Doa yang Tak Lagi Aku Panjatkan

42
Sumber: tribunnews

Dulu aku memaksa langit untuk menjawab
mengiba agar semua berjalan sesuai maunya hati
tapi kini aku diam
karena ternyata, diam pun bisa jadi doa

Aku belajar
bahwa tidak semua yang tertunda itu hilang
Kadang Allah hanya menunggu waktu,
sampai aku benar-benar siap menerima yang kudamba
tanpa menggenggam terlalu erat.

Kini aku hanya berkata pelan:
“Ya Allah, jika bukan untukku,
jangan biarkan aku iri pada yang Kau beri.”


Perempuan yang Tidak Lagi Menuntut

Aku dulu ingin dikenal,
ingin dipuji, ingin dianggap “ada.”
Namun waktu membuatku paham
ketenaran tanpa keberkahan hanyalah bayangan yang haus sorotan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kini aku cukup dengan menjadi baik,
meski tidak disorot siapa-siapa.
Karena aku tahu,
kadang orang yang diam justru paling kuat menahan kecewa.

Aku tidak lagi menuntut panggung,
aku hanya ingin tenang di sujud yang panjang,
di tempat yang tak perlu tepuk tangan,
tapi penuh pandangan Allah yang lembut dan tahu segalanya.


Yang Tidak Dipilih, Tapi Tetap Menumbuh

Aku bukan bunga di taman yang ramai,
mungkin aku hanya rumput liar di pinggir jalan.
Namun, aku tetap tumbuh.
Tetap hijau, meski tak ada yang memuji.

Aku sadar,
tidak semua yang tak terlihat itu tidak berarti.
Terkadang, yang tidak dipilih manusia
justru sedang dijaga Allah dari ujian yang belum sanggup ditanggung.

Jadi biarlah aku di sini
menjadi saksi bahwa yang diam pun bisa berjuang,
yang disisihkan pun bisa bahagia,
karena aku tidak menunggu pengakuan,
aku hanya menunggu waktu terbaik dari Tuhan.



Penulis: Wan Nurlaila Putri

Editor: Rara Zarary