Dia Tak Pernah Benar-benar Pergi

51
Sebuah ilustrasi anak kecil dan kisahya (sumber: ai/albi)

Sumur itu berbeda.

Kisah sebelumnya:
Kisah Sangat Menyeramkan
Malam Itu Berbeda

Dia tidak berlumut, tidak dipenuhi rumput liar seperti sumur-sumur tua pada umumnya. Justru sebaliknya sisinya bersih, licin seperti baru dilapisi sesuatu… seperti plastik yang mengilap. Kukira itu hanya kilau air. Tapi semakin aku ingat, semakin terasa janggal, sumur itu terasa hidup.

Pada pagi setelah aku dilahirkan, ibu turun ke belakang rumah untuk menjemur kain, angin pagi lembut. Matahari blak-blakan menerpa halaman, tapi area sekitar sumur itu anehnya tetap dingin.

Ibu bilang, saat ia mendekat, ada bau wangi bunga melati. Wangi yang menusuk hidung, bukan bau melati biasa, tapi melati yang sudah terlalu lama dipendam dalam tanah, ibu mengira itu hanya halusinasi setelah melahirkan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lalu ia mendengar suara.

“Minah…”

Pelan. Serak. Seperti seseorang berbisik dari dalam sumur.

Ibuku mengaku, waktu itu ia tidak takut… hanya terpaku. Karena suara itu meneriakkan namanya dengan jelas, padahal tidak ada siapa-siapa di sekitar, ia mendekat ke bibir sumur. Sumur itu memantulkan bayangan wajahnya begitu jelas, begitu bersih seolah permukaannya adalah cermin plastik bening.

Tapi saat ibu menunduk lebih dalam…Itu bukan wajahnya yang terlihat. Dari dasar sumur, muncul wajah perempuan tua dengan mata terlalu besar dan mulut terlalu lebar.

Rambutnya panjang menjuntai ke air, seolah menyatu dengan kegelapan di bawah sana, ia tersenyum. Senang. Bahagia. Seperti sudah menemukan sesuatu.

“Anak itu… sudah datang.”

Ibuku tersentak mundur. Jantungnya serasa direnggut dari dalam dada.

“Siapa kamu?!”

Perempuan itu tidak menjawab.

Hanya menaikkan tangannya ke permukaan air, tangannya bukan seperti kulit manusia.

Kulitnya licin, mengkilap, dan pucat seperti plastik yang direndam terlalu lama.

Dari arah pintu belakang, ayah muncul.

“Minah! Jangan dekat-dekat sumur itu!”

Ibu baru menyadari wajah perempuan itu tidak memantulkan cahaya seperti manusia. Ia memantulkan cahaya seperti plastik yang transparan. Ayah menarik ibu menjauh dan membawanya masuk rumah. Pintu dibanting. Dikunci. Ibu menangis tersedu sambil memegang dadanya.

“Dia bilang apa barusan?” tanya ayah, napasnya tersengal.

Ibu menjawab dengan suara pecah:

“Dia bilang… anak itu sudah datang.”

Malamnya, rumah mereka diketuk.

Pelan. Ritmis. Tepat jam 00.00.

Ayah mengintip lewat jendela, di halaman belakang, berdiri sosok perempuan tua itu yang muncul dari sumur menghadap ke arah jendela kamar bayi. Rambutnya jatuh panjang sampai tanah. Cahaya bulan memperjelas kulitnya yang licin seperti plastik yang basah, hampir tidak terlihat seperti kulit manusia, ia tidak bergerak, tidak berkedip, ia hanya menatap kamar tempat aku tidur.

Dalam ingatan ibuku, dia mendengar kata-kata itu lagi.

“Aku hanya ingin melihatnya.”

Esok paginya, ketika orang tua kembali ke belakang rumah…tutup sumur itu retak. Bukan pecah karena benda, tapi seperti terbakar dari dalam, airnya berubah menjadi keruh hitam. Dan di dasar sumur, ada jejak tangan kecil yang menempel seperti bekas lendir plastik.

Jejak anak kecil.

Sejak saat itu, ibuku tahu:

sumur itu tidak ingin air, sumur itu ingin aku. Dan makhluk yang muncul dari sana…bukan sedang menghantui, dia sedang menagih sesuatu yang pernah menjadi miliknya.

Setelah semua kejadian tangan putih di tempat tidur, tuyul yang mengangkat boneka, dan tatapan sosok hitam berambut panjang pada akhirnya ibuku menyerah untuk menyimpan rahasia.

Malam itu hujan turun deras. Ibu duduk di meja makan sambil memeluk gelas yang sudah dingin. Ayah hanya menatap lantai, seakan siap untuk menerima kemarahan ibu. Aku duduk di hadapan mereka, masih menggigil karena kejadian tangan putih tadi.

