Berhemat Dulu, Menabung Kemudian

36
Ilustrasi seseorang yang belajar berhemat dan menabung

Penulis: Robi’ah Machtumah Malayati*

Menghemat pengeluaran tanpa meningkatkan penghasilan akan membuat perjalanan terasa lebih lambat. Sebaliknya, ketika keduanya dilakukan bersamaan, proses menuju kondisi keuangan yang lebih baik akan berlangsung lebih cepat. Setelah mulai memiliki sisa uang, langkah berikutnya adalah menabung.

Belakangan ini saya sering mendengar pandangan yang cukup menarik tentang keuangan. Ada yang mengatakan bahwa menabung bukanlah pangkal kekayaan. Menurut pandangan ini, seseorang tidak menjadi kaya karena menabung, melainkan karena mampu memperbesar penghasilan dan memiliki mentalitas berkelimpahan. Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa terlalu menahan diri dalam membelanjakan uang justru dapat menciptakan mentalitas kekurangan.

Baca Juga: Tujuh Kesalahan Penyebab Gagal Berhemat

Logikanya begini. Jika kita terus-menerus takut mengeluarkan uang, kita akan hidup dalam ketakutan. Kita merasa bahwa uang selalu kurang, sehingga pikiran kita terjebak dalam rasa cemas. Sebaliknya, ketika kita berani membelanjakan uang dan tidak terlalu takut kehilangan, kita melatih diri untuk percaya bahwa rezeki akan terus datang. Dari sinilah muncul istilah “mindset berkelimpahan”.

Menurut saya, ada benarnya juga pandangan tersebut. Mentalitas memang berpengaruh terhadap cara seseorang menjalani hidup. Orang yang selalu merasa kekurangan sering kali sulit melihat peluang. Sebaliknya, orang yang memiliki keyakinan dan optimisme biasanya lebih berani melangkah. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan. Tidak semua orang berada dalam kondisi keuangan yang sama. Bagi mereka yang benar-benar memiliki keterbatasan ekonomi, menerapkan konsep “bebas membelanjakan uang” tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Masalahnya bukan pada mentalitas semata, tetapi pada kenyataan bahwa uang yang dimiliki memang terbatas.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saya pernah berada dalam kondisi seperti itu. Penghasilan terbatas, kebutuhan cukup banyak, sementara tabungan hampir tidak ada. Pada saat itu saya juga sudah mengenal berbagai wawasan tentang mindset berkelimpahan. Saya pernah mendengar bahwa terlalu pelit atau terlalu ngirit justru membuat seseorang semakin miskin. Akan tetapi, ketika saya mencoba menerapkannya, kenyataannya tidak sesederhana teori.

Baca Juga: Literasi Finansial Anak, Cinta Realistis yang Sering Terlupakan

Karena itulah saya memilih strategi yang menurut saya lebih logis dan lebih sesuai dengan kondisi saat itu, yaitu berhemat. Berhemat bukan berarti menyiksa diri. Berhemat juga bukan berarti hidup dalam ketakutan. Berhemat adalah kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan adalah sesuatu yang memang harus dipenuhi karena berkaitan dengan keberlangsungan hidup dan tanggung jawab kita. Makan, minum, tempat tinggal, biaya kesehatan, pendidikan anak, dan kebutuhan pokok lainnya termasuk dalam kategori ini.

Sementara itu, keinginan adalah sesuatu yang sebenarnya tidak harus dipenuhi saat itu juga. Kita mungkin menginginkannya, tetapi jika ditunda, hidup kita tetap berjalan dengan baik. Misalnya membeli barang baru padahal yang lama masih berfungsi, atau mengikuti gaya hidup tertentu hanya karena tren.

Tentu saja, hidup hemat tidak selalu terasa nyaman. Ada kalanya kita ingin membeli sesuatu tetapi harus menahan diri. Ada saat-saat ketika kita melihat orang lain bisa menikmati banyak hal sementara kita harus berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang. Perasaan tertahan itu memang nyata.

Baca Juga: Seorang Penjahit Umrah tanpa Menabung, Apa Rahasianya?

Namun, saya memandang fase ini seperti mendaki gunung. Ketika seseorang mendaki gunung, ia harus mengeluarkan tenaga lebih besar daripada saat berjalan di jalan datar. Napas terasa berat, kaki terasa pegal, dan terkadang muncul keinginan untuk berhenti dan beristirahat lebih lama. Akan tetapi, jika terlalu sering berhenti, perjalanan menuju puncak akan semakin lama.

Demikian pula dengan berhemat. Ini adalah fase pendakian. Memang tidak selalu nyaman, tetapi ada tujuan yang ingin dicapai. Karena itu diperlukan konsistensi. Tetapkan target yang jelas, lalu jalani prosesnya dengan disiplin.

Di saat yang sama, jangan hanya fokus menghemat pengeluaran. Kita juga perlu berupaya menambah sumber penghasilan. Carilah peluang tambahan sesuai kemampuan yang dimiliki. Bisa melalui pekerjaan sampingan, usaha kecil-kecilan, jasa, atau keterampilan yang dapat menghasilkan uang.

Menghemat pengeluaran tanpa meningkatkan penghasilan akan membuat perjalanan terasa lebih lambat. Sebaliknya, ketika keduanya dilakukan bersamaan, proses menuju kondisi keuangan yang lebih baik akan berlangsung lebih cepat. Setelah mulai memiliki sisa uang, langkah berikutnya adalah menabung.

