Dari Tebuireng Cahaya Keislaman, Jiwa Keindonesiaan, dan Literasi Menyatukan

56
Ilustrasi: Ifa

126 Tahun Pesantren Tebuireng

Di Jombang, di antara hamparan sawah berembun yang berkilau di bawah cahaya mentari pagi dan desir angin yang melewati pohon-pohon besar penuh kenangan, berdiri dengan tegap Pesantren Tebuireng, sebuah lembaga pendidikan Islam yang sejak 3 Agustus 1899 atau 26 Rabi’ul Awal 1317 H, setia menjadi saksi hidup perjalanan bangsa.

Pesantren ini didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pesantren ini bukan hanya pusat ilmu agama, tetapi kawah penempaan jiwa yang mengajarkan bahwa iman yang kokoh dan cinta tanah air bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan satu napas yang saling menghidupkan. Seratus dua puluh enam tahun perjalanan yang diukir dengan tinta perjuangan, keringat pengabdian, dan doa para ulama ini menjadi bukti bahwa perpaduan keislaman dan keindonesiaan bukan sekadar jargon seremonial, melainkan jalan hidup yang diwariskan secara estafet dari generasi ke generasi.

Di setiap era sejarah, pesan Hadratussyaikh tak pernah pudar: “Cinta tanah air bagian dari iman.” Kalimat sederhana namun padat makna ini membentuk kesadaran kolektif bahwa keislaman tidak hanya berhenti pada penguasaan ilmu syar’i, tetapi harus berbuah pada pengabdian nyata kepada masyarakat dan bangsa. Keindonesiaan di Tebuireng tidak sebatas rasa bangga pada bendera atau tanah kelahiran, tetapi hadir sebagai komitmen untuk menjaga kerukunan, merawat keberagaman yang majemuk, serta menegakkan keadilan sosial bagi seluruh warga negeri.

Baca Juga: Fikih Nusantara: Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada masa awal, pesan dakwah santri Tebuireng mengalir dari mimbar ke kampung-kampung, menembus jalan tanah yang berdebu dan pematang sawah yang basah, dibawa langkah-langkah penuh semangat yang tidak pernah letih. Kini, pesan itu tetap sama, namun salurannya telah bertambah luas: ia mengalir melalui jaringan digital, menembus batas geografis dan generasi. Di tengah derasnya arus informasi yang bercampur antara fakta, opini, dan kebohongan, Tebuireng memandang literasi media sebagai jembatan baru untuk menjaga warisan ini. Literasi media di sini bukan keterampilan tambahan, melainkan sarana strategis untuk memadukan nilai Islam dengan semangat kebangsaan—menggunakan pena, lisan, dan layar untuk dakwah yang santun, membangun wacana publik yang sehat, serta melindungi umat dari narasi yang menyesatkan.

Santri-santri Tebuireng dibentuk menjadi jurnalis yang kritis namun berakhlak. Mereka dilatih mengolah kata dengan kejujuran yang kokoh, memverifikasi setiap informasi sebelum disebarkan, menulis dengan bahasa yang mengangkat martabat, dan selalu mengaitkan peristiwa dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan. Pena mereka kini menjelma menjadi berbagai medium: berita yang mencerahkan, opini yang menyejukkan, video yang menginspirasi, hingga infografis yang memudahkan pemahaman publik. Di tangan mereka, media menjadi wasilah dakwah bil hikmah—menyampaikan kebenaran tanpa menghakimi, mengajak dengan kasih, bukan memaksa.

Tema peringatan tahun ini, “Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan”, menjadi lensa yang menuntun setiap langkah. Dunia modern kerap memisahkan keduanya: seolah menjadi Muslim berarti menjauh dari identitas kebangsaan, atau menjadi nasionalis berarti mengesampingkan nilai-nilai agama. Tebuireng menolak dikotomi ini. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang sudah diuji oleh sejarah: keislaman menjadi jiwa, keindonesiaan menjadi wadah, keduanya berpadu membentuk kekuatan yang mempersatukan, seperti dua sisi mata uang yang nilainya hilang jika dipisahkan.

Lebih dari satu abad, Tebuireng telah melahirkan tokoh-tokoh yang mengabdi di berbagai lini kehidupan: ulama yang menjadi penuntun moral, pendidik yang menanamkan karakter, penulis yang menjaga narasi kebenaran, pejabat yang mengawal kebijakan publik, hingga pegiat sosial yang menggerakkan masyarakat. Napas Tebuireng dibawa ke tengah denyut kehidupan bangsa, mempengaruhi kebijakan, memperkuat persatuan, dan memberi suara bagi nilai-nilai luhur. Kini, dengan literasi media sebagai salah satu pilar pendidikan, Tebuireng mempersiapkan santrinya untuk berbicara dengan bahasa zaman tanpa kehilangan bahasa hati—bahasa yang memadukan kebenaran wahyu dan kearifan budaya lokal.

