Garis Air Mata Santri

sumber gambar: www.google.com

Oleh: M. Zulfikri*

Malam ini, tepat sehari sebelum santri dipulangkan ke rumah masing-masing. Kulihat santri yang lain mempersiapkan dirinya untuk kembali ke rumah, merapikan lemari, membungkus pakaian, mengatur pakaian yang akan dibawa pulang. Sedangkan aku hanya terdiam dekat lemariku.

Aku hanya menyaksikan mereka, sebab aku tak bisa kembali ke kampung halaman karena aku tak mau membawa virus dan menularkan kepada orang-orang yang ada di kampung halamanku.

Aku Maulana, seorang santri yang berasal dari timur Indonesia, sedang menimba ilmu disalah satu pondok pesantren yang ada di Jawa Timur.

Sudah 1 bulan ini virus corona mewabah di Indonesia. Khususnya di pulau Jawa, telah mendapati zona merah. Menurut berita berita yang kubaca, orang yang berada di zona merah dianjurkan untuk tidak keluar dari zona tersebut. Sialnya aku tak bisa pulang ke kampung halaman.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kamu ga pulang ?” tanya salah satu temanku sambil melipat pakaiannya.

“Aku gak bisa pulang. Aku takut membawa virus ke keluargaku.” jawabku.

Temanku lanjut meringkasi pakaiannya. Aku berpikir, apa yang harus aku lakukan nanti di pondok. Teman-temanku akan pulang semuanya ke kampung halaman mereka.

Para ustadz juga tidak datang ke pondok, sebab aktivitas mengaji kitab setiap malam diliburkan. Tak mau memikirkan itu, aku mencoba terlelap dalam tidurku.

Bel kamar berbunyi, para santri dibangunkan untuk shalat Subuh. Semuanya segera bersiap berkumpul di mushala. Setelah selesai menunaikan shalat Subuh.

Para santri kembali ke kamar, dan nanti jam 8 pagi akan dilakukan pelepasan kepulangan santri. Tibalah waktu yang ditunggu. Para santri telah berkumpul di depan pondok, orang tua mereka datang untuk menjemput anaknya.

Kiai tidak memperbolehkan santri pulang dengan angkutan umum, jadi orang tua mereka telah dihubungi sebelumnya untuk penjemputan. Orang tuaku juga sudah diberitahu, tapi jarak memaksaku untuk tetap di pondok.

Kiai mendoakan mereka agar selamat sampai di rumah. Setelah berdoa, mereka berpamitan ke kiai dan tentu saja kepadaku, satu-satunya santri yang terisisa di pondok. Sedih, melihat temanku berpamitan. Aku ingin juga seperti mereka.

“Jagain pondok ya Mul.” ucap temanku berpamitan kepadaku.

“Oke, kamu juga hati-hati di jalan, semoga selamat sampai rumah.” kataku sambil bersalaman dengannya.

Setelah mereka semua pergi, aku masuk ke kamar. Sunyi, sedih rasanya, tak ada lagi suara canda tawa teman-teman, tak ada lagi suara ngaji, yang tersisa hanya sunyi yang menemaniku.

Aku bingung, apa yang harus aku lakukan di pondok sendirian? Pagi ini kuputuskan untuk tidur kembali. Terlelap dalam tidurku, akhirnya aku dibangunkan oleh kiai yang mengingatkan untuk shalat Dzuhur.

Aku segera bangun dari tidurku dan mengerjakan shalat. Setelah selesai shalat, aku mengambil hapeku, melihat informasi yang ada di intenet, ternyata sudah banyak orang yang terinfeksi virus ini.

Setelah melihat informasi itu aku semakin takut untuk pulang. Takut terkena virus ini dan menularkan kepada orang tuaku. Bagaimana jadinya kalau aku pulang dan menularkan virus itu ke keluargaku, secara tidak sadar aku telah membunuh mereka.

🤔  Hikmah Wabah Corona

“Krruuukkk…” perutku berbunyi, ternyata aku dari tadi pagi belum makan. Sampai lupa waktu, karena biasanya kalau makan ramai ramai dengan teman-teman yang lain dalam satu wadah, sekarang tak ada lagi mereka.

Aku rindu suasana itu. Suasana makan bareng. Kini aku makan sendirian, sesudah makan, aku kembali ke kamar. Baru sehari aku di pondok sendirian, bosan rasanya.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi untuk mengusir rasa kebosanan ini. Malam telah tiba, setelah selesai shalat Isya, kulihat ada yang menelpon di hapeku.

“Assalamualaikum, Mul.” sapanya mengawali.

“Waalaikumussalam…” kataku menjawab salamnya.

“Kamu sudah sampai rumah?” tanyaku padanya.

“Iya. Alhamdulillah sudah Mul. Kamu ngapaian aja di pondok?”

“Bosan banget, gak ada teman ngobrol.” jawabku singkat.

“Kamu ngobrol aja sama lemari. Hahaha…” ejeknya padaku sambil tertawa.

“Eh udah dulu ya Mul, aku mau tidur, capek.” kata temanku sambil menutup telepon. Setelah ditelpon temanku. Aku juga langsung tidur.

Aku terbangun jam empat subuh. Segera aku mebersihkan diri dan menunaikan shalat Subuh. Setelah shalat aku mengambil Al-Quran dan mengaji.

Aku juga membaca kembali kitab-kitab yang sudah dipelajari sebelumnya, membaca buku. Hanya ini kegiatan yang mengisi hari-hariku di pondok.

Tak terasa sudah jam 8 pagi. Ketika aku sedang membersihkan kamar, kiai menghampiriku yang sedang merapikan buku-buku di lemari. Lalu kiai bertanya padaku.

“Nak, apa kamu tidak bosan sendirian disini?” tanya kiai padaku.

“Iya bosan Yai, gak ada teman ngobrol seperti biasanya,” jawabku menatapnya.

“Yang sabar ya nak, jadikan ini sebagai bentuk ikhtiarmu, sebagai bentuk perlawanan dalam memerangi virus ini, tetap bersabar, terus berdoa kepada Allah. semua pasti akan berlalu.”

Setelah kiai memberi nasihat padaku, aku jadi tersadar bahwa virus ini memberi kebaikan padaku, aku jadi rajin membaca buku dan kitab yang ada. Virus ini mengajarkanku artinya rasa syukur dan sabar.

Bersyukur dan bersabar karena dengan adanya virus ini aku lebih rajin membaca karena harus tetap di pondok dan tidak bisa beraktivitas di luar rumah. Banyak hikmah yang bisa aku ambil dari mewabahnya virus corona, tentu saja dengan terus bersyukur dan bersabar mengahadapi pandemi ini.

Aku selalu berdoa kepada Allah agar cobaan ini segera berlalu. Aku juga mendoakan orang tua dan teman-temanku agar dilindungi dari virus ini.

“Tuhan, berilah kami perlindungan. Beri kami kemampuan untuk mengambil hikmah dari cobaan yang sedang melanda kami. Allah… Lindungi orang tua kami, teman-teman, guru-guru, serta semua umat di dunia ini. Selamat kami semua.” doaku terhatur kepada Tuhan.

Air mata tak terasa menetes, aku benar-benar rindu keluarga, teman, dan semua hal yang tidak sesunyi ini.

“Semoga Ramadan kami indah, Tuhan.” gumamku dengan isak yang masih menyesakkan dada.

*Mahasiswa Unhasy Tebuireng Jombang.