
Bulan Ramadan seharusnya menjadi ajang untuk melihat ke dalam diri, mengelola hati dan pikiran agar bisa taat dalam tuntunan dan pedoman ajaran sebagaimana ajaran agama Islam di bulan Ramadan. Bulan Ramadan sendiri adalah bulan yang paling istimewa diantara bulan-bulan yang lain dan ada salah-satu kewajiban di dalamnya sebagaimana firman Allah SWT:
“Hai orang-orang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (al-Baqarah ayat 183)
Baca Juga: Refleksi Khataman Al-Qur’an di Tengah Dentuman Petasan
Tapi, alih-alih umat Islam di Indonesia cenderung ekspresif dalam menyambut Ramadan datang, tentu ekspresi menyambut dengan hal-hal yang positif itu sebuah keanjuran, misalkan bergembira dan menyambut untuk niat yang lebih taat ke depannya. Semua umat Islam pasti merasakan kehangatan atau kegembiraan untuk menyambut bulan Ramadan, seperti perasaan tenang dan menyenangkan ketika bisa kembali membersamai bulan suci ini lagi. Seperti dikatakan dalam (HR. Ahmad 18042)
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”
Tapi alih-alih, di bulan Ramadan yang dimaksud ekspresif diatas tadi adalah sikap eksploitatif terhadap segalah hal, jauh dari apa yang dikatakan dalam hadits diatas tersebut. Misalkan makanan, terus kontrol terhadap hawa nafsu yang mencoba balas dendam ketika sedang berpuasa atau berbuka puasa. Sikap-sikap yang tidak bisa mengontrol diri dari hal-hal yang sederhana dan menahan. Padahal pada hakikatnya, berpuasa adalah upaya menahan, mengelola, dan menekan diri sendiri untuk mengontrol diri sendiri dari hal-hal yang berlebihan. Seperti firman Allah pada penggalan ayat yang berbunyi: “Sungguh Allah tidak menyukai orang berlebihan.” QS Al-A’raf ayat 31
Kita bisa lihat di berbagai pusat makanan atau perbelanjaan selalu menjadi objek yang sering membuat mata orang-orang pecicilan, ketika waktu ngabuburit tiba di sore hari, kebiasaan berbelanja takjil adalah kegiatan sehari-hari bagi sebagian orang. Begitupun makanan untuk berbuka puasa. Hal ini, menurut data tahun 2024-2025 dari GoodStats lonjakan volume sampah nasional mengalami kenaikan 20% selama Ramadan. Di tren harian rata-rata produksi sampah perorangan di Indonesia adalah 0,85kg/hari. Ini terjadi saat Ramadan, angka ini meningkat signifikan akibat perubahan pola konsumsi. Ini yang menjadi sesuatu yang ironis. Dikatakan dalam penggalan firman Allah:
QS-Al-Isra’ ayat 26; “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” dan dilanjutkan pada ayat setelahnya, “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar pada tuhannya.” QS-Al-Isra’ ayat 27
Ramadan sendiri sering diartikan sebagai bulan yang istimewa, bulan di mana tidak seperti bulan-bulan lainnya yang terterah di kalender. Setiap harinya kita tidak makan dan minum dari mulai adzan subuh sampai adzan magrib mendatang. Dalam makna-makna tertentu, Ramadan adalah membelenggu nafsu, menahan diri dari makan dan minum, tidak melakukan aktivitas negatif yang ditidakbolehkan oleh ajaran agama Islam, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Kita semua perlu garis bawahi bahwa makna menahan makan dan minum selama waktu tertentu adalah makna yang cukup konkrit dan menegaskan bahwa pembelengguan nafsu merupakan hakikat dari Ramadan itu sendiri.
