Abadi Katanya

161
Ilustrasi sebuah kehidupan (sumber: ist)

Aku pernah jadi pohon yang paling sering dibicarakan angin.
Daunku rimbun, menggantung ke mana-mana, seperti tirai mewah yang tak bisa dibeli.
Akar gantungku menjulur ke bawah—tak hanya mencengkram tanah, tapi juga menandai wilayah kekuasaanku.

Burung-burung berkicau di antara dahanku.
Anak-anak bermain di bawah bayanganku.
Orang-orang tua duduk di batangku sambil berkata:

“Pohon ini sakral. Teduhnya seperti tempat pulang.”

Aku tidak menumbuhkan kebesaran.
Aku hanya diam… dan kebesaran itu tumbuh sendiri. Mereka datang, mencium batangku, berdoa di bawahku, bahkan kadang menggantungkan hajat kecil di salah satu akar gantungku yang kuat.

Aku tidak pernah menolak.
Tentu tidak.
Karena dalam hatiku, aku mulai percaya bahwa aku memang pantas disembah diam-diam.

Aku bukan hanya pohon. Aku simbol.
Aku bukan hanya akar. Aku pijakan.
Aku bukan hanya tempat berteduh. Aku jadi alasan orang merasa dilindungi.

Hari-hariku dipenuhi pujian yang tidak bersuara.

“Rimbunnya luar biasa.”
“Akar-akarnya seperti doa yang menjulur ke surga.”
“Kalau beringin ini bicara, mungkin kita semua akan mendengarkan.”

Aku tidak pernah bicara.
Tapi dalam diamku, aku menyombong.

Lalu aku mulai abai.

Aku tak hiraukan tanah yang mulai mengering.
Aku hirup lebih banyak air, walau tanaman di sekitarku layu.

Aku menolak jamur kecil yang mau tumbuh di batangku, karena kutakut kulitku tak tampak mulus lagi.
Aku biarkan hembusan asap masuk ke pori daunku, karena kubilang: “Aku besar. Aku bisa tahan.”

***
Aku tumbuh… tapi tak sadar:
yang tumbuh bukan lagi aku, tapi kesombonganku.

Dan suatu hari nanti,
aku akan tahu
bahwa akar yang tidak dirawat,
bisa membusuk…
bahkan pada pohon yang paling disembah.

***
Hari itu, angin sore lewat tanpa menyapa.
Biasanya ia menyusup pelan, menggelitik daun-daunku dengan lembut.
Kadang ia menyanyi, kadang ia hanya duduk diam di pangkal akarku.

Tapi hari itu, ia hanya lewat.
Tak ada desiran.
Tak ada sapaan.
Tak ada sentuhan kecil yang biasanya membuatku merasa penting.

“Mungkin dia lelah,” kataku dalam hati.

Tapi esoknya pun sama.
Dan esoknya lagi.
Dan minggu berikutnya,
burung-burung mulai memilih pohon jambu yang kecil itu di pinggir pagar.
Bahkan semut-semut tak lagi mau menelusuri kulitku yang dulu ramai seperti pasar pagi.

Aku masih berdiri megah.
Masih tinggi. Masih kokoh.
Tapi pelan-pelan aku mulai mendengar… bunyi gugur.

Daunku jatuh satu per satu, tanpa angin.
Bukan karena musim. Tapi karena… akar di dalamku mulai busuk.

Aku tahu itu.
Tapi aku tetap diam.
Karena aku percaya:
“Pohon sebesar aku, tidak akan tumbang hanya karena sedikit luka kecil di bawah tanah.”

Sampai suatu hari, seorang anak kecil lewat dan berkata pada ibunya:
“Bu, pohon beringin itu sekarang kelihatan serem, ya…
dulu kayak pelindung, sekarang kayak… mau nyeret orang ke bawah.”

Ibunya tidak menjawab.
Ia hanya menarik anaknya menjauh.
Dan untuk pertama kalinya,
aku merasa bayanganku tidak lagi teduh, tapi gelap.

Aku ingin bilang:
“Aku masih sama. Aku masih beringin yang dulu!”

Tapi siapa yang mau dengar pembelaan dari pohon yang tak pernah bicara saat dipuja?

Aku hanya bisa menggugurkan daun lagi,
menggugurkan harga diri,
dan menggugurkan bayangan bahwa aku akan abadi.

***
Aku mulai merasakan sepi.
Bukan karena dunia menjauh.
Tapi karena aku… selalu berdiri terlalu tinggi untuk menyapa siapa pun.

Dan saat aku mulai membusuk…
tak ada satu pun yang sadar bahwa aku butuh ditanya:
“Apa kamu baik-baik saja, wahai pohon?”

Karena tak ada yang pernah berpikir bahwa pohon yang sebesar aku… bisa hancur juga.

***
Aku masih berdiri.
Masih pohon. Masih beringin. Masih terlihat kokoh jika dilihat dari jauh.
Tapi aku tahu: isi dalamku kosong.

Kulitku mulai mengelupas.
Batangku mulai dihuni rayap—makhluk kecil yang dulu takut padaku.
Aku pernah menggertak mereka hanya dengan getaran akar.

Sekarang… mereka menggali rumah di tubuhku.
Dan aku tak punya alasan lagi untuk melarang mereka tinggal.

