Rangkuman 365 Hari

48
Ilustrasi perjalanan 365 hari (sumber: ai/ra)

Pada perjalanan kali ini, banyak sekali untaian doa yang terucap. Satu persatu selalu dikabulkan dengan versi terbaik-Nya. Mungkin sesekali sering tak sesuai dengan harapan yang terpanjatkan. Namun, mencoba untuk menerima adalah pilihan yang baik, bukan? Dan meyakini bahwa sesuatu yang belum kita sukai itu belum tentu yang terburuk bagi kita. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang kita sukai pun belum tentu itu adalah yang paling baik bagi kita. Meskipun seringkali mengeluh dan sealu bertanya kepada Allah tentang mengapa hidup berat ini berat sekali?, mengapa ini tidak sesuai dengan harapanku? Dan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan seoalh kita sedang meragukan apa yang tel;ah allah persiapkan yang terbaik untuk kita.

Baca Juga: Orang Asing di Akhir Cerita

Di awal perjalanan, aku merasakan ada sebuah rasa rela yang harus tercipta karena mungkin sudah tidak sepaham dan searah lagi. Kemudian, di langkah selanjutnya sebuah amanah itu diberiakan kepadaku. Amamah yang penuh makna akan pengabdian. Padahal rasanya aku tidak mampu untuk mengemban amanah tersebut. Menurut kalian, apakah aku harus menerima atau menolak sebuah amanah itu? Tentu saja ini pilihan yang berta tetapi mau tidak mau, suka ataupun tidak itu harus diterima dan harus di jalankan dengan sebaik mungkin.

Ketika telah menempuh di tengah perjalanan, misi besar itu telah tertuntaskan. Menyelesaikan apa yang telah dimulai. Tanggung jawab sampai akhir hayat. Dengan selalu melantunkan kalam-Nya. Tidak hanya itu, mengamalkan makna dari kalam-Nya lah yang paling berat. Ada satu misi yang paling besar dengan julukan ‘panggung keramat’ semoga bisa terwujudkan di tahun berikutnya. Di tengah perjalanan ini pula aku pertama memiliki peran baru; menjadi seorang moderator. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan karena bisa satu panggung dengan narasumber yang hebat dan inspiratif.

Masih di tengah perjalanan, aku juga mencoba berani untuk mengikuti seleksi MC Yudisium di kampus. Dan akhirnya, aku terpilih. Keingnanku menjadi MC Yudisium terwujudkan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Mendekati akhir perjalanan, aku bertemu dengan orang-orang yang selalu aku pinta kepada allah agar selalu kompak dan bersolidaritas tinggi, memahami sesama, saling rukun dan damai. Mereka berperan bukan hanya sebagai teman sekelompok dengan aku tetapi mereka adalah rumah bagi aku. Dan hingga saat ini mereka tak akan pernah usai.

Aku juga pertama kali melihat laut terbentang luas secara langsung, bermain dengan pasir, berkerjaran dengan ombak laut, menikmati riuhnya air laut yang terserta oleh angin. Merdu dan candu suaranya. Berisik namun menenangkan.

Baca Juga: Akhir dan Tahun Baru: Sebuah Refleksi dan Perbaikan Diri

Di akhir perjalanan, aku berkurang umur. Aku dirayakan oleh keluarga, saudara dan teman-teman. Sangat manis sekali. Namun, perayaan kebhagiaan itu tidak berlangsung lama. Ada sebuah kabar yang menyampaikan tentang ‘berita itu’ lagi. Seperti asap hitam pekat yang di akhir tahun. Menghantam sebuah keikhlasan yang dulu pernah aku bangun. Rasanya masih sulit sekali untuk mengikhlaskan sesuatu yang kita harapkan malah di berikan kepada orang lain, lebih tepatnya bukan orang lain melainkan kepada orang yang telah kita kenal.

Ternyata sangkaan itu benar adanya, dari awal aku menyangka sperti itu namun tetap saja penangkalan yang terjadi. Agaknya enak ya menelan ludah sendiri itu?. Silakan kalian jawab sendirilah. Aku sudah muak dengan hal ini.

Aku dihadirkan dengan seorang yang sebenarnya sudah bertemu di pertengahan jalan, namun di dekatkan menjelang akhir perjalanan. Sesorang yang selalu membantu aku, mendukung aku dan menjadi tempat bercerita, mendengarkan keluh kesah aku dan mampu sedikit demi sedikit menunjukkan arah perjalanan panjang. Aku tidak mengeri bagaimana kedekakatan ini terjadi, yang jelas dia mampu menciptakan ruang nyaman untuk saling belajar dan berbagi cerita satu sama lain. Entah itu untuk selamanya atau hanya untuk sementara saja.

Baca Juga: Renungan untuk Mereka yang Sedang Bingung Hidup

Kepada semua peran yang telah berpean apik dalam skenario 365 hari, terucap dengan tulus terimakasih karena telah memberikan banyak warna dalam langkah yang tak seberapa kuat ini. Semoga peran kalian menjadikan perantara aku unutk bisa belajar lebih baik lagi dan terus saling sama-sama memperbaiki diri lagi untuk menghadapi masa-masa yang akan mendatang



Pewarta: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary