Di Penghujung Tahun Ia Memilih Pulang

45
Perempuan dalam kesendiriannya (ilustrasi: ai/ra)

Firlie tidak pernah benar-benar menghitung sudah berapa kali ia menunggu. Ia hanya tahu, setiap hari rasanya sama: membuka ponsel dengan harap, lalu menutupnya dengan kecewa. Nama Raja selalu ada di sana, menggantung di daftar chat tanpa satu pun balasan yang benar-benar menjawab perasaannya.

Ia sudah terbiasa dengan itu. Terbiasa menjadi orang yang selalu memulai, menanyakan kabar, mengirim cerpen dan puisi karyanya sendiri, lalu berpura-pura tidak apa-apa ketika semuanya hanya dibaca atau bahkan tidak dibuka sama sekali. Firlie bilang pada dirinya sendiri, mungkin Raja sedang sibuk. Mungkin Raja butuh waktu. Dan mungkin suatu hari nanti, rasa itu akan tumbuh dan membalasnya.

Hari demi hari berjalan seperti biasanya, dan perasaan Firlie tidak pernah benar-benar berkurang. Bahkan, semakin dipendam, semakin dalam perasaan yang ia rasakan. Ia bahkan tidak bisa menghentikan rasa itu untuk pergi dan mencari pengganti. Entah mengapa, Firlie benar-benar terjebak pada laki-laki pendaki yang soft spoken itu.

Hingga tahun akan berganti, dan saat ini berada di penghujung tahun dengan semuanya yang sama dan tak terganti. Seseorang yang disukai tetap diam tanpa klarifikasi. Dan Firlie, masih setia menunggu tanpa henti.

Terkadang ia merasa sangat bodoh, tetapi perasaan tidak pernah peduli pada logika yang ada. Setiap kali ingin menyerah, selalu ada saja alasan untuk bertahan dan ingin memperjuangkan. “Sedikit lagi,” katanya pada diri sendiri. Kalimat sakral yang menenangkan hati tanpa kepastian yang nyata.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

***

Sampai suatu sore, Raka, selaku teman dekat Raja, mengajak Firlie untuk bertemu.
Raka tidak banyak basa-basi. Wajahnya terlihat sangat serius kali ini, seperti seseorang yang sudah lama memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berani mengutarakannya.

“Fir, kamu nggak capek apa?” tanya Raka pelan.

Firlie yang mendengar pertanyaan itu tertawa kecil. “Sedikit, tapi nggak apa-apa. Kan ini namanya usaha.”

Raka menghela napas. “Aku mau jujur sama kamu. Ini bukan buat menyakiti, tapi biar kamu berhenti nyalahin diri sendiri, dan berhenti berharap pada yang nggak pasti.”

Firlie terdiam. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, seolah sudah tahu ke mana arah pembicaraan yang akan ia dengar hari itu.

“Sebenarnya Raja tahu perasaanmu, Fir,” lanjut Raka. “Bahkan dari awal.”

Kalimat itu sukses membuat jantung Firlie seakan berhenti berdetak. Seperti pukulan pelan tapi tepat mengenai sasaran. Firlie tertunduk, tangannya mengepal di pangkuan.

“Terus… kalau tahu, kenapa dia diam?” suaranya hampir tak terdengar.

Raka menatap Firlie dengan hati-hati. “Karena kamu bukan tipe perempuan yang dia mau, Fir.”

Firlie tersenyum sinis. “Oh.” Jawabnya singkat sambil memalingkan wajah dari Raka.

“Jujur bukan berarti kamu kurang segalanya, Fir,” Raka cepat menambahkan. “Cuma… Raja itu tipe orang yang nggak mau main-main. Kalau enggak ya enggak. Dia nggak mau nerima kamu karena kasihan doang. Karena dia tahu kamu suka dia, dia nggak mau nerima dan kalian menjalani hubungan yang padahal kamu excited sendirian.”

“Jadi wajar kalau dia bungkam,” kata Raka lirih. “Itu caranya biar kamu nggak jadi bahan gabut doang.”

Firlie terisak. Semua alasan yang selama ini ia buat sendiri runtuh begitu saja. Tidak ada lagi kata ‘mungkin’. Tidak ada lagi kata ‘nanti’ atau ‘besok’. Yang ada hanya kenyataan yang selama ini ia hindari mati-matian.

“Aku bukan gimana-gimana ke kamu, Fir,” ucap Raka tegas tapi lembut. “Aku cuma harap kamu bisa rela dan ikhlas sama semuanya.”

“Bukan karena kamu kalah, tapi karena kamu layak dapat cinta yang datang tanpa harus kamu yang capek berjuang.”

Firlie menggelengkan kepala cepat. “Aku udah nyoba buat segalanya. Tapi tetap nggak bisa.”

“Aku tahu,” jawab Raka. “Tapi bertahan di tempat yang nggak pernah milih kamu itu lebih sakit, ketimbang kamu bisa bersama tapi kamu yang selalu dominan.”

Kata-kata itu sukses menampar Firlie dan terus terngiang di kepalanya. Sambil melangkah pulang, terlintas di pikirannya, ternyata fase merasa nggak pantas buat siapa-siapa itu benar-benar nyata. Baru kali ini ia menjaga hati dan menunggu seseorang selama ini, yang bahkan sekarang ia sendiri tidak tahu perasaan Raja sebenarnya untuk siapa. Firlie pun pulang dengan langkah berat, membawa kebenaran yang sungguh menyakitkan.

***

Malam itu, Firlie menatap layar ponselnya begitu lama. Sebab chat terakhir yang ia kirim ke Raja masih belum terbalaskan hingga sekarang. Ia menulis satu pesan, bukan untuk kembali berharap, tapi untuk pamit pada perasaan yang akhirnya tidak bertuan.

Namun nyatanya, pesan itu tidak ia kirim. Ia kembali menghapusnya. Sebab ia sadar, tidak semua akhir harus diketahui orang lain.

Hari-hari berikutnya terasa asing. Firlie masih menunggu, masih refleks membuka chat Raja, masih melihat story Instagram-nya dan selalu memberinya tanda suka. Berharap ada keajaiban kecil yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Namun setiap kali keinginan itu datang, suara Raka terus terngiang: kamu layak dicintai oleh orang yang mencintai kamu tanpa harus lelah mengejar dan berjuang.

Perlahan, Firlie belajar untuk ikhlas dan berdamai. Bukan karena rasa itu telah hilang, tetapi karena ia ingin usai dan berhenti menyimpannya.

Di penghujung tahun ini, Firlie akhirnya mengerti bahwa cinta yang tidak terbalaskan bukan berarti gagal. Ia hanya rasa yang salah arah. Dan melepaskannya bukan berarti kalah, terkadang itu satu-satunya cara agar hati bisa pulang dan kembali kepada yang ditakdirkan.

Malam itu, di depan kamar yang sunyi, Firlie menulis pesan singkat di buku diary berwarna biru muda, pemberian Raja saat pertama kali mereka kenal. Di buku itu ia menulis: biarkan dia memilih mana yang menurutnya layak dimiliki, dan kita pun berhak mencari siapa yang rela dan pantas tinggal di sini. Karena pada akhirnya, cinta bukan datang karena dipaksa, tapi karena sama-sama merasa, ini tempat yang kita cari, dan ini rumah yang kita nanti.

Setelah selesai menulis, Firlie kemudian masuk ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah. Tidak hanya tubuh, pikiran dan kesehatan mentalnya pun ikut rapuh. Dan kini ia bertekad, di tahun depan nanti, ia akan mencari seseorang yang sama-sama mau, agar tidak excited sendiri lagi.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary