
Tebuireng.online– “Urusan sampah bisa tampak sederhana, tetapi sebenarnya masalah besar,” ungkap Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz, saat menanggapi dukungan dari Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia terhadap program pengelolaan sampah di Pesantren Tebuireng, pada Jumat (8/11/2025) di Ndalem Kasepuhan Tebuireng.
Menurut Ketua PWNU Jatim yang akrab disapa Gus Kikin tersebut, persoalan sampah kini menjadi isu serius seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Dahulu, kata beliau, sampah mungkin masih dianggap sepele karena jumlahnya sedikit, namun kini hampir di seluruh dunia menjadi masalah besar yang menuntut perhatian dan penanganan yang serius.
Baca Juga: Coca-Cola Europacific Partners Indonesia Serahkan Bantuan Videotron untuk Pesantren Tebuireng
“Manusia adalah penghasil sampah yang sangat aktif. Maka, penanganannya juga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan,” tegasnya.
Beliau juga menyoroti fenomena bahwa semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.
“Kalau zaman dulu makan pas-pasan, ya tidak ada sampah. Tapi sekarang, apalagi kalau makan di restoran, sampahnya luar biasa banyak,” tutur Gus Kikin sembari menekankan pentingnya kesadaran kolektif terhadap lingkungan.

Lebih jauh, Gus Kikin menegaskan bahwa program pemilahan sampah di Pesantren Tebuireng tidak hanya sekadar upaya menjaga kebersihan, tetapi merupakan bagian dari proses pendidikan karakter santri. Melalui kegiatan ini, para santri dilatih untuk bertanggung jawab, disiplin, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Baca Juga: P3M Jadi Jembatan antara Pesantren Tebuireng dengan Perusahaan Coca-Cola
“Membangun karakter santri juga bagian dari desain pendidikan pesantren. Semua anak dan semua orang di lingkungan Tebuireng diharapkan ikut berperan aktif membangun karakter itu melalui kegiatan pemilahan sampah,” jelasnya.
Program pemilahan sampah di Pesantren Tebuireng sendiri telah dimulai sejak awal Oktober 2025. Namun demikian, Gus Kikin menilai perlu adanya evaluasi rutin agar program ini terus berkembang dan mampu memberikan hasil yang optimal.
“Pengelolaan sampah ini harus kita evaluasi terus, sampai pada titik di mana hasilnya bisa dimaksimalkan. Kalau ini bisa menjadi solusi yang komprehensif, bukan tidak mungkin Tebuireng bisa menjadi model pengelolaan sampah tingkat nasional, bahkan internasional,” tegasnya.
Melalui kolaborasi antara Pesantren Tebuireng, Pusat Pengembangan Pengelolaan Pondok dan Masyarakat (P3M), dan Coca-Cola Europacific Partners Indonesia, Gus Kikin berharap program pengelolaan sampah ini tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari dakwah ekologis dan pendidikan karakter yang berkelanjutan di dunia pesantren.
Baca Juga: BANK SAMPAH TEBUIRENG (BST)
Pada saat menerima kunjungan itu, Gus Kikin didampingi beberapa dzurriyah Pesantren Tebuireng serta Direktur Bank Sampah Tebuireng (BST), Ahmadz Faozan. Kunjungan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus penandatanganan dan serah terima bantuan Videotron dari Coca-Cola Europacific Partners Indonesia yang diwakili oleh Lucia Karina, serta KH. Sarmidi Husna selaku Direktur P3M.
Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















