
Aku bertemu dengannya pada masa ketika aku sedang tidak ingin jatuh cinta. Hidupku baru saja bangkit dari reruntuhan yang panjang: kelelahan batin, doa-doa yang sempat terasa hampa, dan kepercayaan diri yang compang-camping. Saat itu, aku hanya ingin bernapas—tanpa berharap siapa pun menolongku berdiri.
Lalu dia datang. Tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut apa pun.
Kami bertemu dalam keadaan yang sama-sama tidak utuh. Aku dengan luka yang belum sepenuhnya kering, dia dengan masa lalu yang masih sering hadir dalam diam. Tidak ada rayuan berlebihan, tidak ada janji besar. Hanya obrolan sederhana, tawa kecil, dan rasa aman yang tumbuh perlahan, hampir tanpa disadari.
Aneh rasanya. Untuk pertama kali, aku merasa dicintai tanpa harus menjadi versi terbaik dari diriku. Aku boleh lelah. Boleh diam. Boleh rapuh. Dan dia tetap tinggal, setidaknya, begitu yang kupikirkan.
Di situlah aku mulai takut.
Takut karena rasa ini datang terlalu lembut, terlalu tepat, dan terlalu menenangkan. Aku takut jika ketenangan ini bukan hadiah, melainkan ujian. Aku takut mencintainya akan membuatku lupa bahwa aku sedang berjuang menyembuhkan diri.
Setiap malam, aku membawa namanya dalam doa. Bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dipastikan.
“Ya Allah,” kataku lirih, “jika dia bukan jalan, jangan biarkan aku terlalu betah.”
Namun sejak itulah aku mulai sadar: doaku berubah. Aku lebih sering menyebut namanya daripada menyebut diriku sendiri. Aku lebih sering bertanya apakah dia baik untukku, bukan apakah aku baik di hadapan-Mu.
Dan cinta yang seharusnya menguatkan, perlahan membuatku goyah.
Suatu hari, dia berkata dengan wajah yang lebih tenang dari biasanya, “Aku rasa kita harus berhenti sampai di sini.”
Aku tersenyum, padahal hatiku runtuh.
Alasannya sederhana. Ia belum selesai dengan dirinya sendiri. Ia tidak ingin menjadikanku tempat pelarian. Ia tidak ingin mencintaiku setengah-setengah. Katanya, aku layak mendapatkan cinta yang utuh, bukan cinta yang lahir dari luka.
Aku ingin membantah. Ingin berkata bahwa aku tidak keberatan menunggu. Namun entah mengapa, kalimat itu justru tersangkut di tenggorokan. Mungkin karena jauh di dalam hati, aku tahu: ia benar.
Setelah kepergiannya, aku kembali sendiri. Lebih sunyi dari sebelumnya. Namun di tengah sunyi itu, aku menyadari sesuatu yang mengejutkan: aku tidak hancur. Aku sedih, iya. Tapi aku tidak kehilangan diriku lagi.
Di situlah plot twist-nya.
Aku kira dia datang untuk disembuhkan bersamaku. Ternyata dia datang hanya untuk mengingatkanku bahwa aku harus selesai dengan diriku sendiri terlebih dahulu. Bahwa cinta tidak selalu tentang saling menggenggam—kadang cukup saling menguatkan dari kejauhan.
Di atas sajadah, aku menangis. Bukan karena ditinggalkan, melainkan karena akhirnya mengerti. Mungkin inilah cara Allah menyelamatkanku: dari cinta yang terlalu cepat, dari ketergantungan yang bisa tumbuh tanpa kusadari.
Malam itu, aku berdoa dengan tenang. Tanpa menyebut namanya. Tanpa meminta ia kembali.
“Ya Allah,” kataku, “Terima kasih karena Engkau mengirimkan seseorang yang cukup mencintaiku untuk tidak memiliku.”
Dan di sanalah aku paham: Tidak semua cinta datang untuk tinggal. Sebagian datang hanya untuk memastikan kita pulang, kepada diri sendiri, dan kepada-Mu.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















