sumber ilustrasi: tanyapsikologi

oleh: Dian Bagus Pratama*

Self Healing, Self Reward, Work Life, Balance, menjadi istilah yang cukup banyak digunakan dalam waktu terakhir ini. Kondisi yang banyak dirasakan oleh kaum milenial itu diakui dilatar belakangi dengan suasana tak baik atau kondisi depresi, gangguan kesehatan mental, bahkan mengalami quarter life crisis.

Dari beberapa kondisi yang diakui dirasakan oleh kaum milenial terkait istilah-istilah yang disebutkan di atas, mari kita coba analis mengapa timbul persoalan seperti ini?

Self Diagnosis

Kondisi pertama yang biasanya menimbulkan persoalan di atas disebabkan oleh mendiagnosis dirinya sendiri berdasarkan pengetahuan serta infromasi yang dimiliki diri sendiri, biasanya dikarenakan merasa dirinya mandiri, merasa serba tahu karena ada sosial media akhirnya terpapar info-info yang ada di sosial media terutama dengan kata-kata dan kalimat-kalimat  yang sangat populer. Dan pada saat itu mulailah dirinya dicocokan pada apa yang dikatakan di sosial media, karena cocok “ahhh saya butuh healing”.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun healing ini tidak sesederhana yang diucapkan. Healing adalah sebuah proses yang diperlukan untuk mengatasi sebuah luka psikologis di masa lalu, kita menyebutnya sering kali sebagai luka batin. Ada sebuah kejadian di masa lalu yang membekas dan tentu saja ada  proses untuk penyembuhannya supaya kita bisa menjalankan aktivias lebih lagi di masa depan.

Tetapi karena sekarang ini media sosial memberikan informasi yang sangat kaya maka kita berasa bisa memecahkan persoalan kita sendiri, ini adalah self diagnosis.

Sama seperti halnya over thinking, ternyata ini juga dialami oleh para milineal, di umur 25 tahun yang biasa disebut quarter life crisis. Dikarenakan diumur 25 tahun banyak teman-teman yang menikah, sudah punya anak, sudah punya rumah, apalagi sekarang ada sosial media yang menunjukan mudah cara membeli Ferrari, membeli Lamborgini, mengatakan sudah kaya raya ini yang disebut crazy rich.

Jadi melihat informasi itu merasa tidak bisa tidur, padahal ini semata-mata adanya overthinking dan setelah itu kemudian lagi-lagi mengatakan “butuh healing”.

The Strawberry Generation

Yang kedua kita menghadapi generasi baru saat ini yaitu “The Strawberry Generation” sebetulnya generasi ini bermula diamati ada di Taiwan ketika munculnya generasi baru yang ternyata begitu lunak seperti buah StrawBerry.

Ini adalah persolan yang harus kita hadapi, jadi ini tidak lain adalah cara orangtua mendidik yang dibesarkan dalam situasi yang lebih sejahtera dibanding generasi sebelumnya. Dibesarkan dalam keluarga yang sejahtera tentu harus disyukuri tetapi ini berakibat sejumlah hal yaitu.

Orangtua memberikan apapun yang diminta “jadi anak minta apapun diberikan”. Memberi kompensasi waktu, orangtua tidak memilki waktu dengan memberikan uang atau hadiah-hadiah untuk memenuhi keinginan anaknya yang seakan-akan waktu bisa dikompensasikan, padahal waktu tidak bisa dikompensasikan tetap perlu memberikan waktu dan perhatian kepada anak-anaknya.

Tidak menghukum kesalahan, orangtua tidak memberikan hukuman terhadap anaknya ketika melakukan hal-hal seperti memecahkan hiasan di ruang tamu, memukul teman kemudian melakukan hal-hal yan tidak pantas pada usaianya tentu harus ada konsekuensinya, namun ketika tidak melakukan seperti itu sebagai orangtua tentu ada efeknya menjadi The StrawBerry Genration

Setting Unrealistic Expectation, jadi orangtua memanjakan anaknya secara berlebihan namun pada kenyataan kehidupan anak-anaknya kemudian menghadapi situasi di mana ada oranglain yang lebih hebat dari dirinya, lebih cantik dari dirinya, lebih berhasil. Setiap orang mempunyai kelebihannya masing-masing akibatnya anak mendominasi lingkungan, mudah tersinggung, mudah melolong. Dan secara tak sadar itu akan membuat mental ada lembek.

