Doa Facebook

Ada pertanyaan lama yang selalu menggelitik hati saya: Kenapa orang berdoa di dinding Facebook? Apakah media sosial itu tempat yang mustajab? Dan apakah Tuhan sudi membaca status itu, lalu mengabulkannya?

”Tuhan Maha Mendengar, Dia pasti tahu apa yang kita panjatkan lewat media sosial,” jawab seorang teman.

Jawaban ini sepertinya masuk akal, walaupun belum memuaskan. Hanya berkelit dan terkesan membela diri (apologi). Sebab, jika “dikuliti”, doa-doa di Facebook sebenarnya berisi pengumuman. Misalnya, “Terima kasih Tuhan, Kau telah melancarkan urusanku.” Meski berbentuk doa, ungkapan ini sebenarnya pengumuman bahwa dia berhasil melakukan sesuatu.

Ada juga doa dengan model keluh-kesah, seperti “Ya Allah, berat sekali ujian ini.” Atau “Ringankanlah bebanku ini, Ya Allah.” Padahal, jika dipikir2, sebenarnya itu merupakan curhatan kepada teman. Bukan doa kepada Allah. Maka, teman-temannya akan berkomentar: “Sabar ya fren/mas/mbak…”

Yang lebih janggal, ada yang menjadikan Tuhan sebagai “perantara” untuk menyentil orang lain. Misalnya, “Tuhan, sadarkanlah dirinya.” Atau “Tuhan, kembalikan dia kepadaku.” Penulis status ini mungkin berharap orang yang dituju akan merasa terusik. Meskipun, biasanya, si dia tetap acuh tak acuh alias no coment. Justru teman-temannya yang penasaran: “Siapa sih, dia?” Dan penulis status akan menjawab: “Ada deh…”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tentu saja, pemilik akun itu sah-sah saja menulis status apa pun. Kita tidak punya hak melarangnya. Tapi, secara etika, sebenarnya doa itu lebih baik disampaikan secara lirih. Karena doa adalah dialog pribadi antara kita dengan Tuhan. Bagaimana doa bisa “didengar” bila dilakukan di media sosial yang berisik? Bukankah lebih baik doa disampaikan secara khusyu’ setelah shalat tahajjud, misalnya.

Jika melihat model-model doa seperti di atas, saya terpaksa kembali pada kesimpulan lama bahwa dinding Facebook itu mirip dinding ratapan Kaum Yahudi di Jerussalem.

🤔  Pendidikan Integratif-Interkonektif

Doa yang serius dan tulus di dinding Facebook, mungkin, hanyalah doa saat kita membaca status tentang orang wafat, kecelakaan, tertimpa bencana, dan yang sejenis. Tapi ini sebenarnya doa yang memang sudah “serius” di alam nyata, yang kemudian diposting di dunia maya.

So, jangan berdoa di tengah “kebisingan” like dan koment fesbukers, agar Tuhan tidak murka kepada kita. Berdoalah di tengah kesunyian malam, agar kita “mesra” denganNya. ()

A. Mubarok Yasin