yuliana

SebelumnyaBuku “Gus Sholah, Sang Arsitek Pemersatu Umat” Layak Dijadikan Manaqib KH. Salahuddin Wahid
BerikutnyaImam Partogi, Seorang Kristiani Kagumi Sosok Gus Sholah