
Apalagi yang Bisa Kita Wariskan?
Apalagi yang bisa kita ajarkan
bila buku-buku dibiarkan berdebu
dongeng leluhur dipatahkan,
petuah nenek moyang dianggap usang
seperti akar yang dicabut dari tanahnya?
Apalagi yang bisa kita wariskan
bila hutan kehilangan bahasa
ranting kehilangan cerita
dan sungai tak lagi mengenali bocah-bocah
yang dulu menimba hikmah di tepiannya?
Apalagi yang bisa kita tanam
bila karakter dibangun tanpa teladan
tanpa kisah tentang pohon-pohon
yang rela patah ranting agar angin bisa berlalu
atau gajah yang menjaga keseimbangan hutan
tanpa pernah menuntut balasan?
Apalagi yang bisa kita lakukan
bila mitos-mitos penjaga hutan dicemooh
dan tangan manusia
lebih cepat untuk menebang
daripada membaca tanda-tanda hujan?
Apalagi yang ingin kita jaga
jika bumi pertiwi ini
tak lagi mau memanggil kita
sebagai anaknya?
Bertanya pada Akar
Leluhur kita pernah mengetuk pintu bumi
melalui akar-akar yang resah:
“Anak-anak, apa yang kalian baca
hingga lupa pada suara pepohonan?”
Gunung terpejam,
menahan kesedihan yang mendidih.
Sungai menunduk,
membawa arus kabar duka
dari hutan dibungkam suara gergaji.
Dan kita manusia
yang katanya berkarakter luhur,
berjalan sambil menutup mata
tak membaca tanda-tanda.
Leluhur kita pernah bertanya
“Di mana kearifan itu kalian sembunyikan?
Mitos-mitos itu bukan sekedar warisan dongeng
agar manusia berhenti menganggap pohon
sebagai tumpukan kayu tak bernyawa?”
Jika hutan tumbang,
jika tanah pecah,
jika badai murka,
itu adalah alam sedang menagih janji
yang tak pernah kita tepati.
Yang Terlambat Kita Baca
Kita membaca bencana
pada halaman terakhir:
banjir bandang
yang menyeret nama-nama
tanpa sempat berpamitan.
Kita membaca
pada tubuh-tubuh pohon
yang terbaring tanpa nisan,
tapi kita tetap tak mau membuka
halaman pertama
tentang sebab kesalahan.
Leluhur kita pernah menulis
tentang pelajaran sederhana:
“Jangan pernah memiliki sifat serakah,
atau selalu meminta lebih.”
Namun buku itu
tak pernah masuk di kurikulum sekolah.
Hutan memanggil
dengan suaranya yang telah patah:
“Nak, belajarlah dari kami.
Yang tegak berdiri pun bisa tumbang
jika kalian mulai bermain-main
dengan dosa-dosa pada alam.”
Dan kita masih sibuk bertanya,
salah siapa, padahal kalimat paling jelas
adalah: selamatkan hutan, menyelamatkan manusia.
Di Mana Rumah Kearifan Itu?
Dahulu,
kearifan tinggal di lengan nenek kita
yang menumbuk padi sambil berpesan
agar kita tak menyinggung
roh penjaga hutan.
Dahulu,
kearifan hidup dalam cerita kakek
tentang burung-burung
yang menjaga batas antara
ambil secukupnya,
sisakan untuk yang lain.
Sekarang,
kearifan itu tersesat
di antara iklan-iklan yang cerewet
membombardir telinga kita di layar kaca
lebih keras dari suara petuah masa lalu.
Dan kita bertanya:
di mana rumah kearifan itu?
semoga ia kembali lewat buku-buku,
di kelas-kelas pendidikan,
yang mendidik manusia seutuhnya
bukan hanya pikiran, tapi juga hatinya.
Hutan menunggu,
menggigil di selimut kabut.
Ia ingin tahu:
apakah manusia akan pulang
atau terus menghilang
dalam gelap nafsu keserakahannya sendiri?
Tak Bisa Kita Hindari
Apa guna punya karakter
jika ia berhenti di bibir
tidak turun membumi
menjadi tangan yang menanam kembali?
Apa gunanya minat baca
jika buku-buku ditutup
sebelum sampai
pada bab tentang tanggung jawab?
Apa gunanya pendidikan
jika ia mengajarkan rumus
tapi lupa mengajarkan welas asih
pada tanah yang menopang kehidupan?
Apa gunanya kita
menyebut diri sebagai bangsa besar
jika punya hutan yang tak terlalu besar saja
tak mampu untuk kita jaga?
Leluhur kita pernah berkata:
“Bumi bukan warisan, ia titipan.
Jangan pernah pulangkan ia
dalam keadaan luka-luka.”
Magetan, 5-6 Desember 2025
Penulis: Fileski Walidha Tanjung adalah penyair dan penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, cerpen di berbagai media nasional.


















