Cahaya Keikhlasan

35
Sebuah ilustrasi seseorang yang bertawakkal (sumber: ist)
Tak semua perkara harus dijelaskan kepada dunia / tak semua keputusan meminta tepuk tangan manusia / cukuplah Allah menjadi saksi,
bahwa niat dijaga lurus / dan tanggung jawab ditunaikan / meski sunyi.

Dewasa Adalah Menyempurnakan Amanah

Dewasa bukan tentang usia yang bertambah,
melainkan jiwa yang belajar tunduk
pada kehendak-Nya.

Ia tidak selalu lahir dari keyakinan yang utuh,
kadang tumbuh di sela ragu yang belum selesai,
namun kaki tetap melangkah—
sebab ada amanah
yang tak boleh dibiarkan tergeletak
di tepi waktu.

Kita pun mengerti,
lelah hanyalah jeda, bukan akhir perjalanan.
Kecewa adalah ujian hati, bukan alasan berpaling.
Hidup bukan sekadar untuk dimenangkan,
melainkan untuk disempurnakan
dengan sabar dan keikhlasan.

Tak semua perkara harus dijelaskan kepada dunia,
tak semua keputusan meminta tepuk tangan manusia.
Cukuplah Allah menjadi saksi,
bahwa niat dijaga lurus,
dan tanggung jawab ditunaikan
meski sunyi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kedewasaan yang Bertumbuh dalam Diam

Dewasa tidak pernah gaduh.
Ia bersemi seperti doa yang lirih,
bekerja tanpa riuh pengakuan.

Ia tak menagih sorak,
sebab ia tahu nilai diri
ditimbang di hadapan Tuhan,
bukan di hadapan manusia.

Banyak yang disimpannya di dada,
bukan karena lemah,
tetapi karena memilih tenang
lebih mulia daripada menang.

Ada perdebatan yang diredam,
ada amarah yang ditundukkan,
karena menjaga hati
lebih utama
daripada memuaskan ego.

Diamnya bukan kosong,
melainkan kebijaksanaan
yang sedang berzikir.


Dewasa dan Lapang dalam Menerima

Pada akhirnya dewasa belajar,
tidak semua dapat digenggam,
tidak semua doa menjelma sesuai pinta.

Ada yang hilang
agar hati mengenal cukup.
Ada yang tertunda
agar jiwa belajar percaya.

Tenaga memiliki batas,
akal punya jeda,
dan manusia diberi ruang
untuk berkata, “cukup,”
tanpa merasa kalah.

Menerima bukan menyerah,
melepas bukan berarti runtuh.
Kedewasaan adalah berjalan
sejauh kemampuan diri,
lalu menyerahkan sisanya
kepada Tuhan—
dengan hati yang lapang,
dan iman yang tenang.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary