
Namanya Ilham Rahmatullah. Nama itu kupilih dengan tangis yang tak pernah benar-benar selesai. Ilham, karena ia hadir melalui isyarat yang tak pernah kupahami sepenuhnya. Rahmatullah, karena aku berharap hidupnya kelak menjadi rahmat bagi siapa pun yang mencintainya.
Baca Juga:
Sudah empat puluh hari sejak aku melahirkannya. Empat puluh hari sejak aku menyusui tubuh mungil itu untuk terakhir kalinya. Dan empat puluh hari pula aku belajar menerima bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berarti memiliki.
Namun ternyata melepaskan anak jauh lebih mudah dibanding menghadapi manusia.
“Fatimah itu tega.”
“Anaknya masih merah kok diberikan orang lain.”
“Kalau memang nggak mau punya anak, kenapa hamil?”
“Aneh. Ibunya masih hidup tapi anaknya diasuh orang lain.”
Kalimat-kalimat itu bertebaran seperti duri yang sengaja disebarkan di jalan yang harus kulewati setiap hari.
Awalnya aku mencoba tidak peduli. Aku menutup telinga. Aku menunduk. Aku memperbanyak istighfar. Tapi aku tetap manusia.
Ada hari-hari ketika kata-kata itu berhasil masuk ke dalam dada dan mengaduk semuanya. Suatu pagi aku berpapasan dengan dua ibu-ibu tetangga di warung. Mereka langsung diam ketika melihatku.
Lalu salah satunya berbisik cukup keras untuk kudengar.
“Itu lho ibunya Ilham.” Yang satunya menjawab pelan.
“Iya, kasihan anaknya.” Aku tersenyum.
Tapi setelah sampai rumah, aku menangis sendirian di dapur. Tanganku gemetar saat mencuci piring.
Kasihan anaknya.
Kalimat itu terus terngiang. Seolah aku adalah ibu yang meninggalkan anaknya di pinggir jalan. Padahal tidak ada satu malam pun aku tidur tanpa memikirkan Ilham.
Tidak ada satu pagi pun aku bangun tanpa merindukan aroma tubuhnya. Aku masih mengingat hangat pipinya saat pertama kali kutempelkan ke dadaku. Aku masih mengingat genggaman jemarinya.
Aku masih mengingat suara tangis pertamanya. Dan justru karena aku mengingat semuanya, rasa sakit itu menjadi berkali-kali lipat. Malam harinya Hasan menemukan aku menangis di ruang belakang.
“Masih kepikiran?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Mereka bilang aku tega.” Hasan duduk di sampingku.
“Mereka tidak tahu apa yang kita lalui.” Aku tertawa kecil di sela tangis.
“Itulah masalahnya. Mereka tidak mau tahu.” Aku menatap langit-langit rumah yang mulai kusam.
“Kalau saja mereka tahu berapa malam aku menangis selama hamil.”
“Kalau saja mereka tahu aku pernah berharap mimpi itu berhenti datang.”
“Kalau saja mereka tahu aku pernah memohon kepada Allah agar isyarat itu salah.”
Suaraku pecah.
“Tapi kenapa yang mereka lihat cuma hasil akhirnya?” Hasan tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tanganku. Kadang memang tidak ada jawaban untuk luka semacam itu.
***
Hari-hari berlalu. Namun pembicaraan orang-orang tidak berhenti. Bahkan keluargaku sendiri masih sulit menerima. Suatu sore ayah datang berkunjung. Usianya semakin renta sejak ibu wafat.
Ia duduk lama di ruang tamu tanpa banyak bicara. Lalu tiba-tiba bertanya.
“Kamu bahagia, Fatimah?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu terlalu sederhana, tapi terasa berat.
“Ayah nggak tahu.”
Beliau menunduk.
“Kadang Ayah masih marah.”
Aku menahan napas.
“Tapi Ayah juga tahu kamu bukan anak yang sembarangan mengambil keputusan.”
Mataku mulai basah.
Ayah melanjutkan dengan suara bergetar.
“Ayah cuma sedih.”
Kalimat itu menghancurkanku.
Karena aku pun sedih.
Sangat sedih.
Tidak ada satu bagian pun dari diriku yang baik-baik saja. Aku tidak pernah merasa hebat karena telah merelakan Ilham. Aku tidak pernah merasa suci. Aku tidak pernah merasa menjadi manusia yang luar biasa.
Aku hanya seorang ibu yang sedang berusaha menepati sesuatu yang diyakininya sebagai amanah dari Tuhan. Amanah tidak selalu datang dalam bentuk yang menyenangkan.
Beberapa minggu kemudian aku memberanikan diri mengunjungi rumah Kiai Soleh.
Sudah lama aku menahan diri karena khawatir rindu ini semakin menjadi. Saat tiba di sana, anak perempuan Kiai Soleh sedang menggendong Ilham.
Bayi itu tampak sehat. Pipinya semakin berisi. Matanya bening. Ia tertawa kecil ketika diajak bicara.
Aku berdiri di ambang pintu sambil menahan air mata. Perempuan itu segera menghampiriku.
“Bu Fatimah…” Suaranya langsung bergetar. Kami saling berpelukan.
Lalu tanpa bisa ditahan lagi, ia menangis. Tangis yang selama ini mungkin juga dipendamnya.
“Saya tahu orang-orang banyak menyalahkan panjenengan.”
Aku terdiam. Ia melanjutkan.
“Tapi setiap malam saya berdoa agar Allah menjaga hati panjenengan.” Tangisku pecah.
Untuk pertama kalinya sejak Ilham lahir, aku merasa ada seseorang yang benar-benar memahami rasa sakitku.
Perempuan itu mengusap air matanya.
“Saya ingin panjenengan tahu satu hal.”
Ia menatapku dalam-dalam.
“Ilham tidak pernah kehilangan ibu.”
Aku tidak mampu menjawab.
“Saya hanya diberi kesempatan menjadi ibu yang kedua.”
Kalimat itu membuat seluruh pertahananku runtuh. Aku menangis sambil memeluk Ilham. Bayi itu tertidur di dadaku. Hangat. Lembut. Seperti hari pertama aku mengenalnya.
Saat itulah aku mengerti sesuatu. Selama ini aku terlalu sibuk mendengar suara manusia. Padahal yang harus kujaga adalah suara hatiku sendiri.
Manusia akan selalu memiliki pendapat. Hari ini mereka menyalahkan. Besok mereka mungkin memuji. Lusa mereka lupa. Tetapi Allah mengetahui seluruh perjalanan yang tidak dilihat siapa pun.
Allah tahu berapa kali aku menangis dalam sujud. Allah tahu berapa kali aku ingin membatalkan semuanya. Allah tahu betapa berat langkahku saat menyerahkan Ilham. Dan itu cukup.
***
Malam itu, sepulang dari rumah Kiai Soleh, aku duduk sendiri di teras. Angin berembus pelan.
Dari kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji. Aku memejamkan mata. Rasa rindu itu masih ada. Mungkin akan tinggal seumur hidup. Tetapi kali ini rindu itu tidak lagi menjadi luka. Ia berubah menjadi doa.
Doa seorang ibu yang tidak membesarkan anaknya setiap hari, tetapi akan selalu mencintainya sampai akhir hayat. Di antara sunyi malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa damai. Akhirnya aku mengerti. Kadang-kadang, bentuk cinta yang paling berat adalah tetap mencintai meski harus merelakan.
Penulis: Ummu Masrurah


