Aku kehilangan rimbunku.
Bukan karena badai.
Bukan karena musim.
Tapi karena sesuatu yang lebih sunyi dari semua itu: Tuhan yang diam-diam mencabut daunku.

Satu per satu.
Tak berbunyi.
Tak meninggalkan pesan.
Tak memberi peringatan.

Aku mencoba meronta.
Tapi aku hanyalah pohon.
Aku hanya bisa berdiri dan melihat kehormatanku rontok dalam bentuk daun-daun kering.

“Kenapa tidak Kau bentak aku?”
“Kenapa tidak Kau runtuhkan aku sekalian?”

Aku ingin dihukum besar-besaran.
Karena itu lebih masuk akal.
Karena hukuman besar bisa dibanggakan sebagai bagian dari narasi besar.

Tapi Tuhan tidak memberiku itu.
Ia memberiku sesuatu yang jauh lebih menusuk:
Penghilangan perlahan-lahan.
Pembiaran.
Pengasingan tanpa pengusiran.

Setiap pagi aku melihat makhluk-makhluk baru bermain di bawah pohon lain.
Pohon yang kecil.
Yang dulu menatapku dengan kagum.
Sekarang… aku yang menatap mereka dari jauh.

Dan yang paling menyakitkan adalah:
Tak ada satu pun yang menyebut namaku lagi.
Tak ada yang berkata, “Wah, rindangnya.”
Tak ada yang mengingat aku pernah menjadi pusat taman ini.

Kau tahu apa yang lebih menyakitkan daripada dibenci?

Dilupakan.
Dihapus pelan-pelan dari ingatan yang dulu memujimu.
Tidak menjadi musuh… hanya menjadi tak penting.

Dan aku tahu…
Tuhan tak pernah membenciku.
Justru karena itulah Dia membiarkanku menggugurkan kesombonganku sendiri.

Aku tumbuh terlalu tinggi.
Terlalu yakin.
Terlalu besar untuk bertanya.
Terlalu agung untuk merenung.

Sekarang aku belajar…
Ternyata takdir tidak selalu berupa petir dari langit.
Kadang ia datang dalam bentuk sepi yang konsisten.
Dalam bentuk perhatian yang tidak kembali.
Dalam bentuk udara yang lewat tanpa menyapamu.

***
Hari ini, tak ada yang melirikku.
Tak ada yang singgah.
Tak ada yang menggantungkan harap di batangku.

Dan mungkin…
itulah saat pertama kali aku melihat diriku sendiri
tanpa suara-suara yang menyembahku.

Untuk pertama kalinya… aku pohon.
Bukan pusat.

Bukan simbol.
Bukan tempat persembunyian.
Hanya… pohon yang kehilangan dirinya sendiri.

***
Aku tidak tumbang.
Padahal waktu kehilangan semua rimbunku, aku berharap Tuhan sekalian saja merobohkan batangku.
Biar selesai.
Biar tak ada lagi sisa ingatan tentang siapa aku dulunya.

Tapi tidak.
Tuhan membiarkan aku berdiri dengan tubuh yang hampir kosong.
Bukan sebagai kutukan.
Tapi sebagai pelajaran yang harus kulihat sendiri, tanpa siapa pun jadi saksi.

Setelah sunyi tak lagi menyakitkan, aku mulai merasakan satu hal:
lega.

Lega karena tak ada lagi yang memujiku.
Lega karena tak ada lagi yang berlindung untuk mengambil, bukan mengenal.
Lega karena akhirnya aku tahu,
selama ini aku hidup sebagai bayangan dari apa yang orang pikir tentang aku.

Kini, aku mulai tumbuh ke dalam.
Bukan lagi cabang yang menjulur minta dipuji.
Bukan lagi daun yang berkompetisi jadi paling rindang.
Aku tanam akarku dalam-dalam, bukan untuk menguasai tanah…
tapi untuk pertama kalinya: berusaha mengenal tanah.

Tanah yang selama ini kupijak…
tanpa pernah kutanya:
“Apakah kau lelah menopangku?”

Dulu aku pikir, kehilangan adalah kehancuran.
Tapi ternyata, kehilangan adalah cara Tuhan memisahkan aku… dari yang bukan aku.
Dari pujian yang tidak tulus.
Dari citra yang kubangun seperti menara pasir.
Dari diri palsu yang hanya hidup saat ada orang lain menatap.

Suatu sore, seekor burung kecil hinggap di batangku yang penuh bekas luka.
Ia diam. Tak takut. Tak kagum.
Ia hanya… istirahat.

Dan aku tidak menyesal lagi.
Karena aku tahu, aku masih bisa menjadi rumah—
bahkan dalam bentukku yang sudah tak sempurna.

***
Kini aku tahu:
aku tidak harus tinggi untuk berguna,
tidak harus rimbun untuk memberi teduh,
tidak harus diagungkan untuk jadi pelajaran.

Aku hanya perlu jujur.
Bahwa aku pernah sombong.
Pernah keras.

Pernah haus untuk terus dikagumi.
Dan kini aku belajar… menjadi biasa adalah bentuk tertinggi dari ikhlas.

Karena ketika pujian hilang,
dan aku tetap memilih berdiri—
itu artinya, aku benar-benar ingin hidup…
bukan sekadar tampil sebagai lambang kehidupan.




Penulis: Muhammad Caesar Rifyal Sidqi
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online