
Cinta Sekepal Tangan
Kau datang
cinta sekepal tangan
ringan seperti kapas
tapi mampu menenggelamkan rumah dalam tawa
tangismu jadi adzan subuh versi mini
membangunkan mimpi yang nyasar di ujung bantal
jari-jarimu menggenggam duniaku
erat, tanpa tahu harga air mata
matamu bulat, kelereng langit jatuh
memantulkan surga yang mampir ke ayunan
Aku belajar ikhlas dari dadamu kembang-kempis
belajar sabar dari popok yang menolak kalender
Tuhan menitipkanmu tanpa buku manual
tapi detakmu cukup jadi kompas paling jujur
hei, cinta sekepal tangan
ternyata beratmu menyaingi doa semesta
Detak Kedua
Rumah ini tiba-tiba punya detak kedua
bukan dari jam dinding yang lelah
tapi dari ranjang kecilmu
tangismu pecah seperti kaca jendela subuh
membangunkan cinta yang lama tertidur di dada kami
napasmu naik turun
melodi paling jujur
jari mungilmu mencakar udara
menagih peluk tanpa bahasa
matamu menyimpan seluruh galaksi yang belum punya nama
kau hadir tanpa aba-aba
lalu menetap selamanya
Aku jadi paham arti rapuh lagi
belajar berani dari dada mu yang kembang kempis
detak kedua, kau ajari kami hidup dua kali
satu untuk kami
satu lagi untuk menjagamu
Titipan Langit
Kau turun dari doa
bukan sebagai mimpi
tapi sebagai titipan yang dibungkus bedong
wangi surga
tangismu membelah sepi
seperti adzan pertama di masjid kosong
seketika rumah kami punya kiblat baru
ranjang kecilmu
matamu bulat
menyimpan bintang yang lupa jalan pulang
jari mungil mu menagih janji yang belum sempat kami ucap
napasmu naik turun
tasbih paling jujur yang tak butuh hitungan
Kau ajari kami ikhlas tanpa syarat
sabar tanpa jeda
Tuhan menitipkanmu tanpa kuitansi
tapi setiap detik bersamamu adalah akad paling suci
titipan langit
ternyata ringanmu sanggup memikul doa kami seumur hidup
Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary


















