
Tebuireng.online— Pesantren Sains Tebuireng melanjutkan rangkaian Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) melalui kajian kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim dengan tema “Tata Krama Santri dalam Mencari Ilmu.” Materi tersebut disampaikan oleh Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, M.Ag. sebagai bekal awal bagi para santri dalam membangun karakter pencari ilmu yang beradab.
Baca Juga: Kenalkan Nilai BERKAH, Pesantren Sains Tebuireng Gembleng Karakter Santri Baru
Mengawali penyampaiannya, Kiai Musta’in mengajak para santri menumbuhkan keyakinan terhadap kemuliaan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan sekaligus sumber inspirasi ilmu pengetahuan.
“Al-Qur’an adalah buku sains paling akurat. Banyak fakta ilmiah yang baru ditemukan manusia berabad-abad kemudian, padahal isyaratnya telah lebih dahulu disebutkan di dalam Al-Qur’an,” ungkapnya di Masjid Salahuddin Al-Ayyubi Pesantren Sains Tebuireng Jombok, Selasa (7/7/2026).
Dewan Masyaikh Tebuireng itu, mencontohkan beberapa penemuan ilmiah yang selaras dengan kandungan Al-Qur’an, seperti proses penciptaan manusia dalam rahim, fenomena pertemuan dua laut yang tidak saling bercampur, hingga penjelasan mengenai kondisi atmosfer yang menyebabkan manusia mengalami kesulitan bernapas ketika berada pada ketinggian tertentu.
“Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan petunjuk yang tetap relevan sepanjang zaman,” tegasnya.
Baca Juga: Ulas Sejarah Pendiri, Sesi MOSBA Pesantren Sains Tebuireng Tekankan Pentingnya Adab dan Khidmah

Di hadapan santri baru, Kiai Musta’in menyinggung perkembangan Islam di berbagai negara, khususnya di kawasan Eropa. Ia menjelaskan bahwa jumlah masyarakat yang memeluk agama Islam terus mengalami peningkatan, termasuk di Inggris. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus peluang karena semakin dibutuhkan ulama dan cendekiawan Muslim yang mampu membimbing masyarakat dengan ilmu dan akhlak yang baik.
“Banyak orang mulai tertarik mempelajari Islam. Karena itu, umat Islam harus menyiapkan generasi yang berilmu dan berakhlak agar mampu menjadi pembimbing bagi masyarakat di masa depan,” jelas Dosen Ma’had Aly Hasyim Asy’ari itu.
Baca Juga: Cetak Santri Sejati, Pesantren Sains Tebuireng Resmi Buka Rangkaian MOSBA 2026
Selanjutnya, beliau mengajak para santri memahami bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kekhusyukan dalam beribadah. Menurutnya, kekhusyukan memang tidak mudah dicapai secara sempurna, bahkan oleh para ulama sekalipun. Namun, setiap muslim harus terus berusaha mempersiapkan diri agar ibadah dilakukan dengan penuh kesadaran.
Beliau membagikan beberapa langkah untuk membangun kekhusyukan dalam salat.
Pertama, memulai dengan wudu yang dilakukan secara tenang disertai niat yang benar. Kedua, menjaga hati tetap fokus ketika berjalan menuju masjid atau musala dengan memperbanyak zikir dan menghindari percakapan yang tidak perlu. Ketiga, membaca ta’awudz sebelum takbiratul ihram sebagai bentuk memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Selain itu, takbir dan bacaan salat hendaknya dilakukan dengan penuh penghayatan, tanpa tergesa-gesa.
Baca Juga: Temui Wali Santri Baru Pesantren Sains Tebuireng, Gus Kikin Sampaikan Pesan Ini
Di akhir materi, Kiai Musta’in menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak memuat seluruh pengetahuan ilmiah secara rinci. Menurutnya, Al-Qur’an hanya memberikan isyarat-isyarat tentang alam semesta agar manusia terdorong untuk berpikir, melakukan penelitian, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
“Al-Qur’an bukan kitab yang menjelaskan seluruh sains secara detail, tetapi memberikan petunjuk agar manusia mau berpikir, meneliti, dan menemukan hikmah di balik ciptaan Allah,” pungkasnya.


















