
Tidak Pulang dengan Tangan Kosong
Di usia ketika namaku lebih sering
ditulis di laporan kerja
daripada di buku nilai,
aku belajar satu hal:
bahagia orang tua
tidak selalu berbentuk hadiah,
kadang hanya kabar bahwa anaknya
baik-baik saja.
Aku berangkat pagi
membawa lelah yang tidak pernah mereka minta.
Aku pulang malam
menyimpan cerita agar mereka tak cemas.
Di meja makan,
aku tak lagi duduk sebagai anak kecil,
melainkan seseorang
yang sedang berusaha
menjadi cukup.
Aku tahu,
semoga doaku hari ini
mengganti lelah mereka dulu
saat menggendongku
tanpa upah apa pun.
Menahan Tangis
Aku pernah ingin menangis di pangkuanmu,
seperti dulu.
Tapi usia dewasa
mengajarkanku menelan air mata
agar tidak jatuh ke dadamu.
Kini, jika hidup menamparku keras,
aku hanya berkata,
“Alhamdulillah, aku baik.”
Bukan karena selalu kuat,
tapi karena tak ingin kau resah.
Aku bekerja,
bukan sekadar mencari hidup,
melainkan menjaga senyummu
tetap utuh.
Dan di tengah dunia
yang sering tidak adil,
aku bertahan,
agar kelak kau berkata pelan,
“Anakku tidak sia-sia.”
Doa yang Aku Sisipkan
Tuhan,
jika bahagiaku terlalu jauh,
cukupkan aku menjadi jalan
bahagia orang tuaku.
Biarlah lelah menemuiku lebih dulu,
asal senyum mereka
tiba lebih cepat.
Di usia dewasa ini,
aku tidak lagi meminta hidup mudah,
aku hanya ingin hidup
yang tidak membuat mereka
terlalu sering khawatir.
Setiap langkahku
kutitipkan namamu
dan nama mereka
dalam satu doa panjang.
Sebab bahagiaku, Tuhan,
adalah ketika orang tuaku
menutup mata dengan tenang
tahu bahwa anaknya
telah berusaha
sebaik mungkin.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