“Bu… siapa dia? Kenapa dia selalu muncul di dekatku?”

Ibu tidak langsung menjawab. Napasnya tersengal. Mata yang biasanya tegar, kini tampak rapuh.

“Dia… pernah jadi anak kita.”

Aku terdiam. Rasanya seperti seluruh isi rumah berhenti bernafas.

“Maksudnya?” suaraku pelan, hampir tidak terdengar.

Ibu mengepalkan tangannya, gemetar.

“Sebelum kamu lahir, aku pernah mengandung. Tapi… kandungan itu tidak selamat. Aku keguguran.”

“Di rumah yang ada sumurnya,” tambah Ayah lirih.

Tiba-tiba semua keping puzzle yang membingungkanku selama ini saling menempel.

Perempuan di sumur itu…sosok rambut panjang yang selalu mengikutiku…sosok yang hanya melihat, tidak pernah menyentuh, yang tersenyum padaku, seolah mengenali aku.

“Anak itu… adalah kakakmu.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Dia ditanam di dekat sumur itu. Ibu… tidak sempat berbuat apa-apa. Dan sejak saat itu, sumur itu menjadi penunggunya.”

Jadi…Selama ini sosok itu bukan sekadar hantu acak, dia bagian dari keluarga kami. Tapi semua berubah setelah kejadian tangan putih buntung di kamarku. Hantu itu bukan hanya memantauku sebagai adiknya. Ada sesuatu yang lain mengikat, dan Ayah tahu itu. Ayah Mencari Pertolongan

Beberapa hari setelah kejadian itu, Ayah melakukan sesuatu yang tidak pernah kami duga.

Pagi-pagi, dia mengeluarkan motor bebek tua, memeriksa bensin, lalu bilang singkat:

“Aku pergi.”

Ibu bertanya ke mana, Ayah hanya menjawab

“Ke orang yang lebih paham.”

Setelah Ayah pergi, rumah terasa sunyi. Tidak ada suara Tuyul, tidak ada bayangan perempuan rambut panjang. Seolah semuanya menunggu sesuatu, malam harinya, Ayah baru pulang. Pakaian basah karena hujan, rambut meneteskan air, tapi dia membawa sesuatu, selembar kain putih dengan tulisan ayat yang tidak aku mengerti.

“Aku menemui Kiai Khalil,” ucap Ayah.

Namanya tidak pernah kami dengar sebelumnya. Yang kami tahu, orang-orang menyebutnya sebagai orang yang tidak pernah gagal membaca tabir antara dunia manusia dan makhluk halus, ayah meletakkan kain itu di atas meja.

“Kiai Khalil bilang, sosok itu bukan mau mencelakai. Dia mau menjemput Sisi.”

Aku gemetar.

“Untuk dibawa ke tempat dia berada.”

Ibu berdiri, wajahnya pucat.

“Tidak! Itu anakku!”

Ayah memejamkan mata lama, lalu berkata lirih

“Kiai bilang… ikatan kalian bukan sekadar hubungan darah.”

Katanya, kakak yang tidak sempat lahir itu melekat padaku sejak aku masih dalam kandungan. Ketika aku lahir, dia menempel. Menjadi bayangan. Menjadi penjaga. Menjadi sesuatu yang lebih gelap dari rindu lebih dalam dari kehilangan.

“Dia merasa Sisi adalah miliknya. Karena dulu… dia tidak pernah punya kesempatan hidup.”

Ayah menatapku, matanya basah.

“Dia ingin yang tidak pernah dia dapatkan… tempat di pelukan Ibu. Tempat di keluarga ini.”

Aku tidak tahu harus sedih atau takut.

“Lalu… apa yang harus kita lakukan?” tanyaku pelan.

Ayah menarik napas dalam-dalam.

“Kiai Khalil menyuruh kita melakukan satu hal.”

Ibu menelan ludah, hampir tidak berani bertanya.

“Apa?”

“Kembalikan dia ke sumur itu. Bukan untuk membuangnya… tapi untuk menyelesaikan yang belum selesai.”

Aku membeku.

Kembali ke rumah lama?

Ke sumur yang memanggil nama ibu sejak aku lahir?

Ke tempat di mana kakak yang tidak pernah lahir itu tinggal?

Ayah menatapku serius.

Matanya menyimpan ketakutan… dan tekad.

“Kita harus menemuinya.”

Malam itu dingin seperti malam musim hujan yang lupa berganti hari. Kami berempat ayah, Ibu, aku, dan Kiai Khalil berhenti di depan rumah lama. Rumah yang dulu menjadi tempat aku lahir… dan tempat kakakku tidak pernah sempat hidup.

