
Tebuireng.online- Pesantren Sains Tebuireng menggelar silaturahmi akbar antara jajaran pengasuh dan ratusan wali santri baru di Masjid Madrasah Shalahuddin Al-Ayyubi, Jombang, Jawa Timur, Ahad (05/07/2026). Agenda ini menjadi ruang konsolidasi awal untuk menyelaraskan komitmen pengasuhan santri selama masa pendidikan.
Dalam forum tersebut, Mudir IV Bidang Modal Insani Pesantren Tebuireng, KH. Agus Abdul Mughni, memaparkan data animo pendaftar yang cukup tinggi pada tahun ini. Berdasarkan laporannya, total pendaftar santri baru mencapai 963 orang.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 515 calon santri dinyatakan lulus seleksi, sedangkan 480 santri telah merampungkan proses daftar ulang,” urai sosok yang akrab disapa Gus Mughni tersebut.
Mewakili ratusan orang tua yang hadir, Dr. Ahmad Sholihuddin, M.Pd., M.A., secara resmi menyerahkan mandat pendidikan putra-putri mereka kepada pihak pesantren. Ia menegaskan bahwa seluruh wali santri siap menundukkan ego dan patuh secara mutlak terhadap regulasi yang berlaku di Trensains Tebuireng.
“Untuk itu kami sepenuhnya menyerahkan dan akan tunduk pada aturan yang ada di pesantren,” tegas Sholihuddin.
Ia turut memberikan apresiasi tinggi atas profesionalisme Pesantren Tebuireng dalam mempersiapkan infrastruktur pengasuhan. Menurutnya, langkah pesantren yang telah menempa dan menggembleng para pembina asrama secara intensif selama dua bulan terakhir memberikan rasa aman bagi para orang tua.
Lebih lanjut, Sholihuddin mengajak seluruh wali santri yang hadir untuk tidak sekadar menyerahkan anak, melainkan ikut berjuang melalui jalur spiritual (tirakat) dan pasokan doa yang tidak terputus dari rumah.
Sesi puncak acara diisi dengan penyampaian amanat langsung dari Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Untuk memantik nyali dan daya juang akademik para santri baru, Gus Kikin menjadikan sosok istrinya, Nyai Dr. H. Lelly Lailiyah Novianti, Dra., M.M., yang baru saja merampungkan Sidang Terbuka Ujian Doktor, sebagai teladan nyata. Ia berharap capaian intelektual tersebut mampu menduplikasi semangat para santri untuk mengejar ilmu hingga jenjang tertinggi.
Di luar urusan akademik, Gus Kikin memberikan titik tekan pada fondasi spiritual santri. Beliau membedah makna fundamental dari Islam, Iman, dan Ihsan sebagai landasan hidup. Secara spesifik, beliau menyoroti urgensi konsep Ihsan dalam pelaksanaan shalat, yakni kesadaran penuh bahwa ibadah dilakukan seolah-olah berhadapan langsung dengan Sang Pencipta.
“Kalau tidak bisa begitu, bayangkan dan sadari bahwa kita sedang dilihat oleh Allah,” pesan Gus Kikin di hadapan para wali santri.
Menutup amanatnya, Gus Kikin menitipkan pesan kepada para orang tua agar senantiasa menjadi pilar pendukung utama secara psikologis dan spiritual. Keberhasilan penempaan santri di Tebuireng dinilai sangat bergantung pada kekuatan doa dan rida yang mengalir dari rumah masing-masing.

Pewarta: Ilvi
Editor: Sutan


















