Mr. Jett Thomason saat membeikan pemaparan kepada peserta seminar
Mr. Jett Thomason saat membeikan pemaparan kepada peserta seminar

tebuireng.online– Memasuki bulan ketiga pada awal tahun 2016, tahun diselenggarakannya program Masyarakat Ekonomi Asean atau yang disingkat dengan MEA. Banyak persiapan yang dilakukan oleh seluruh masyarakat yang menjadi bagian dari negara ASEAN, termasuk Indonesia. Banyak progres yang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi era perdagangan internasional ini. Mulai dari persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) sampai dengan pemanfaatan potensi-potensi yang ada di Indonesia.

Program MEA ini juga disosialisasikan di berbagai perguruan tinggi untuk menyiapkan kualitas SDM sejak dini. Hal itu yang dilakukan oleh Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unhasy mencoba menghadirkan seminar internasional sebagai apresiasi dalam persiapan para mahasiswa menghadapi tantangan MEA.

Acara yang dihelat pada hari ini (05/03/2016) di Auditorium Gedung Rektorat Unhasy, mendatangkan pembicara dari Consulate General of USA Surabaya, Mr. Jett Thomason, Prof. Dr. Haris Supratno selaku Wakil Rektor 1 Universitas Hasyim Asy’ari, dan Drs. H. Muhsin Ks. dengan mengusung tema “Potensi Maritim Indonesia dan Budaya Pesantren dalam Manghadapi Tantangan MEA”.

Mr. Jett Thomason menjelaskan bahwa, Indonesia mempunyai banyak potensi untuk bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya. Salah satunya pada sektor pertanian. Trade yang dilakukan oleh Indonesia dan Amerika cukup bagus meskipun Indonesia berada pada urutan ke-3 terakhir dari 30 negara yang menjadi partner Amerika. Indonesia dan Amerika mempunyai hubungan yang penting dalam hal perdagangan. Potensi maritim Indonesia sangat luar biasa karena kekayaan laut yang menjadi daya tarik dan produk ekspore paling tinggi sekitar 20% dari produk-produk lainnya.

Prof. Dr. H. Haris Supratno memaparkan tentang peran pondok pesantren dalam menghadapi tantangan MEA. Sebelum masuk dalam pembahasan, beliau mengevaluasi realita yang terjadi pada bangsa ini. Mengapa negara Indonesia sulit bersaing dengan negara lain? Karena kualitas SDM yang lemah. Mengapa demikian? Karena bangsa Indonesia terlalu lama dijajah oleh negara kapitalis yang jauh lebih unggul pengetahuannya. Negara Indonesia menjadi negara tradisional dan tidak memiliki pengetahuan dan kemandirian, sehingga kekayaan alam dikuasai oleh negara lain, karena belum memiliki ilmu dan teknologi yang mumpuni.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun kemerdekaan menjadikan bangsa ini bangkit dan mulai berkembang. Salah satu yang menjadi pelopor berkembangnya bangsa Indonesia adalah adanya pondok pesantren. Meskipun bukan lembaga pendidikan formal tetapi pondok pesantren berpengaruh besar terhadap kemajuan bangsa ini. Pondok pesantren saat ini sudah berorientasi pada ilmu umum sebagai penyeimbang untuk kemajuan zaman.

Menurut penelitian Prof Haris, realita pondok pesantren saat ini meliputi; budaya bersih dan sehat tempat tinggal yang kurang, budaya bersih dan sehat lingkungan yang kurang, budaya memperhatikan nutrisi/gizi yang kurang, budaya disiplin yang kurang, dan kualitas SDM yamg masih kurang/lemah. Bila dihadapkan dengan MEA yang berorientasi pada kebebasan masuknya arus barang, SDM, dan jasa, pondok pesantren perlu mendapat perhatian lebih untuk terus meningkatkan SDM-nya, agar bangsa ini tidak memiliki generasi yang mempunyai mental peniru dan pengguna, akan tetapi bermental pencipta.

“Perlu adanya peningkatan kualitas sumber daya santri melalui pendidikan baik formal maupun non formal, dengan cara: transformasi ilmu agama yang tetap kuat, transformasi ilmu umum, dan mencetak sumber daya santri yang memiliki daya saing dan mandiri,” pesan beliau. (aulia/abror)

SebelumnyaMTs Salafiyah Syafi’iyah Adakan Dauroh Ilmiyah untuk Kelas ILD
BerikutnyaKonjen AS: Potensi Maritim Indonesia Sangat Besar