NU Didirikan untuk Merespons Guncangan Peradaban Islam Global

85
Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, menegaskan bahwa NU tidak sekadar lahir untuk merespons dinamika lokal atau nasional pada Roundtable Discussion bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī”. Sabtu (14/02/2026). Foto: Fatih

Tebuireng.online– Penjelasan baru mengenai latar belakang kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) mengemuka dalam Roundtable Discussion bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī”. Diskusi yang mempertemukan puluhan pakar NU ini digelar oleh Pesantren Tebuireng bersama Tebuireng Institute di Aula Gedung KH Yusuf Hasyim, kompleks Pesantren Tebuireng, Sabtu (14/02/2026).

Dalam forum tersebut, sejarawan dan peneliti manuskrip Islam Nusantara, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, menegaskan bahwa NU tidak sekadar lahir untuk merespons dinamika lokal atau nasional. Lebih jauh, NU hadir sebagai jawaban strategis atas perubahan besar tatanan peradaban dunia Islam di tingkat global.

Berdasarkan penelusuran arsip dan manuskrip sejarah, Dr. Ginanjar mengungkapkan bahwa pendirian NU pada 31 Januari 1926 terjadi secara mendesak sebagai respons atas runtuhnya otoritas Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di berbagai belahan dunia.

Ia menguraikan rentetan peristiwa internasional yang krusial: mulai dari runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani pada 1924 yang beralih menjadi negara sekuler, hingga pergeseran orientasi di Universitas Al-Azhar, Mesir. Puncaknya adalah jatuhnya wilayah Hijaz (Makkah dan Madinah) ke tangan kekuasaan baru pada Januari 1926.

“Hanya berselang dua pekan setelah ulama Aswaja di Makkah berbaiat kepada penguasa baru di Hijaz, NU didirikan di Surabaya. Ini bukan kebetulan sejarah. Ketika pusat-pusat Aswaja global runtuh dan terfragmentasi oleh kolonialisme, NU lahir untuk menyelamatkan dan menjaga panji Aswaja dari Nusantara untuk dunia,” tegas Dr. Ginanjar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ginanjar menyebut fenomena ini sebagai sirr minal asrar (rahasia di balik rahasia). Saat wilayah Islam lain seperti Maghrib (Maroko) dan Syam terpecah oleh kolonialisme Prancis dan Inggris, Nusantara tetap utuh secara geopolitik meski di bawah penjajahan Belanda. Kondisi inilah yang memungkinkan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari merumuskan Al-Qānūn Al-Asāsī sebagai fondasi ideologis yang menjaga kemurnian ajaran sekaligus pemersatu bangsa.

Peran Hadratussyaikh juga disorot sebagai wadi‘ labinah istiqlal Indonesia, peletak dasar dan perekat kemerdekaan NKRI. Hal ini membuktikan bahwa visi NU sejak awal bersifat dwi-tunggal: menjaga otoritas keagamaan global dan memperjuangkan kedaulatan nasional.

Perjuangan NU ditegaskan tidak berhenti pada pembentukan Komite Hijaz. Dr. Ginanjar memaparkan fakta sejarah yang jarang diketahui publik mengenai eksistensi tokoh-tokoh NU di Makkah pada era 1930-an, termasuk peran Nyai Khairiyah Hasyim yang mendirikan sekolah putri pertama di Saudi Arabia.

Menutup pemaparannya, Dr. Ginanjar menekankan pentingnya regenerasi peneliti sejarah di lingkungan Nahdliyin yang tekun mempelajari arsip primer. “NU membutuhkan generasi muda yang fokus meneliti manuskrip. Dari situlah kita bisa memahami jati diri NU secara utuh dan saintifik,” pungkasnya.

Diskusi ini menegaskan kembali kedudukan NU sebagai organisasi yang memiliki akar sejarah internasional yang kuat, sekaligus menjadi penjaga terakhir peradaban Islam moderat di dunia.

Baca Juga: Gus Rijal Tegaskan Pentingnya Kembali ke Ruh Qanun Asasi


Pewarta: Albi

Editor: Sutan