
Tak dapat dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti menemukan seseorang yang merasa terganggu ketika melihat orang lain sukses. Bukannya ikut senang, ia malah meremehkan, menghambat, atau bahkan menjatuhkan. Sikap seperti ini dikenal dengan crab mentality.
Istilah crab mentality berasal dari perilaku kepiting di dalam ember. Ketika ada satu kepiting yang hampir keluar, kepiting lain justru menariknya kembali, sehingga tidak ada yang berhasil naik. Itulah gambaran orang yang tidak senang melihat orang lain maju dan lebih unggul darinya. Jika dirinya tidak berhasil, maka orang lain juga tidak boleh berhasil. Fenomena crab mentality dapat muncul di berbagai tempat, baik di sekolah, lingkungan kampus, kantor, organisasi, bahkan lingkungan rumah.
Baca Juga: Tall Poppy Syndrome, Fenomena Sosial yang Memicu Kebencian dan Ejekan
Crab mentality biasanya tumbuh karena beberapa faktor, di antaranya: Iri hati ketika melihat orang mendapat sesuatu yang tidak kita dapat merasa kurang dengan dirinya sehingga kesuksesan orang lain dianggap ancaman, takut tersaingi sehingga ingin orang lain tetap dibawahnya. Ciri-cirinya pun jelas seperti menghalangi kemajuan orang lain, tidak mau mendukung atau merayakan keberhasilan orang lain, fokus pada kekurangan atau kegagalan orang lain dan Senang merendahkan pencapaian orang lain.
Crab Mentality dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, sifat ini merupakan bagian dari akhlak tercela yang sangat dilarang karena mengandung unsur iri dan hasas terhadap orang lain. Rasulullah saw. memperingatkan bahaya hasad dalam sebuah hadis:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ عَمْرٍو، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ – أَوْ قَالَ: الْعُشْبَ –
“Dari Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: hati-hatilah kalian dari sifat dengki, karena dengki dapat menghabiskan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” ( Imam Abi Dawud, Sunan Abi Dawud, maktabah Al isriyyah, Beirut, Juz 4, hal 276)
Dalam Syarah nya, hadis ini dikategorikan mubham karena rowi جده tidak diketahui jelas siapa orangnya, namun ada beberapa hadis pendukung lain dari kitab lain, sperti kitab Adabul Mufrod:
جده لا يعرف، أي: أنه مجهول، وهو هنا مبهم غير مسمى، أخرج له البخاري في الأدب المفرد وأبو داود
(Abdul Muhsin bin Hamad Al- abbad, Syarah sunnan Abi Dawud, aplikasi turoth.io, halaman 558)
Baca Juga: Bahaya FYP dan Algoritma: Bagaimana Media Sosial Menggerus Kebebasan Berpikir
Imam Abdul Muhsin Al abbad Dalam Syarah sunan Abi Dawud menjelaskan hasad terbagi menjadi dua jenis: ghibṭah dan hasad yang tercela.
- Ghibṭah: Hasad yang Terpuji
Ghibṭah adalah rasa senang ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, namun tetap berharap memiliki yang serupa tanpa mengurangi nikmat orang tersebut. Misalnya, seseorang melihat tetangganya mendapatkan rezeki berlimpah, lalu berharap agar dia pun mendapatkan rezeki yang sama, tanpa ingin nikmat tetangganya hilang. Inilah bentuk hasad yang terpuji karena tidak merugikan orang lain. Nabi Muhammad menyebutkan, hanya ada dua jenis hasad yang bisa dianggap “tidak tercela”, dan ghibṭah termasuk salah satunya.
- Hasad yang Tercela (Hasad Madmum)
Hasad yang tercela terjadi ketika seseorang berharap nikmat orang lain hilang. Orang seperti ini tidak senang melihat kebaikan tetap ada pada orang lain dan berharap agar nikmat itu lenyap, baik nikmat tersebut datang kepadanya maupun tidak. Bentuk hasad ini jelas tercela dan haram, karena menimbulkan perasaan negatif dan bisa merusak hubungan sosial.(Abdul Muhsin bin Hamad Al- abbad, Syarah sunnan Abi Dawud, aplikasi turoth.io,halaman 558)
Sudah jelaskan diatas bahwa crab mentality merupakan sikap tidak senang dan iri serta tidak ingin orang lain sukses, otomatis crab mentality masuk kategori hasad madzmum yang haram hukumnya.
