Althaf Yusuf, Santri Keturunan Kanada yang Memilih Nyantri di Tebuireng

59
Althaf Yusuf santri baru di SMP Sains Tebuireng Jombang (foto: sajjad)

Tebuireng.online- Menjadi santri di Pesantren Sains Tebuireng merupakan cita-cita yang telah lama disimpan oleh Althaf Yusuf Conrad Heapy. Santri baru kelas VII H itu, memilikigaris keturunan Kanada dari sang ayah, kedekatannya dengan lingkungan Tebuireng sejak kecil membuatnya mantap memilih pesantren sebagai tempat menuntut ilmu.

Althaf menceritakan bahwa dirinya lahir dan besar di Jombang. Ayahnya berasal dari Canada dan berprofesi sebagai guru yang kerap mengajar di berbagai negara Asia, sedangkan ibunya merupakan alumni pesantren. Latar belakang keluarga tersebut membuat Tebuireng bukanlah tempat yang asing baginya.

Baca Juga: Empat Santri SMP Sains Tebuireng Lolos OSN Provinsi, Pertahankan Rekor Terbaik Jombang Dua Tahun Beruntun

“Saya lahir di Jombang. Ayah memang berasal dari Kanada, tetapi beliau sering bekerja di beberapa negara Asia sebagai guru. Sejak kecil saya sudah mengenal Tebuireng karena tinggal di lingkungan sekitar. Saya merasa memang bagian dari Tebuireng,” tuturnya.

Keputusan untuk mondok di Pesantren Sains Tebuireng juga tidak lepas dari harapan kedua orang tuanya. Mereka meyakini pendidikan pesantren mampu membentuk karakter, akhlak, serta kedisiplinan yang lebih baik. Kepercayaan tersebut menjadi motivasi bagi Althaf untuk bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Orang tua percaya kepada Tebuireng karena berharap saya menjadi pribadi yang lebih baik. Saya ingin memenuhi harapan itu,” ungkapnya.

Althaf telah menyusun rencana pendidikan jangka panjang. Setelah menyelesaikan studi di SMP Sains Tebuireng, ia ingin melanjutkan ke SMA Trensains Tebuireng. Cita-citanya pun tidak jauh dari dunia sains, yakni menjadi arsitek, insinyur sipil, atau matematikawan.

Kecintaannya terhadap matematika telah tumbuh sejak kecil berkat bimbingan sang ayah. Baginya, matematika bukan sekadar mata pelajaran, melainkan bahasa yang menjelaskan keteraturan alam semesta. Karena itu, ia membiasakan diri belajar matematika lebih mendalam dibandingkan teman-teman seusianya.

Baca Juga: Dari Trensains Tebuireng ke China, Perjalanan Alicia Mengejar Mimpi Menjadi Dokter

“Saya suka matematika karena menurut saya matematika adalah bahasa alam semesta. Ayah juga sering mengajarkan saya matematika sejak kecil sehingga saya semakin menyukainya,” ujarnya.

Selama mengikuti rangkaian Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA), Althaf memperoleh banyak pengalaman baru mengenai kehidupan pesantren. Berbagai materi yang diterimanya, seperti pentingnya mencari keberkahan ilmu, pengenalan lingkungan Jabo, adab seorang penuntut ilmu, tahapan kehidupan santri, hingga sejarah berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng, menurutnya menjadi bekal penting dalam memulai kehidupan sebagai santri.

Sejak resmi tinggal di pesantren, Althaf merasakan perubahan positif dalam kesehariannya. Ia mengaku lebih disiplin dalam beribadah, semakin rajin belajar, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta lebih menjaga salat.

“Alhamdulillah saya senang dan bangga menjadi santri Tebuireng. Bahkan sebelum sekolah dimulai, saya merasa ibadah saya lebih baik, lebih rajin belajar, membaca Al-Qur’an, dan menjaga salat,” katanya.

Kepada kedua orang tuanya, Althaf menyampaikan pesan agar tidak lagi merasa khawatir. Ia mengaku telah merasa nyaman tinggal di asrama dan mulai memiliki banyak sahabat baru. Nasihat orang tuanya untuk meningkatkan kualitas mengaji, salat, dan doa pun terus ia pegang sebagai penyemangat selama menempuh pendidikan di pesantren.

“Untuk Ayah dan Ibu, jangan menangis. Saya sudah betah di sini dan sudah punya banyak teman. Pesan dari orang tua agar saya meningkatkan mengaji, salat, dan doa. Alhamdulillah semuanya sudah semakin baik,” tuturnya.

Menariknya, pilihan Althaf untuk menempuh pendidikan di pesantren juga sempat mengundang perhatian keluarga besarnya di Canada. Menurutnya, sistem pendidikan berasrama seperti pesantren belum menjadi budaya yang lazim di sana sehingga pada awalnya mereka merasa heran. Namun setelah memahami alasan di balik keputusannya, keluarga besarnya akhirnya memberikan dukungan penuh.

Baca Juga: Empat Guru SMP Sains Tebuireng Raih Prestasi di Ajang GTK Berprestasi 2026

“Beberapa saudara di Canada awalnya merasa aneh karena tidak terbiasa dengan sekolah berasrama seperti pesantren. Namun saya menjelaskan bahwa ini adalah pilihan saya. Setelah memahami alasan saya, mereka akhirnya mendukung sepenuhnya,” pungkas Althaf.