Memadukan keislaman dan keindonesiaan berarti menegaskan bahwa ketaatan kepada Tuhan dan kesetiaan kepada bangsa adalah garis lurus yang sama. Literasi media menjadi alat penjaga agar pesan ini sampai ke telinga dan hati masyarakat tanpa terdistorsi oleh bias, provokasi, atau kepentingan sempit. Dalam konteks ini, jurnalis santri bukan sekadar pencatat peristiwa, tetapi menjadi penjaga moral narasi bangsa, memastikan bahwa wacana publik dibangun di atas fondasi kebenaran dan persatuan.

Baca Juga: Menguatkan Peran Ulama dalam Merawat Kemerdekaan Bangsa

Merayakan usia ke-126 bukanlah saat untuk sekadar menoleh ke belakang dengan rasa bangga. Ini adalah momentum untuk menatap ke depan dengan tekad baru. Dunia yang akan dihadapi para santri Tebuireng adalah dunia yang bergerak semakin cepat: teknologi kecerdasan buatan, arus globalisasi yang tak terbendung, serta kerumitan masyarakat yang makin berlapis. Tantangan semacam ini tidak bisa dihadapi dengan satu kemampuan saja. Dibutuhkan keseimbangan: penguasaan ilmu agama yang mendalam, pemahaman sosial yang luas, dan kecakapan memanfaatkan media untuk menyampaikan pesan kebaikan kepada khalayak yang lebih besar.

Hari ini, jika kita menyusuri halaman pesantren, kita akan mendengar harmoni yang unik: lantunan ayat suci dari mushala berpadu dengan bunyi ketikan papan ketik di ruang redaksi. Aroma kitab tua yang menyimpan jejak tinta para pendahulu berpadu dengan cahaya layar laptop yang memancarkan ide-ide baru. Di ruang-ruang belajar, para santri berdiskusi hangat tentang tafsir ayat, penjelasan hadis, juga teknik fact-checking untuk memverifikasi berita. Di lorong-lorong asrama, kita bisa merasakan denyut masa lalu yang berpadu erat dengan napas masa depan.

Tebuireng adalah bukti hidup bahwa tradisi dan inovasi bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, tetapi dua kekuatan yang jika bersinergi, akan melahirkan peradaban yang kokoh. Tradisi memberi arah moral dan spiritual, inovasi memberi daya gerak dan relevansi. Keislaman menjaga agar langkah tidak melenceng dari jalan yang lurus; keindonesiaan memastikan setiap langkah memberi manfaat bagi semua anak negeri.

Di usianya yang ke-126, Pesantren Tebuireng memikul harapan besar: menjadi mercusuar literasi Islam Nusantara yang sinarnya dapat menembus batas geografis, melintasi budaya, bahkan memasuki percakapan global tentang Islam yang damai, toleran, dan membangun. Dari Jombang, cahaya ini diharapkan menerangi Indonesia, bahkan dunia, memberikan kontribusi pada pembentukan opini yang menyejukkan di tengah dunia yang terpecah oleh ujaran kebencian dan informasi palsu. Dalam situasi seperti ini, suara santri yang jernih, argumentatif, namun penuh kelembutan hati menjadi oase yang dirindukan banyak pihak.

Baca Juga: Refleksi 126 Tahun Tebuireng: Menjaga Harmoni Islam dan Indonesia

Pesantren Tebuireng, engkau adalah saksi dan pelaku sejarah yang telah membuktikan bahwa iman yang teguh dapat berpadu serasi dengan cinta tanah air yang tulus. Literasi yang engkau tanamkan adalah jembatan kokoh yang menghubungkan keduanya, memastikan bahwa warisan Hadratussyaikh tidak hanya menjadi catatan di buku sejarah, tetapi hidup dalam kata, karya, dan tindakan para penerusmu. Selama napas masih berhembus di bumi pertiwi, perpaduan keislaman dan keindonesiaan akan terus menjadi sumber kekuatan, menjadi cahaya yang menuntun, dan menjadi jiwa yang menyatukan.

Karena di tengah hiruk-pikuk zaman, di tengah gelombang perubahan yang kadang mengguncang, kita yakin: selama ada santri yang setia pada ilmunya dan cinta pada negerinya, cahaya Tebuireng tak akan pernah padam—ia akan terus menyinari, menghangatkan, dan mempersatukan. Dari serambi sederhana hingga ruang-ruang digital, dari desa-desa terpencil hingga forum-forum dunia, pesan itu akan tetap sama: Islam yang membumi, Indonesia yang berjiwa.



Penulis: Muhammad Anwar
Editor: Rara Zarary