Menabung sebaiknya dilakukan secara bertahap dan konsisten. Tidak perlu menunggu jumlah besar. Mulailah dari apa yang ada. Sisihkan sebagian pendapatan setiap bulan, lalu tempatkan pada rekening atau instrumen yang tidak terlalu mudah diakses untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Belajar Ekonomi kepada Nabi Yusuf

Tetapkan target yang jelas. Misalnya mencapai tabungan pertama sebesar sepuluh juta rupiah. Setelah itu lanjutkan ke dua puluh juta rupiah, lima puluh juta rupiah, atau bahkan seratus juta rupiah. Target-target kecil akan membantu kita menjaga motivasi karena kemajuan yang dicapai dapat terlihat secara nyata.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi ketika uang itu berhasil terkumpul?

Banyak orang mengira bahwa tujuan menabung adalah agar suatu hari nanti kita bisa berbelanja sepuasnya. Menurut saya, bukan itu tujuan utamanya. Nilai terbesar dari tabungan bukan terletak pada jumlah uangnya, melainkan pada rasa aman yang diciptakannya.

Tabungan memberikan ketenangan. Kita tidak terlalu panik ketika ada kebutuhan mendadak. Kita tidak mudah cemas menghadapi masa depan. Kita memiliki ruang untuk berpikir lebih jernih karena tidak terus-menerus dihantui kekhawatiran tentang uang. Lebih dari itu, tabungan juga membangun kepercayaan diri. Ada perasaan bahwa kita memiliki pegangan. Kita tidak lagi merasa berada di tepi jurang yang setiap saat bisa membuat kita terjatuh.

Dalam perspektif komunikasi, keberhasilan menabung sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola uang, tetapi juga oleh kemampuan berkomunikasi, terutama komunikasi intrapersonal.

Baca Juga: Membentuk Kebiasaan Berbelanja Berdasarkan Kebutuhan Bukan Keinginan

Pertama adalah komunikasi dengan diri sendiri. Setiap hari kita melakukan dialog batin. Ketika melihat sesuatu yang menarik, ada suara yang berkata, “Beli saja.” Namun ada pula suara lain yang bertanya, “Apakah ini benar-benar dibutuhkan?”

Pertarungan terbesar dalam menabung sering kali bukan terjadi dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri. Orang yang berhasil menabung biasanya mampu membangun komunikasi internal yang sehat. Ia tidak melihat tabungan sebagai kehilangan, tetapi sebagai investasi bagi ketenangan masa depan. Ia tidak berkata kepada dirinya, “Saya sedang menahan diri,” melainkan, “Saya sedang membangun kebebasan.”

Cara kita berbicara kepada diri sendiri akan menentukan cara kita bertindak. Jika menabung dipandang sebagai penderitaan, maka kita akan mudah menyerah. Namun jika menabung dipandang sebagai jalan menuju ketenangan dan kemerdekaan, maka kita akan lebih kuat menjalaninya.

Kedua adalah komunikasi dengan orang-orang di sekitar kita. Tidak sedikit pengeluaran terjadi karena tekanan sosial. Kita membeli sesuatu karena tidak enak hati, karena ingin dianggap berhasil, atau karena takut dianggap berbeda.

Baca Juga: Membaca Ulang Realita Kemandirian Gen Z

Di sinilah kemampuan berkomunikasi secara asertif menjadi penting. Kita perlu mampu mengatakan, “Saat ini saya sedang memiliki target tabungan,” atau “Saya sedang mengatur keuangan.” Kalimat sederhana seperti itu sering kali mampu melindungi kita dari banyak pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.

Menariknya, banyak orang gagal menabung bukan karena tidak memiliki uang, tetapi karena tidak memiliki keberanian untuk mengomunikasikan prioritas hidupnya. Karena itu, jika saat ini kondisi keuangan masih terbatas, jangan terlalu terburu-buru mengejar berbagai teori yang terdengar indah tetapi sulit diterapkan dalam kenyataan. Mulailah dari langkah yang sederhana dan realistis. Berhematlah untuk sementara waktu. Jalankan dengan konsisten. Tambah sumber penghasilan semampunya. Setelah itu, bangun kebiasaan menabung hingga mencapai target tertentu.

Ketika seseorang berhasil berhemat, menabung, dan konsisten menjalankannya, sesungguhnya ia tidak hanya sedang membangun kekuatan finansial. Ia juga sedang membangun kekuatan komunikasi dalam dirinya. Dan ketika tabungan itu mencapai titik tertentu, yang lahir bukan hanya kebebasan finansial, tetapi juga kebebasan psikologis, yaitu kebebasan dari rasa takut, dari kecemasan yang berlebihan, dan dari tekanan untuk selalu mengikuti keinginan sesaat.

Baca Juga: Menemukan Ketenangan Tanpa Harus Kehilangan Keseimbangan

Pada titik itulah menabung menjadi lebih dari sekadar strategi keuangan. Ia menjadi sarana membangun pribadi yang lebih tenang, lebih sadar akan tujuan hidupnya, dan lebih merdeka dalam mengambil keputusan.



*Pengajar Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Hasyim Asy’ari.