Launching dan bedah buku dalam memperingati haul pertama KH. Salahuddin Wahid, Selasa (2/2/2021). (foto: dianbagus)

Tebuireng.online— Salah satu rangkaian acara dalam memperingati Haul pertama KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) adalah launching dan bedah buku “Gus Sholah, Sang Arsitek Pemersatu Umat”. Buku tersebut menjelaskan tentang berbagai macam sudut pandang orang-orang terhadap sosok Gus Solah.

Beberapa isi dalam buku tersebut adalah bentuk pujian dan kritik tentang sosok Gus Sholah. Salah satu tokoh yang menyampaikan hal itu adalah adik Gus Sholah, Umar Wahid.

“Gus Solah itu tidak punya peran politik blas (sama sekali). Bikin partai PKNU gagal. Mencalonkan wakil presiden juga tak sampai. Tapi dari situ ada sikap etis yang ditularkan kepada masyarakat, saat mencalonkan jadi wakil presiden beliau mengundurkan diri dari PBNU dan Komnas HAM. Tak perlu menunggu penghitungan suara baru ambil keputusan. Saat jadi calon pun sudah ambil keputusan. Terlihat beliau sangat berupaya untuk tidak menghidupkan api fitnah,” ungkap Umar Wahid.  

Selain itu, Bu Lilik Wahid juga memberikan komentar tentang sosok Gus Sholah. Menurutnya, pada mulanya waktu muda Gus Solah adalah sosok yang elitis. Hal tersebut dinilai wajar, dengan latar belakang Gus Sholah sebagai arsitek dan pebisnis.

“Pergaulan beliau (baca: Gus Sholah) lebih berkutat pada kolega kerja, teman bisnis, dan orang-orang perkotaan. Intonasi pidatonya juga datar, tidak banyak bicara.  Sangat berbeda dengan Gus Dur yang sangat populis. Dengan bekal gaya bicaranya yang santai terkesan guyon. Gus Dur menjadi sosok yang dikenal banyak orang. Kemudian, sosok Gus Solah menjadi populis, ketika menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng,” ungkapnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam kesempatan itu, Lilik Wahid juga menceritakan bahwa banyak tamu-tamu yang ditemui oleh Gus Sholah, baik di Tendean atau di Ndalem Kasepuhan.

“Beliau telah menjadi sosok yang lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mulai dari kalangan NU, Muhammadiyah, Ansor, PMII, umat Kristen, beliau mendengar mereka,” imbuhnya.

Menurut editor sekaligus penulis buku “Gus Solah, Sang Arsitek Pemersatu Umat”, Saifullah Ma’shum mengungkapkan, manaqib-manaqib tentang Gus Sholah banyak yang telah ditulis dalam buku ini.

“KH. Salahudin Wahid benar-benar seorang arsitek, profesinya juga arsitek. Sekaligus juga sosok yang mendesain persatuan umat. Khususnya umat Islam di Indonesia,” ungkap Saifullah Ma’shum.

Hal itu, menurutnya terlihat dari bagaimana berbagai tindakan Gus Sholah yang berupaya dalam menyatukan seluruh umat Islam, tanpa ada sekat perbedaan aliran. Yang ditunjukkan dari keterbukaan beliau terhadap berbagai aliran. Seperti suatu hari beliau menghadiri Majelis Tafsir Al-Quran (MTA).

Buku yang dilaunching hari ini, Selasa (02/2/21) menggambarkan dengan jelas bahwa Gus Sholah merupakan figur yang jujur, loman, dan mempunyai sikap. Hampir seluruh kontributor mengakui bahwa Gus Sholah sangat membenci kebohongan dan sangat menjunjung tinggi kejujuran.

“Gus Sholah adalah sosok yang loman, bras bres soal uang. Yang unik beliau masih menampakkan diri beliau sebagai manusia biasa. Terlebih saat beliau bermain gitar sambil bernyanyi,” kenangnya.

Pewarta: Yuniar Indra

 

SebelumnyaRefleksi Setahun Kepergian Gus Sholah
BerikutnyaGus Sholah dalam Kenangan