
Alamak… lagi-lagi kampung gempar.
Televisi empat puluh dua inci milik Sam Monera dijarah si tangan panjang. Padahal baru dua pekan lalu ia menggelar nonton bareng final liga Eropa di terasnya, lengkap dengan karpet pinjaman dari mushala dan jagung rebus yang dibumbui terlalu banyak garam. Ia berdiri paling depan waktu itu, tangan bersedekap, wajahnya bercahaya oleh pantulan layar.
“Beningnya kayak lihat malaikat turun,” katanya bangga.
Sekarang malaikat tak turun. Yang turun hanya hujan tipis dan kecurigaan.
Penduduk benar-benar kecolongan, dan si tangan panjang sudah kelewatan.
Ini sudah yang ketiga kalinya. Kemarin lusa sepeda ontel milik Lok Jumawe raib dari samping dapur. Pekan lalu gawai baru Saint Toso menghilang, sekalian dengan kambingnya yang hamil tua. Kambing itu lebih dulu terkenal daripada pemiliknya, sebab sering masuk halaman orang dan memakan daun cabai dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Kampung kami seperti pasar malam yang lampunya sering padam: ramai sebentar, lalu ada yang hilang.
Yang paling pusing bukan korban pertama atau kedua, melainkan Kiai Mimbar.
***
Belum genap tiga bulan pengajiannya kembali ramai, sudah dihantam kabar-kabar tak sedap. Orang-orang mulai mengaitkan kehilangan itu dengan amalan yang pernah ia berikan.
“Wis, Pak,” kata istrinya suatu pagi sambil meniup api kompor yang ogah-ogahan menyala, “pensiun saja jadi makelar amalan. Daripada kayak gini, disalah-salahkan terus.”
Nada suaranya bukan marah, tapi lelah. Lelah oleh ekspektasi orang-orang yang ingin dunia rapi tanpa usaha.
Kiai Mimbar menepuk jidatnya pelan. Ia sudah berulang kali menjelaskan: amalan itu untuk beribadah, untuk mendekat kepada Allah, bukan untuk membentengi kulkas atau mengunci sepeda dari jarak jauh. Soal tuah, itu bonus. Dan bonus, seperti rezeki dan hujan, hak penuh Tuhan. Tidak bisa dipesan, tak bisa ditekan, dipercepat dan dipastikan kapan datang.
Masalahnya, cerita tentang tuah itu sudah menyebar lebih cepat dari suara toa.
Di warung kopi, Ken Dawuk dan La Dala menjadi semacam duta marketing amalan kiai ludurk tidak resmi,.
“Sumpah, gara-gara amalan itu daganganku laris!” kata Ken Dawuk, penjual bakso yang lebih sering menambal roda gerobaknya daripada menghitung keuntungan.
“Ini buktinya, jam segini sudah bisa ngopi. Ha ha ha” lalu ia menyeruput kopinya.
La Dala tak mau kalah. “Kalau aku, semenjak ngamalin itu, istriku jadi nurut. Rumah aman. Tak ada maling lagi.”
Orang-orang lupa bahwa tiga bulan lalu ia pernah dimaki istrinya sampai seminggu bahkan sampai istrinya minta cerai gara-gara perhatian La Dala lebih condong ke murai batu dari pada istrinya. Lalu murai batu itu hilang entah ke mana. Mereka hanya mendengar bagian yang manis.
Cerita itu beranak-pinak. Ditambah, dikurangi, dipoles. Seperti iklan sabun yang membuat kulit sehalus janji kampanye. Mata ketiganya berbinar, penasaran, penuh harap.
Dan ini yang membuat kaki mereka melangkah ke rumah Kiai Mimbar.
Sebenarnya Kiai Mimbar enggan memberi amalan kepada mereka bertiga. Ada yang aneh dengan nada suara mereka. Bukan suara orang yang ingin memperbaiki diri, melainkan suara orang yang ingin mengamankan investasi.
Namun mereka mendesak. Ia pun memberi sedikit hizb, disertai nasihat panjang tentang niat.
Ia menatap mata mereka satu-satu waktu itu. Mata yang berbinar seperti baru melihat diskon besar.
“Tujuan utama ibadah,” katanya.
“Masalah tuah, terserah Allah.”
Mereka mengangguk cepat. Terlalu cepat.
“Beres, Yi… gampang itu!”
Dan ketika barang-barang mulai hilang, mereka kembali.
Bukan untuk bertanya apakah mereka salah niat, melainkan untuk protes.
“Kok malah kemalingan?”
“Kok tak mempan?”
Bahkan ada yang meminta amalan tambahan untuk menerawang siapa malingnya. Seolah-olah Kiai Mimbar memiliki CCTV ghaib.