Dengan ini, apa yang dijabarkan di atas adalah bagaimana kita bisa menelaah lebih jauh makna Ramadan itu sendiri, mempelajari lagi dengan seksama dan bagaimana agar kita bisa berbuat taat sebagaimana ajaran agama itu sendiri. Budaya konsumtif dan euforia berlebihan ini tentu tidak sejalan dengan semangat Ramadan itu sendiri dan jauh dari makna yang sesungguhnya. Karena kendati kita menahan nafsu makan dan minum, justru ketika kita berbuka puasa kita malah melahapnya dengan upaya balas dendam yang berlebihan.
Baca Juga: Waspada Merayakan Hari Raya dengan Petasan, Ini Hukumnya
Kita harus tahu bahwa sampah-sampah hasil makan kita akan terasa begitu mubadzir walaupun ada beberapa orang yang masih bisa memakannya kembali dengan cukup dihangatkan. Bukan hanya konteks makanan, kita juga melihat bahwa pusat perbelanjaan menjadi sesuatu yang ramai dikunjungi apalagi ketika mendekati hari raya idhul fitri. Seperti penggalan firman Allah SWT:
QS-Al-Isra’ ayat 26; “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” dan dilanjutkan pada ayat setelahnya: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar pada tuhannya.” QS-Al-Isra’ ayat 27
Kenapa dan bagaimanakah hal ini terjadi, tentu hal ini terjadi karena budaya masyarakat kita sejak zaman dahulu. Sebagaimana kita tahu dan kita rasakan sendiri di sekitar lingkungan kita. Bahwa, puasa sampai selesai dan puncaknya hari raya adalah hari dimana kebahagiaan di raih, semua berkumpul, semua bersama dan ajang-ajang silahturahmi kembali membersamai setiap orang.
Dengan pertemuan-pertemuan itulah kita semua bisa merasakan bahwa ada momentum yang datang setiap tahunnya, dan karena momentum itu hanya satu tahun bukan berarti kita harus boros dan tidak menahan diri dari makanan dan berbelanja berlebihan. Apa maknanya jika cara berpikir kita mengarah pada ketamakan dan berlebihan, apakah karena cara pandang kita yang salah tentang puasa atau kita belum mengerti tentang apa makna puasa Ramadan itu sendiri.
Kita sudah memasuki hari puasa ke-29 sebentar lagi kita menyambut Hari Raya Idul Fitri. Mari kita mereflesikan kembali makna atas apa itu Ramadan dan apa itu idul fitri. Yakni, bulan yang digadang-gadang umat islam sebagai bulan istimewa dan hari istimewa. Dengan ini, kita bisa kembali mengetahui makna dari Ramadan dan idul fitri itu sendiri.
Baca Juga: Sebab Akibat Perilaku Konsumtif saat Lebaran
Mari kita kembalikan sebagaimana mestinya dan dengan makna-makna sesungguhnya sesuai ajaran agama Islam. Kita harus memahami teks dan juga konteks yang ada dan mengupayakan agar menaati seluruh tuntunannya. Nafsu dalam hal konsumtif memang berlebihan, apalagi dalam hal makanan yang sampai tidak kemakan dan menjadi sia-sia dan menjadi sampah rumah tangga. Kita upayakan untuk kembali membelenggu nafsu dalam diri kita sendiri, pembelengguan nafsu ini yang seharusnya bukan kita maknai hanya di waktu mulainya puasa sampai berbuka puasa. Tetapi, terus kita upayakan kontrolnya sampai seterusnya agar bisa kembali ke fitrah jati diri sebagai manusia itu sendiri.
Dengan hal-hal semacam inilah, Islam mencerminkan satu hal bahwa ketamakan adalah musuh bersama setiap insan yang bertaqwa, juga menjadi insan ini harus kembali pada fitrah sebagaimana ajarannya dan menjadi manusia sesungguhnya yang berpegang teguh pada ajaran agama yang sesungguhnya, meskipun berat pada zaman ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Annas bin Malik radhiyallahu’anhu: “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamannya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)
Penulis: Lupi Malaranggih dan M. Chaerul Panoro.


















