Gugur Pahlawanku

89
Sebuah ilustrasi gugurnya pahlawan (sumber: orami)

Gugur Pahlawanku
berdenging, berdebu
berhamburan peluru
langit menghitam
tanah memerah

air mata menjadi populasi
darah menjadi pupuk paling mendominasi
roket melawan bambu
sedang artileri dengan celurit

pesawat diburu ketapel
sedang baju perang dengan selendang pudar
pertarungan antara gema takbir dengan kompi para marinir
antara teknologi dan bambu runcing

hilir mudik deru suara mesin kocar-kacir bersambut suara zikir
satu timah menusuk dada
nan gagah tembus dengan sempurna
gugur bunga layu
gugur pahlawanku


Memori Mengerikan
Antara baret dengan peci
antara tank dengan truk pengangkut sapi
pesawat tempur dengan tambur-tambur padi

intruksi Mallaby melawan intruksi Kiai
harmonika yang tak pernah menemukan sinkronisasi
arus berbeda yang tak pernah kenal negosiasi
dan jalan pulang yang tak kenal kata damai

curam, menikam, menusuk tak saling bungkuk
beradu gagah dengan timbangan yang tak pernah seukuran
dilema antara kembang yang mekar
dan pucuk ubun-ubun

tanah yang harum
ataukah tanah yang mengubur

pilu, bisu, dan mencekam
menjadi catatan memori paling mengerikan
sepanjang hayat sepanjang sejarah

anak cucu yang tumbuh
harumlah nama leluhurmu mekar mewangi
dalam negeri dan surga abadi


Rekaman Jejak
Tentang kelopak mata
yang telah mampu menerjemahkan
melampaui pandang
tidur panjang yang telah menemukan ujung

cerita kelamnya pagi kala itu
dan cerahnya pagi di hari ini
tungku-tungku pawon khas tanah liat mengepul
sedikit menghitam tapi menenangkan

aroma asap kayu dan serbuk kopi
juga mesranya sayur ladang bertumpuk ubi
sepiring nasi jagung dan tayangan radio lokal
menjadi harmoni mesra sedap kala dipandang

burung-burung bernyanyi meriuhkan
dan langkah para petani yang enggan takut menyemai
seperti asa yang dulu pernah tergadai di medan laga
membahagiakan setiap telinga yang mendengar

menghangatkan dinginnya senyuman
mencairkan sudut bibir

yang telah lama hilang
dihantam perang, petaka dan nestapa
putik kini telah tumbuh

asa yang telah disemai
harapan yang telah menemukan sinarnya
kemerdekaan yang telah berbuah nyata
rekaman jejak pejuang bangsa



Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online