Ia menolak. Halus tapi tegas.
“Kalau ingin aman, mari kita ronda,” katanya akhirnya.
“Saya ikut.”
Malam itu pos ronda penuh. Ada papan catur yang bidaknya sudah tak lengkap, kartu remi yang sudutnya terlipat, dan papan karambol yang bolanya lebih sering jatuh ke tanah daripada ke lubang.
Kiai Mimbar tak terkalahkan malam itu. Entah karena kepiawaiannya atau karena lawannya sering menguap. Mulutnya tetap komat-kamit. Sebagian doa, sebagian mungkin keluhan.
Udara dingin turun perlahan. Gerimis seperti bisikan.
Satu per satu orang di pos ronda terkulai.
“Ilmu sirep,” bisik Alip yang paling sering menonton film silat tengah malam.
Kiai Mimbar tetap terjaga. Dua santrinya juga.
Lalu dua bayangan hitam melintas masuk rumah Rwak Kuin—yang baru saja membeli motor cash meskipun pekerjaannya tukang leker keliling.
“Ayo!” teriak Alip.
Mereka berlari. Kentongan dipukul keras. Penduduk terbangun, sebagian dengan mata masih setengah mimpi.
Rumah Rwak dikepung.
“Mampus kau!”
Pintu didorong. Lampu dinyalakan.
Kosong.
“Barusan ada yang masuk?” tanya Kiai Mimbar pada anak Rwak.
“Tidak ada.”
“Ada yang hilang?”
“Tidak.”
“Rwak ke mana?”
“Kerja. Belum pulang.”
Hujan makin deras. Orang-orang saling pandang. Ada yang mulai merasa bodoh, tapi tak ada yang mau mengakuinya.
Tiba-tiba—
“Maliiing!”
Itu suara istri Kiai Mimbar.
Penduduk berlari lagi, kali ini ke rumah sang kiai.
“Apa yang hilang?”
“Perhiasanku…”
Sunyi jatuh seperti palu.
Kiai Mimbar menutup mata. Ada yang retak dalam dadanya—bukan soal emas, tapi soal harga diri. Ia yang dituntut melindungi kampung, justru tak mampu melindungi rumahnya sendiri.
“Innalillahi…” gumamnya pelan.
Malam itu berakhir dengan saling menyalahkan.
Dalam hati, Kiai Mimbar menyumpahi maling itu: semoga cegukan sebulan penuh. Kutukan yang tampak ringan, tapi cukup membuat orang tak bisa tidur nyenyak.
Beberapa hari kemudian, Rwak membeli kulkas baru.
Orang-orang bergumam. Tukang leker beli motor, kini kulkas dua pintu. Tapi tak ada yang berani menuduh. Kecurigaan hanya berani hidup dalam bisik-bisik.
Tiga minggu berlalu.
***
Suatu sore, Rwak datang ke rumah Kiai Mimbar. Wajahnya pucat. Nafasnya tersendat.
“Yi… sudah tiga minggu saya cegukan. Tak sembuh-sembuh.”
“Hik!”
Ia memegang dadanya seperti menahan sesuatu yang ingin meloncat.
Di serambi, sudah duduk Sam Monera, Lok Jumawe, dan Saint Toso. Mereka ingin amalan baru. Versi lebih kuat. Lebih spesifik. Anti maling plus anti sial.
Kiai Mimbar memandang mereka lama.
Ia tiba-tiba sadar, yang membuat kampung ini rawan bukan kurangnya amalan, melainkan banyaknya keinginan.
“Amalan itu untuk ibadah,” katanya pelan.
“Jangan mengambil hak orang lain. Apalagi pakai ilmu sirep.”
“Hik!”
Rwak tersentak. Cegukannya berhenti sesaat, lalu kembali lebih keras.
Kiai Mimbar menatapnya tanpa berkedip. Bukan dengan amarah, tapi dengan pandangan yang tipis dan sedikit menggoda.
Yang lain tak mengerti. Mereka masih sibuk memikirkan hizb tambahan.
Sementara suara, “hik… hik…” memantul di dinding serambi, seperti pengakuan yang tak berani menjadi kata.
Dan untuk pertama kalinya, Kiai Mimbar merasa doanya mungkin lebih tepat sasaran daripada amalannya. Cegukan itu tidak sembuh hari itu.
Dan kampung kami belajar—meski pelan—bahwa yang paling keras menuntut tuah sering kali adalah yang paling takut pada doa yang sederhana.
“Jangan mengambil yang bukan haknya, Insyallah cegukanmu akan sembuh.” ucap kiai mimbar sambi menatap Rwak.
Penulis: M. Afin Masrija


