Selain itu, iri adalah dosa pertama di alam semesta sebagaiman perkataan Imam Ash-Shan’ani yang menukil pendapat ulama bahwa hasad adalah dosa pertama yang dilakukan makhluk Allah, yaitu ketika Iblis dengki kepada Adam:
كَانَ أَوَّلَ ذَنْبٍ عُصِيَ اللهُ بِهِ الْحَسَدُ، فَإِنَّهُ أُمِرَ إِبْلِيسُ بِالسُّجُودِ لِآدَمَ فَحَسَدَهُ فَامْتَنَعَ فَعَصَى اللهَ فَطَرَدَهُ
“Dosa pertama yang dilakukan kepada Allah adalah hasad. Iblis diperintahkan sujud kepada Adam, tetapi ia dengki kepadanya, lalu menolak, sehingga ia bermaksiat kepada Allah dan diusir.” (Imam as-son’ani, Subul as-Salām, Darul hadis Al qohiroh mesir, juz 4, hal 655)
Baca Juga: Fenomena Poppy Tall Syndrome di Tengah Masyarakat
Imam al-Ghazali menggambarkan bahwa orang yang memiliki sifat dengki tidak mendapatkan apa pun selain kerugian, baik di dunia maupun akhirat:
«إِنَّ الْحَاسِدَ لَا يَنَالُ فِي الْمَجَالِسِ إِلَّا نَدَامَةً، وَلَا يَنَالُ عِنْدَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا لَعْنَةً وَبُغْضَاءَ، وَلَا يَنَالُ فِي الْخَلْوَةِ إِلَّا جَزَعًا وَغَمًّا، وَلَا يَنَالُ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا حُزْنًا وَاحْتِرَاقًا، وَلَا يَنَالُ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا وَمَقْتًا»
“Orang yang dengki tidak mendapatkan apa pun dalam pergaulan kecuali penyesalan; tidak mendapatkan apa pun di sisi malaikat kecuali laknat; dalam kesendirian ia hanya memperoleh kegelisahan; dan di akhirat ia mendapatkan kesedihan dan siksa. Dari Allah ia tidak memperoleh apa pun kecuali jauh dari rahmat dan kemurkaan-Nya.” (Al-Masu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, aplikasi turoth.io, halaman. 274)
Cara menghindari perilaku crab mentality
Untuk menghindari diri dari perilaku buruk ini, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan:
- Fokus pada perkembangan diri sendiri
Alih-alih terlalu memperhatikan pencapaian orang lain, arahkan energi dan perhatian pada pertumbuhan pribadi. Tetapkan tujuan, kembangkan kemampuan, dan rayakan setiap kemajuan yang dicapai.
- Hentikan kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan
Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Membandingkan diri secara terus-menerus hanya menimbulkan rasa iri dan tidak sehat. Belajar menerima perjalanan hidup sendiri adalah kunci.
- Bina hubungan dengan lingkungan yang positif
Berada di sekitar orang-orang yang suportif dan inspiratif akan membuat kita lebih mudah merasa senang atas keberhasilan orang lain sekaligus termotivasi untuk berkembang.
Baca Juga: Life Traps: Kenali Jebakan Trauma Hidupmu!
- Latih rasa syukur dan apresiasi
Fokus pada hal-hal yang sudah dimiliki dan pencapaian yang sudah diraih membantu mengurangi rasa iri. Menulis jurnal syukur harian bisa menjadi salah satu caranya.
- Gunakan keberhasilan orang lain sebagai motivasi, bukan ancaman
Alih-alih merasa terancam, jadikan pencapaian orang lain sebagai inspirasi untuk meningkatkan kualitas diri sendiri.
- Perkuat empati dan kemampuan memuji orang lain
Belajar untuk tulus menghargai keberhasilan orang lain akan membantu mengikis sifat iri dan menciptakan hubungan sosial yang lebih sehat.
- Tetapkan standar dan tujuan pribadi
Memiliki visi dan tujuan jelas untuk diri sendiri membuat kita lebih fokus pada pertumbuhan diri daripada sibuk melihat kemajuan orang lain.
Penulis: Muhammad Fatkhun Ni’am
Editor: Rara Zarary


















