(Foto: M. Abror R)

Oleh: Hilmi Abedillah *

Bulan Dzulhijjah telah tiba di tahun 1441H. Di bulan terakhir penanggalan Hijriyyah ini, umat muslim melaksanakan agenda besar yaitu ibadah haji dan Hari Raya Idul Adha. Jika sebelum Idul Fitri kita diwajibkan puasa Ramadan, maka sebelum Idul Adha kita juga disunnahkan untuk beribadah puasa. Puasa itu dinamakan puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.

Hari Tarwiyah adalah hari ke-8 bulan Dzulhijjah. Disebut tarwiyah karena waktu itu udara sangat melimpah. Sementara hari ke-9 Dzulhijjah dinamakan Hari Arafah, karena pada hari itu diperlukan untuk jamaah haji untuk wukuf di Arafah. Jika dilanjutkan, hari ke-10 Dzulhijjah dinamakan Hari Nahr atau Hari Qurban, hari ke-11 disebut Hari Maqarr (menetap di Mina), hari ke-12 Nafar Awal, dan hari ke-13 Nafar Tsani. ( Hasyiyah al-Bujairami ala al-Manhaj, VI, 137 )

Puasa Tarwiyah diharapkan bagi yang berhaji juga yang tidak berhaji, bahkan bersama tujuh hari sebelumnya, yaitu tanggal 1-7 Dzulhijjah. Sementara puasa Arafah hanya disunnahkan bagi yang tidak berhaji.

Keutamaan dua puasa ini mendukung dalam sebuah hadits.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

صَومُ يَوْمِ التَّرْوِيَّةِ كَفَّارَةٌ سَنَةً وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةٌ سَنَتَيْنِ

Puasa Hari Tarwiyah menginstal dosa, dan puasa Hari Arafah menginstal dosa dua tahun. ( Jamiul Ahadits, XIV, 34 )

Niat puasa Tarwiyah dan Arafah adalah sebagai berikut.

نويتُ صومَ تَرْوِيَة سُنّةً لله تعالى

Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.

نويتُ صومَ عرفة سُنّةً لله تعالى

Saya niat puasa Arafah, sunnah karena Allah ta’ala.

Hari arafah disebut sebagai hari yang paling utama (afdlol al ayyam), karena puasa Arafah dapat memperbaiki dosa dua tahun. Hubungi diriwayatkan Imam Muslim:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

Tidak ada hari yang lebih banyak dari Allah yang dikeluarkan dari api neraka selama hari Arafah.

Arafah puasa hanya disunnahkan untuk yang bukan jamaah haji, sedangkan untuk yang sedang menunaikan ibadah haji tidak disunnahkan, Meskipun kuat melaksanakannya. Alasannya, karena ittiba ‘untuk sunnah Nabi. Jika tetap melakukan puasa, maka hukumnya khilaful aula. Hal itu berbeda dengan pendapat Imam Nawawi yang menganggapnya makruh. Namun, jika sudah tiba di Arafah pada malam hari, maka tidak dimakruhkan, disetujui asy Syafi’i dalam kitab al-Imla’ . ( Asnal Mathalib , V, 385)

Puasa Arafah dan Tarwiyah sangat dianjurkan, untuk turut membantu kenikmatan yang diterima oleh para jamaah haji yang sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas ra meriwayatkan Rasulullah saw bersabda:

ما م ن أيامٍ العملُ الصالحُ فيها أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيامِ يَعْني أيامَ العشرِ قالوا: يا رسولَ اللهِ! ولا الجهاد في سبيل الله؟ Catatan: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجلٌ خَرَجَ بنفسه ومالِه فلم يرجعْ من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih penting dari Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah! Bagaimana jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad di jalan Allah selain lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid ), ” (HR Bukhari)

Dengan memahami keutamaan yang melimpah itu, ada yang bisa kita lakukan puasa Tarwiyah dan Arafah. Pahala kita akan bertambah, dosa-dosa kita dihapus, dan diperoleh ridlo Allah. Mudah-senang kita menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat keberkahan di Hari Raya Idul Adha 1441H.


*Penulis adalah alumni Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.