Lari dari Kesulitan

Hal ketiga yang sering terjadi pada seseorang yaitu lari dari kesulitan. Ketika menjadi pelajar mengalami beragam kesulitan. Memang menjadi pelajar itu bukan hanya semata-mata mendapatkan pengetahuan karena ketika sudah berada di dalam kelas kita menghadapi guru serta dosen yang berbeda-beda, ada sistemnya, ada waktu penyerahan soal, ada ujian, ada baca buku, dan ada banyak tugas. Namun kemenangan seorang pelajar adalah ketika bisa memanage semua itu dengan baik, jadi wajar ketika menjadi pelajar banyak, menyita waktu.

Lain halnya kalau mengatakan depresi karena menjadi pelajar. Pelajar yang mengalami depresi itu artinya seseorang sudah tidak bisa mengerjakan tugasnya dengan baik, jadi lebih berhati-hati dalam mengambil sebuah kesimpulan.

Sebagai penutup tentu kita butuh solusi, solusinya adalah sebagai kaum milineal tentu perlu membaiki literasinya karena dunia baru ini kaya akan infromasi serta penjelasan-penjelasan tentu kita perlu memvalidasi setiap kebenaran, dan kita perlu membaca buku-buku atau infromasi-informasi tambahan.

Dan hati-hati dengan self diagnosis hadapilah situasi dengan sekuat tenaga karena ujian itu adalah hal yang wajar, kita harus berani keluar dari perangkap sosial media, hati-hati karena sekarang sosial media ini memberikan kesempatan untuk semua orang untuk cari perhatian

Serta orang tua tentu sangat berperan untuk menjaga anaknya dan membentuk generasi yang lebih hebat (lebih baik dari dirinya). Cara menjadikan mereka lebih hebat bukanlah dengan memanjakan dan memberikan apapun yang diberikan oleh anaknya secara berlebihan. Tantrum adalah cara anak-anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan kalau mereka tantrum berarti dia sedang berdrama.

Jadi konsekuensi selalu ada dan harus diatasi. Lalu bagaimana peranan para pendidik?

Para pendidik tentu hari ini menghadapi situasi yang berbeda dengan situasi dimasa lalu, jadi sebagai pendidik harus bisa membuat situasi menyenangkan dalam belajar, apapun juga belajar memang harus menyenangkan oleh karena itu jadilah pendidik bukan pemburu.

Karena keberhasilan anak-anak kedepan bukan sekedar dari pengetahuan saja, memang betul mereka perlu banyak tahu tapi mereka juga perlu menjadai manusia yang exploratif dan mereka juga siap menghadapi tantangan. Keberhasilan mereka tentu saja bukan pada nilai yang dicapai dalam kelas, mereka yang juara dikelas belum tentu menjadi juara dalam kehidupan. Karena tugas pendidik menjadikan mereka manusia-manusia yang juara dalam kehidupan

Jadi jangan selalu sedikit-sedikit healing, sedikit-sedikit self reward, sedikit-sedikit depresi. Jangan sampai salah mendiagnosa diri sendiri. Baiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya dapat kita pahami dari kondisi self healing, self reward dan kondisi lainnya itu. Sehingga kita tidak menggampangkan sesuatu yang nyatanya kita salah paham dalam menerapkannya.

*Alumnus Unhasy Tebuireng Jombang.

SebelumnyaMA Perguruan Mu’allimat Cetak Siswi Sukses Bersama Al Qur’an
BerikutnyaIni Sosok 5 Crazy Rich Muslim Zaman Rasulullah