“Tidak hanya dihormati penduduk bumi, tetapi juga disegani penduduk langit.”

Siapa yang ingin menjadi pribadi yang beruntung? Pasti kita semua ingin sekali menjadi pribadi yang selalu beruntung. Karena semua orang pasti ingin sukses dan dimudahkan segala urusannya.

Sayangnya, kita justru tidak menyadari prilaku apa saja yang bisa menjadikan diri kita selalu beruntung. Bahkan kita sendiri pernah melakukan sesuatu yang justru menolak keberuntungan. Sebab akhlak kitalah yang sebenarnya bisa menolak atau mengundang keberuntungan.

Lalu keberuntungan seperti apa yang dimaksud dalam buku ini? Keberuntungan yang dimaksud yaitu keberuntungan yang selalu kita rindukan, yakni pertolongan Allah yang datang tak terduga sehingga urusan kita menjadi lancar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Keberuntungan seperti itu tentu tidak datang begitu saja, melainkan kita harus mempersiapkan diri. Apabila diri kita (hati dan pikiran) telah tertata dengan baik, otomatis kemampuan kita untuk memperlakukan orang juga sangat baik. Sehingga tanpa kita meminta pun, keberuntungan itu akan datang dengan sendirinya.

kisah inspiratif, diambil dalam buku ini.

Buku ini menghadirkan pola sunnatullah, pola sederhana yang tersaji dalam kisah inspiratif penuh hikmah. Serta terdapat pesan kehidupan sebagai alarm untuk melakukan kebaikan. Terdapat 50 judul kisah inspiratif yang berbeda. Taburan hikmah itu semoga mampu menumbuhkan mata hati dan menjernihkan pikiran kita.

Salah satu contoh, kisah inspiratif yang berjudul “Dilihat Penduduk Langit” (bagian 41 hal. 171). Dalam kisah tersebut menceritakan seorang bapak yang berpenampilan biasa saja. Seperti orang lain, beliau menjemput rezeki di pasar dari pagi sampai sore. Bukan sebagai pedagang, tetapi sebagai penjahit.

Terdapat salah satu kebiasaan beliau yang membedakan dengan kebanyakan orang. Disaat orang lain transaksi bisnis, beliau meninggalkan pasar, mengayuh sepeda buntutnya itu, kembali ke rumah untuk berwudhu, memakai baju yang rapi dan mengambil kunci. Dengan wajah yang cerah, beliau berjalan menuju masjid.

Beliau selalu menjadi muadzin di masjid. Tak hanya shalat Dhuhur saja, melainkan shalat wajib lainnya. Selepas shalat Dhuhur, beliau kembali ke rumah lalu pergi ke pasar. Begitu tiba shalat Ashar, beliau pulang ke rumah ganti baju yang rapi, pergi ke masjid, balik ke rumah untuk ganti kaos, kemudian pergi ke pasar lagi. Begitu seterusnya beliau lakukan sampai bertahun-tahun.

Tak berhenti sampai di situ saja, selepas shalat Maghrib di saat orang orang kembali ke rumah masing-masing, beliau dengan ramah mengajarkan anak-anak membaca iqra’ dan Al-Quran. Dengan sabar dan telaten beliau mendengarkan bacaan Al-Quran anak-anak. Apabila ada yang keliru beliau membetulkan.

Orang lain berpikir, “apa untungnya jadi pelayan masjid?”

“Kita rajin dagang biar bisa nabung buat umrah dan biar bisa haji kok, entar aja shalatnya, waktunya masih panjang,” celetuk para pedagang kepada beliau.

Tetapi beliau lebih memilih bersusah payah untuk bolak balik ke pasar, rumah dan masjid untuk adzan lebih dari 30 tahun. Apa hasilnya? Allah mboten sare. Tanpa menabung untuk umrah, akhirnya beliau bisa umrah.

Orang-orang di pasar kaget semua, “Lhah kok bisa?”

Allah melihat semua pengabdian beliau. Allah yang menggaji dan mencukupi semua kebutuhan beliau. Allah pula yang memberikan rezeki kepada beliau hingga bisa beribadah umrah. Allah telah menyentuh hati para saudagar kaya untuk mengumpulkan uang membayar umrah beliau.

Catatan inspirasi dari kisah tersebut yaitu: tidak peduli orang lain berkata apa, asalkan Allah rida ya jalani saja. Sebab caci maki manusia tidak bisa merendahkan derajat kita. Begitu juga pujian mereka tidak mampu menaikkan derajat kita. Tak perlu sibuk mencari muka di depan manusia, cukup bagi kita Allah saja. (Hal. 174).

Demikian ulasan buku “Menjadi Pribadi yang Selalu Beruntung”. Semoga taburan hikmahnya mampu membuka mata hati dan menjernihkan pikiran kita. Sehingga kita semakin pantas untuk menjadi pribadi yang selalu beruntung.

Sekian, semoga bermanfaat.

Judul Buku: Menjadi Pribadi yang  Selalu Beruntung
Penulis: Dwi Suwiknyo
Tebal:  213 halaman
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: Cetakan ke-14, 2016
Peresensi: Izzatul Mufidati (anggota Tebuireng.Online)

 

SebelumnyaMOSBA, Memperkenalkan Santri Seputar Pesantren Tebuireng
BerikutnyaJika Tuhan Maha Kuasa, Kenapa Manusia Menderita?