Rumah itu seperti tidak berubah, hanya lebih rapuh. Jendela-jendelanya terbuka, tirainya koyak-koyak seperti kulit bekas luka. Gumaman air dari sumur di belakang terdengar meski kami belum berjalan ke sana.

“Kalian tidak boleh memanggil namanya,” kata Kiai, suaranya rendah.

“Dia hanya perlu dituntun pulang.”

Aku mengangguk. Tapi hatiku tak siap, kami berjalan menyusuri sisi rumah, rumput yang basah menempel di kaki. Saat sampai di area belakang, bau melati menyeruak bau yang sama seperti yang dicium Ibu bertahun-tahun lalu.

Sumurnya masih di sana.

Masih licin.

Masih mengkilap seperti plastik.

Seperti tidak pernah menua.

Ayah membuka kain putih berisi tulisan ayat, lalu menutup mulut sumur itu dengan kedua tangannya gemetar.

“Kami datang bukan untuk melawan,” ucap Ayah parau.

“Kami datang untuk mengembalikanmu.”

Udara tiba-tiba berubah, angin berhenti, seolah seluruh dunia menahan napas. Dan dari dalam sumur, terdengar ketukan pelan tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Ibu langsung meraih tanganku.

“Nak, jangan lihat ke dalam sumur,” bisiknya.

Tapi aku tidak mematuhi, aku sudah lelah ketakutan. Aku ingin tahu siapa yang selama ini menatapku dari balik kegelapan, dan aku menunduk.

Perempuan itu ada di sana mengambang di permukaan air, rambut panjangnya hitam, menutupi hampir seluruh wajah. Kulitnya pucat… terlalu pucat. Tapi kali ini, aku bisa melihat bentuk wajahnya lebih jelas.

Ia tidak menakutkan.

Ia sedih.

Ia mengangkat tangannya ke arahku.

Sisi… adikku…

Suaranya seperti gema yang tidak berasal dari telinga, tapi dari dalam kepalaku.

Air mata menetes tanpa aku sadar.

“Kenapa kamu ngikutin aku?” bisikku.

Ia tersenyum pelan… senyum yang tidak pernah kutemukan dari sosok menyeramkan sebelumnya.

Aku ingin hidup… sepertimu.

Kiai Khalil mulai melantunkan doa. Ayat-ayat itu seperti mengiris udara, membuat angin kembali bergerak, menggoyangkan pepohonan.

Tapi perempuan itu tidak bergerak pergi, justru semakin naik ke permukaan, ayah menekan kain putih lebih kuat ke bibir sumur.

“Kembalilah!” teriaknya.

Tiba-tiba, air di sumur berdesis, seperti minyak panas yang menyentuh kulit. Sosok perempuan itu menatapku dengan mata yang membesar, muram, putus asa.

Jangan biarkan aku sendirian lagi, tangannya meraih bibir sumur, lalu perlahan ia memanjat keluar.

Aku menjerit.

“KIAI! DIA KELUAR!”

Ibu menarikku ke belakang, tapi langkahku tetap terpaku, mata perempuan itu tidak lepas dariku, seakan aku magnet yang menariknya kembali ke dunia ini. Kiai Khalil menaburkan garam ke arah sumur dan membaca doa lebih kencang, tapi perempuan itu tidak terpengaruh. Air sumur berubah menjadi hitam pekat seperti tinta.

Rambutnya meneteskan air, tubuhnya licin seperti plastik yang baru diangkat dari cairan kimia.

“Kamu harus kembali…” kataku lirih, sambil menahan tangis.

Perempuan itu berhenti, tepat di depan wajahku, dan dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan manusia, ia berkata:

“Kalau aku kembali, aku tidak akan pernah lahir.”

Aku terdiam, dadaku sesak, ada rasa bersalah yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

“Kalau aku tidak hidup… kamu tidak boleh bahagia.”

Tangannya yang dingin menyentuh pipiku, aku akan selalu ada bersamamu.

Lalu secepat kedipan mata sosok itu menghilang.

Tidak ada suara, tidak ada cipratan air, dan sumur kembali diam.

Ayah dan ibu saling pandang, napas mereka tercekat lega.

Kiai Khalil menurunkan tangannya perlahan.

“Sudah selesai…” katanya.

Tapi saat kami berbalik hendak pergi, aku merinding. Di belakangku, dari arah sumur, terdengar bisikan halus begitu dekat hingga aku merasakan hembusan dinginnya di telingaku.

Bersama… selamanya.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar, teror itu tidak pernah selesai.

Ia hanya berpindah tempat.

Sejak malam itu, aku tidak pernah melihat sosok kakakku lagi, tapi kadang, saat aku bercermin atau memotret diriku sendiri…

Ada bayangan perempuan di belakangku, rambut panjang, tersenyum, seolah sedang berkata

Aku tidak pernah kembali ke sumur…..



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary