Gus Kikin Telusuri Akar Al-Qānūn Al-Asāsī

87
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz saat berdiskusi terkait Qanun Asasi bersama pakar atau tokoh NU di aula Pesantren Tebuireng (foto: Ifa)

Tebuireng.online— Al-Qānūn Al-Asāsī bukan sekadar dokumen organisasi, melainkan puncak dari proses panjang transmisi keilmuan, pergulatan ideologis, dan strategi kebangsaan ulama Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia. Hal itu dikemukakan oleh KH. Abdul Hakim Machfudz, dalam Roundtable Discussion bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī” yang digelar Sabtu (14/2) di aula lantai 3 Gedung KH. Yusuf Hasyim, Pesantren Tebuireng, Jombang.

Baca Juga: Gus Rijal Tegaskan Pentingnya Kembali ke Ruh Qanun Asasi

Dalam sambutan Ketua PWNU Jawa Timur itu menegaskan, lahirnya Al-Qānūn Al-Asāsī tidak bisa dilepaskan dari mata rantai sejarah panjang perjuangan ulama Nusantara, sejak era perlawanan terhadap kolonialisme hingga konsolidasi pemikiran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia mengawali paparannya dengan menempatkan perjuangan keagamaan dalam konteks kebangsaan. Menurutnya, perjalanan bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran para tokoh besar yang menggabungkan perjuangan fisik, intelektual, dan spiritual. Salah satu figur sentral adalah Pangeran Diponegoro, yang perlawanan militernya juga ditopang oleh jaringan ulama.

“Di balik perang besar itu ada ulama yang memberikan pemahaman dan arah,” ujarnya, merujuk pada peran Syekh Nawawi Al-Bantani. Setelah penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda, Syekh Nawawi kembali ke Makkah dan memperdalam keilmuan hingga menjadi ulama besar dunia Islam. Pemikiran inilah, menurut KH. Abdul Hakim Machfudz, yang kemudian diwariskan kepada murid-muridnya, termasuk Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Prof. Muhibin Zuhri Pertegas Relasi NU, Pesantren, dan Keindonesiaan

Pengasuh Pesantren Tebuireng itu menjelaskan, bahwa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menempuh jalur perjuangan yang berbeda. Sepulang dari Makkah pada 1899, beliau tidak memilih perlawanan frontal, melainkan menyusun strategi jangka panjang melalui pendidikan pesantren dan penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah. Langkah ini diambil dengan membaca situasi kolonial yang mulai berubah, terutama sejak Belanda menerapkan Politik Etis pada awal abad ke-20.

“Beliau sangat paham bagaimana menghadapi Belanda. Maka yang dibangun adalah basis umat yang kokoh, berilmu, dan memiliki kesadaran kolektif,” jelasnya.

Situasi umat Islam, lanjutnya, semakin kompleks dengan munculnya berbagai organisasi dan perbedaan paham. Sarekat Islam yang semula menjadi wadah pergerakan umat, mengalami gesekan internal hingga perpecahan pada awal 1920-an. Kondisi ini membuat umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah kehilangan ruang representasi yang solid.

Dalam konteks itulah Hadratussyaikh menulis karya-karya penting, seperti Risalah Ahlussunnah wal Jamaah dan Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Kitab-kitab tersebut bukan hanya teks keagamaan, melainkan respons ideologis atas masuknya berbagai aliran yang dinilai membingungkan umat dan menggerus tradisi keilmuan pesantren.

Baca Juga: Bedah Genealogi Al-Qānūn Al-Asāsī, Kiai Abdul A’la Ulas Transformasi NU Lintas Zaman

“Karya-karya itu ditulis untuk mengokohkan iman, adab, dan arah umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah di tengah situasi yang terpecah,” tutur KH. Abdul Hakim Machfudz.

Konsolidasi ulama pesantren yang berlangsung sepanjang 1923–1925 akhirnya bermuara pada lahirnya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926. NU, menurutnya, hadir sebagai jawaban atas kebutuhan umat akan persatuan, sekaligus sebagai strategi kebangsaan dalam menghadapi tekanan kolonial, termasuk kebijakan Belanda seperti ordonansi perkawinan dan guru liar yang sangat membatasi aktivitas keagamaan.

Ia menambahkan, Al-Qānūn Al-Asāsī kemudian menjadi fondasi ideologis NU dalam menata perjuangan keumatan: menyatukan ulama, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, dan merespons dinamika global tanpa kehilangan akar pesantren.

Menutup sambutannya, KH. Abdul Hakim Machfudz menekankan bahwa tujuan utama persatuan umat Islam sebagaimana dirumuskan dalam Al-Qānūn Al-Asāsī adalah mencari rida Allah melalui ukhuwah.

Baca Juga: Tebuireng Hadirkan Pakar NU, Bedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī

“Persatuan umat bukan semata urusan organisasi atau politik, tetapi jalan spiritual yang membimbing bangsa ini hingga mampu meraih kemerdekaan dan menjaga keberlangsungannya,” pungkasnya.

Roundtable Discussion ini diikuti puluhan pakar dan cendekiawan NU sebagai bagian dari upaya membaca ulang warisan pemikiran ulama, agar tetap relevan dalam menjawab tantangan keislaman dan kebangsaan di masa kini.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary