
Dalam kehidupan yang terus berlanjut ini, setiap muslimah pasti akan melalui masa-masa sulit ketika sebuah harapan tak sesuai kenyataan, ketika doa belum juga dijawab, atau bahkan ketika perbandingan dengan orang lain yang terasa begitu menyesakkan hati dan dada. Di zaman yang serba cepat ini, menjadi tenang ternyata lebih sulit dari pada menjadi sibuk.
Banyak di antara kita yang terlihat baik-baik saja di luar, tapi ternyata hatinya penuh sesak oleh tuntutan, harus berprestasi, harus sabar, harus terlihat kuat dan lain sebagainya. Hingga kita pun lupa bahwa menjadi tenang bukan berarti berhenti berjuang, tapi terus belajar dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah Swt.
Baca Juga: Menguatkan Peran Muslimah di Setiap Keadaan
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d, 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Ayat ini bukan sekadar pelipur lara saja, tapi juga bentuk arah hidup. Bahwa ketenangan sejati bukan berasal dari pencapaian, tapi dari kedekatan dengan sang pencipta. Saat dunia menuntut kita untuk terus berlari, allah justru mengajarkan kepada kita untuk tetap istriahat dan berhenti sejenak, menunduk, dan berzikir kepadanya.
Muslimah yang tennag bukan berarti tidak punya maslah, tapi mampu menghadapi masalah dengan hati yang ikhlas, dan berserah kepada allah. Ia mungkin menangis di setiap malam, tapi bukan berarti menujukkan diri lemah, melainkan karena sedang menata ulang setiap ketakukan dan keraguan. Ia mungkin gagal di hadapan manusia, tapi ia sangat berhasil di hadapan allah karena tidak pernah putus asa dalam memohon dan meminta serta berusaha.
Ketenangan juga lahir dari penerimaan. Tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita, dan tidak semua yang tidak kita dapatkan berarti kita tidak layak. Sebab terkadang, allah menunda sesuatu bukan untuk menghukum, melainkan untuk melindungi. Maka dari itu, tugas kita bukan bertanya ”kenapa begini, kenapa begitu”, tapi berusahalah memahami “apa ya hikmahnya”.
Baca Juga: Menjadi Muslimah Tangguh yang Dirindukan Surga
Di tengah tekanan yang terjadi, tetaplah jadi perempuan yang lembut dan teguh pendirian. Jangan pernah biarkan kerasnya dunia mengeraskan hatimu juga. Tetaplah ikhlas memaafkan, meski sering dilupakan dan diabaikan. Tetaplah bebuat baik, meski tidak pernah dihargai balik. Karena setiap amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah luput dari padangan dan catatan allah di atas sana.
Menjadi muslimah yang tenang bukan tentang diam tanpa arah dan tujuan, tapi tentang yakin abhwa semua yang datang dari allah pasti akan membawa banyak kebaikan. Dalam setiap kesedihan, pasti ada rencana lembut yang sedang disusun baik untu kita.
Maka ketika hati terasa sempit, berhentilah sejenak. Ambil air wudhu, pejamkan mata laksanakan sholat dan perbanyak mengingat. Sebab, cukup Allah lah yang menjadi tempat sandaran paling indah dan nikmat, dengan banyak mengingat, maka ketenangan itu akan kembali menemani tiap langkah kita menjalani kehidupan yang keras ini.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















