Refleksi Neurosains dan Tradisi Intelektual Islam

6
Ilustrasi mencatat apa yang dipelajari

Penulis: Ansori Huzaini Mutakhorrijin*

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat, manusia modern tampaknya tidak pernah benar-benar kekurangan informasi. catatan kuliah dapat disimpan di cloud, ribuan buku tersedia dalam bentuk digital, dan kecerdasan buatan mampu merangkum ribuan halaman hanya dalam hitungan detik. Namun dibalik kemudahan itu, muncul sebuah pertanyaan penting. Apakah kemudahan mengakses informasi juga membuat manusia lebih memahami ilmu?

Baca Juga: Adab kepada Orang Tua Lebih Utama dari Ilmu

Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika sejumlah penelitian modern menunjukkan bahwa menulis catatan dengan tangan teryata lebih efektif untuk proses belajar dibanding laptop. Sebuah meta analisis terbaru oleh James flanigan dalam penelitiannya, Typed versus handwritten lecture notes and college student achievement (2024), yang merangkum 24 studi berbeda, menunjukkan bahwa mahasiswa atau pelajar yang mencatat menggunakan tulisan tangan cenderung memperoleh hasil akademik lebih baik dibanding mereka yang mencatat dengan laptop. Penelitian itu menemukan bahwa tulisan tangan membantu pemahaman konseptual lebih dalam dan meningkatkan keterlibatan kognitif selama proses belajar.

Temuan tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan jika dilihat dari cara kerja otak manusia. Saat mengetik laptop, seseorang cenderung menyalin informasi secara cepat tanpa benar-benar memproses makna nya. Sebaliknya, ketika menulis tangan, otak dipaksa untuk menyaring, meringkas dan menyusun ulang informasi sebelum dituangkan ke dalam tulisan. Dengan kata lain, tulisan tangan memperlambat tubuh agar pikiran benar-benar bekerja.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Penelitian sebelumnya dari Pam Mueler dan Daniel Oppenheimer dalam study “The pen is lighter than the keyboard”, juga menunjukkan bahwa mahasiswa/pelajar yang mencatat dengan tangan memiliki kemampuan lebih baik dalam memahami konsep dibanding mahasiswa/pelajar yang mengetik secara verbatim. Aktivitas menulis tangan melibatkan koordinasi motorik halus, memori visual, dan pemrosesan bahasa secara simultan, sehingga menciptakan keterlibatan neurologis yang lebih kompleks.

Menariknya, apa yang kini dibuktikan oleh neuroscience modern teryata memiliki resonansi kuat dengan tradisi intelektual islam klasik. Dalam khazanah keilmuan islam, menulis bukan sekadar aktivitas administratif, melainkan bagian penting dari proses internalisasi ilmu. Hal ini dapat ditemukan dalam Taqyud al-ilm karya al-Khatib al-Baghdadi yang memuat ungkapan terkenal: قيدوا العلم بالكتاب ikatlah ilmu dengan tulisan.

Baca Juga: Kerancuan Filsafat Ilahiyyah (Ketuhanan) Perspektif Imam Ghazali

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa ilmu dipandang sebagai sesuatu yang mudah hilang apabila tidak dijaga. Menulis adalah sarana untuk “mengikat” pengetahuan itu agar tidak sekedar lewat di ingatan.

Dalam tradisi pesantren dan madrasah klasik, seorang murid tidak hanya mendengar penjelasan guru. Ia menulis ta’liqat (catatan pinggir kitab), menyalin ulang pelajaran, bahkan mengulang nya berkali-kali dengan tangan sendiri. Tradisi tersebut juga terlihat dalam Ta’lim al-Muta’alim karya Burhanuddin Al-Zarnuji. Kitab ini menekankan pentingnya kesungguhan, pengulangan, dan kedisiplinan dalam menjaga ilmu. Proses belajar tidak dipahami sekadar menerima informasi, tetapi membentuk kebiasaan intelektual yang menetap dalam diri seseorang.

Konsep serupa bahkan dijelaskan lebih mendalam oleh Ibn Khaldun dalam Muqaddimah melalui istilah malakah, yakni kemampuan atau kebiasaan intelektual yang terbentuk melalui latihan dan pengulangan terus menerus. Dalam perspektif modern, konsep ini sangat dekat dengan teori neuroscience mengenai penguatan jalur kognitif melalui keterlibatan aktif tubuh dan fikiran. Di titik inilah, kita melihat sesuatu yang menarik: modernitas dan tradisi teryata tidak selalu bertentangan.

Baca Juga: Menjaga Sanad Keilmuan di Tengah Arus Kecerdasan Buatan

Neurosains modern berbicara tentang active cognitive processing, sementara ulama klasik berbicara tentang adab menuntut ilmu dan pengikatan pengetahuan melalui tulisan. Bahasa yang digunakan berbeda, tetapi keduanya menunjuk pada kenyataan yang sama. Ilmu membutuhkan keterlibatan yang utuh antara fikiran, tubuh dan perhatian. Barangkali problem pendidikan hari ini bukan sekadar melimpah nya informasi, tetapi hilangnya kedalaman dalam berinteraksi dengan ilmu.

Kita hidup di zaman  screenshot, bookmark, dan save later. Banyak pengetahuan tersimpan, tetapi sedikit yang benar-benar dihayati. Informasi bergerak cepat dari layar ke layar, namun tidak semuanya sempat menetap menjadi pemahaman.

Tentu saja, ini bukan berarti teknologi digital harus ditolak. Laptop dan perangkat digital tetap memiliki keunggulan besar dalam kecepatan, dokumentasi, dan aksesibilitas. Akan tetapi, tulisan tangan mengingatkan manusia pada sesuatu yang mulai dilupakan oleh peradaban modern.

Belajar sejatinya bukan hanya memindahkan data ke memori, melainkan proses perlahan membentuk cara berfikir dan cara memahami kehidupan. Karena itu, mungkin menulia tangan hari ini bukan sekadar metode belajar yang lebih efektif, ia juga bisa dipahami sebagai bentuk latihan kesabaran intelektual di tengah budaya serba cepat yang membuat manusia terbiasa mengetahui banyak hal tanpa sempat merenungkan nya.


*PP Mambaus Sholihin Gresik & PP al-Fatich Surabaya.

Editor: Rara Zarary


Referensi:

  1. Taqyid al-ilm, alkhatib al Baghdadi
  2. Ta’lim al- Muta’alim, burhanuddin al-zarnuji
  3. Flanigan, j. (2024) typed versus handwritten lecture notes and college student achievement: A meta analysis
  4. Mueler, P. & Oppenheimer, D. (2014) the pen is mightier than the keyboard; advantages of long hand over laptop note taking.