
Pohon yang Lelah
Tak ada yang bertanya
Berapa kali akar harus menelan gelap
Sebelum daun itu berani menyapa cahaya.
Semua hanya memuji
Rimbun yang tak tampak dari kejauhan
Tak pernah menghitung
Sebanyak apa retak yang diam-diam disembunyikan batang.
Barangkali,
Menjadi tegak
Bukan perkara tak pernah diterpa angina,
Melainkan tetap memeluk langit
Meski separuh diri
Sedang belajar banyak tentang menerima gugur yang menyapa.
Surat yang Tak Sampai
Aku menitipkan namamu
Pada punggu senja tiap harinya
Berharap ia mengenal jalan
Yang tak lagi aku ingat.
Nyatanya langit lebih pandai
Menyimpan dari pada mengembalikan
Maka sejak saat itu
Aku berhenti mengejar arti
Aku berhenti mengejar arti
Dan belajar membaca rindu
Dari burung-burung
Yang pulang tanpa suara
Sebab tidak semua kehilangan
Meminta ditemukan kembali
Sebagian hanya ingin
Dikenang
Tanpa dipanggil pulang.
Musim yang Tak Bernama
Ada musim
Yang tak pernah tercatat
Di setiap lembar penanggalan
Ia datang
Ketika hati terlalu penuh
Untuk disebut bahagia,
Namun terlalu tabah
Untuk diberi nama luka
Pada musim itu,
Daun-daun memilih jatuh
Tanpa gaduh,
Embun menyembunyikan dirinya
Di balik kelopak pagi,
Dan angina menjahit diam
Ke setiap jendela
Barangkali begitulah manusia
Sering kali tumbuh
Bukan saat bunga bermekaran,
Melainkan ketika tak seorang pun menyadari
Ia sedang belajar
Menjadi hutan yang tegar.


















