Kenalkan Nilai BERKAH, Pesantren Sains Tebuireng Gembleng Karakter Santri Baru

9

Tebuireng.online- Pesantren Sains Tebuireng melanjutkan rangkaian agenda Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) tahun ajaran 2026/2027 di Masjid Salahuddin Al-Ayyubi, Jombang, Jawa Timur, Senin (06/07/2026). Sesi kali ini mengangkat materi ideologis bertema “Tebuireng Berkah: Nilai-Nilai Budaya Pesantren Tebuireng” dengan menghadirkan pakar hukum Islam, Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I. sebagai pemateri utama.

Dalam eksposisinya, Kiai Achmad Roziqi membedah secara mendalam konsep “BERKAH” yang menjadi identitas nilai sekaligus potret karakter di lingkungan Pesantren Tebuireng. Nilai tersebut merupakan akronim terpadu dari enam pilar utama, yaitu: Berilmu, Etika, Religius, Kreatif, Amal Saleh, dan Hikmah. Karakteristik ini ditegaskan tidak boleh berhenti sebagai slogan institusi, melainkan wajib terinternalisasi dalam laku hidup kesearian santri.

Kiai Roziqi mengawali ulasannya dengan mengajak para santri memahami makna barakah secara makro. Merujuk pada aspek kebahasaan, keberkahan merepresentasikan sesuatu yang tumbuh, berkembang, dan bertambah (ziyadah). Ia juga menyitir pandangan ulama kontemporer Mesir, Prof. Dr. Ali Jum’ah, yang mendefinisikan keberkahan sebagai akumulasi kebaikan yang terus mereproduksi manfaat luas bagi kemaslahatan hidup.

Guna mengontekstualisasikan narasi tersebut, kisah masa kecil Prof. Ali Jum’ah yang memiliki gairah literasi tinggi hingga membangun perpustakaan kitab pribadi disodorkan sebagai inspirasi. Dari keteladanan itu, Kiai Roziqi menitipkan pesan mengenai sakralnya etika akademis di pesantren, terutama dalam budaya menisbatkan sebuah dalil atau ilmu kepada sumber aslinya.

“Menisbatkan ilmu kepada sumbernya adalah bagian dari amanah ilmiah dan termasuk adab dalam tradisi keilmuan pesantren,” urai Kiai Roziqi, Senin.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam teologi Islam, Allah SWT merupakan hulu dari segala keberkahan yang mewujud melalui ruang, waktu, maupun figur-figur mulia. Atas dasar itu pula, konsep tabarruk (ikhtiar memburu keberkahan) diperkenalkan kepada santri baru sebagai jembatan spiritual dalam menuntut ilmu.

Pada klausul nilai “Berilmu”, Kiai Roziqi menggarisbawahi bahwa watak dasar seorang santri adalah budaya belajar yang presisi, tekun, dan anti-instan. Ia menilai, para siswa di Pesantren Sains memegang privilese besar karena mengawinkan dua sistem pengajaran sekaligus: kurikulum formal sains modern dan metodologi pesantren salaf.

Guna melecut gairah intelektual peserta MOSBA, ia menyitir adagium legendaris dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, mengenai posisi vital ilmu pengetahuan bagi peradaban:

“La khaira fi ummatin anna juhala, wa la tashluhu ummatun illa bil ilmi” (Tidak ada kebaikan pada suatu umat apabila generasinya dipenuhi kebodohan, dan suatu umat tidak akan menjadi baik kecuali dengan ilmu).

Menutup ceramah ilmiahnya, Kiai Roziqi mengingatkan agar status sebagai siswa berbasis sains tidak melunturkan identitas kepesantrenan mereka. Kecerdasan logika dan capaian akademik harus berjalan linier dengan konsistensi ibadah ritual, keluhuran adab, penghormatan mutlak kepada guru serta orang tua, serta ketangkasan dalam menyaring pergaulan di era digital.

Baca Juga: Ulas Sejarah Pendiri, Sesi MOSBA Pesantren Sains Tebuireng Tekankan Pentingnya Adab dan Khidmah


Pewarta: Aulia

Editor: Sutan