Alam Menjerit dan Kita Memilih Diam

3
Sebuah ilustrasi kerusakan alam
Krisis lingkungan bukan hanya krisis alam, melainkan krisis kesadaran manusia. Alam sedang menjerit, tetapi sering kali kita memilih diam. Islam mengajarkan bahwa bumi adalah amanah, bukan warisan yang bebas dihabiskan.

Belakangan ini berbagai persoalan lingkungan semakin sering menghiasi pemberitaan. Hutan dibuka untuk perkebunan, gunung dibelah untuk diambil batu dan pasirnya, sungai dipenuhi limbah, sementara bumi terus dikeruk demi mendapatkan emas, nikel, tembaga, dan berbagai mineral yang dibutuhkan industri modern. Semua dilakukan atas nama pembangunan dan kemajuan.

Baca Juga: Saatnya Dakwah Merangkul Isu Lingkungan

Namun di tengah derasnya eksploitasi tersebut, muncul pertanyaan yang jarang diajukan: untuk apa sebenarnya Allah menciptakan alam semesta? Apakah karena alam menyediakan kekayaan yang melimpah, lalu manusia bebas memanfaatkannya tanpa batas? Ataukah ada tanggung jawab yang harus dipikul ketika manusia mengambil manfaat dari alam?

Untuk Apa Allah Menciptakan Alam?

Sebagian orang mungkin akan menjawab bahwa alam memang diciptakan untuk manusia. Jawaban ini tidak sepenuhnya salah. Islam mengajarkan bahwa bumi dan segala isinya dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan manusia. Kita makan dari hasil tanah, minum dari air yang mengalir, membangun rumah dari hasil hutan dan tambang, serta menggunakan berbagai sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tanpa alam, manusia tidak akan mampu bertahan hidup.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun persoalannya bukan terletak pada penggunaan alam, melainkan pada cara manusia memperlakukannya. Hari ini, kebutuhan sering kali berubah menjadi kerakusan. Ketika manusia mengetahui bahwa emas memiliki nilai ekonomi tinggi, gunung dibongkar untuk mencarinya. Ketika dunia membutuhkan nikel untuk kendaraan listrik, tambang diperluas hingga masuk ke kawasan hutan. Ketika energi fosil dianggap tidak lagi berkelanjutan, jutaan hektare lahan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif.

Semua dibungkus dengan istilah pembangunan. Semua diklaim sebagai langkah menuju masa depan yang lebih baik. Namun pertanyaannya, pembangunan untuk siapa? Sebab yang sering terjadi, keuntungan dinikmati oleh segelintir pihak, sementara dampak ekologisnya harus ditanggung oleh masyarakat luas dan generasi yang akan datang.

Baca Juga: Darurat Sampah Sungai, Dari Krisis Lingkungan Menuju Gerakan Kesadaran Kolektif

Kita sering mendengar istilah ekonomi hijau, energi hijau, atau pembangunan berkelanjutan. Akan tetapi, jika hutan harus ditebang untuk membuka perkebunan baru dan kawasan tambang terus diperluas demi memenuhi kebutuhan industri hijau, seberapa hijau sebenarnya pembangunan tersebut? Jangan-jangan kita hanya sedang memindahkan kerusakan dari satu tempat ke tempat lain.

Akibatnya mulai terlihat di depan mata. Hutan yang dahulu menjadi rumah bagi berbagai satwa kini berubah menjadi kawasan industri dan perkebunan monokultur. Sungai kehilangan kualitas airnya, tanah menjadi semakin tandus, dan berbagai spesies kehilangan habitatnya. Alam dipaksa terus memberi, tetapi tidak pernah diberi kesempatan untuk memulihkan dirinya.

Yang lebih memprihatinkan, persoalan ini sering kali belum menjadi perhatian serius umat Islam. Banyak orang sangat sensitif ketika agama dihina, tetapi tidak merasa terganggu ketika sungai tercemar. Banyak yang bersemangat membahas persoalan halal dan haram, tetapi diam ketika hutan dibabat habis. Seolah-olah kerusakan lingkungan bukan bagian dari persoalan keagamaan.

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Dalam artikelnya tentang etika Islam dalam memanfaatkan sumber daya alam, Islah Gusmian menjelaskan bahwa hubungan manusia tidak hanya terbatas pada hubungan dengan Allah (habl min Allah) dan sesama manusia (habl min al-nas), tetapi juga dengan alam (habl min al-‘alam wa al-bi’ah). Kesadaran inilah yang disebut sebagai kesadaran ekoteologis. Artinya, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari penghambaan kepada Tuhan.

Al-Qur’an juga telah mengingatkan, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya” (QS. Al-A’raf: 56). Ayat ini menunjukkan bahwa merusak lingkungan bukan hanya kesalahan ekologis, tetapi juga pelanggaran moral dan spiritual. Karena itu, seorang Muslim seharusnya tidak hanya peduli pada hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan tempat ia hidup.

Baca Juga: Merawat Bumi dari Pesantren: Inspirasi Bank Sampah Tebuireng

Sebagai khalifah di bumi, manusia diberi amanah untuk menjaga keseimbangan alam, bukan menghabiskannya. Sayangnya, istilah khalifah sering dipahami sebagai hak untuk menguasai alam, bukan kewajiban untuk merawatnya. Padahal seorang khalifah yang baik adalah mereka yang menjaga apa yang diamanahkan kepadanya, bukan mengurasnya hingga habis.

Dalam hal ini, isu lingkungan semestinya menjadi bagian dari dakwah Islam. Masjid, pesantren, kampus, dan lembaga keagamaan perlu lebih lantang menyuarakan keadilan ekologis. Sebab kerusakan alam bukan hanya persoalan pohon yang ditebang atau sungai yang tercemar, tetapi juga persoalan moralitas manusia yang semakin jauh dari nilai amanah dan tanggung jawab.

Krisis lingkungan bukan hanya krisis alam, melainkan krisis kesadaran manusia. Alam sedang menjerit, tetapi sering kali kita memilih diam. Islam mengajarkan bahwa bumi adalah amanah, bukan warisan yang bebas dihabiskan. Oleh karena itu, menjaga lingkungan bukanlah agenda pilihan, tetapi bentuk karakter seorang muslim. Di tengah krisis ekologis yang semakin parah, mungkin salah satu bentuk ibadah yang paling mendesak hari ini adalah menjaga alam agar tetap layak dihuni oleh generasi yang akan datang.

Baca Juga: Sampah Pesantren Jadi Masalah Bersama yang Tak Bisa Diabaikan