Fitrah Manusia dan Tantangan Menjaga Persatuan

52
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz

Oleh: KH. Abdul Hakim Machfudz

Hubungan sesama manusia tidak kalah penting dibanding hubungan dengan Allah. Melalui saling memaafkan dan saling mengunjungi, umat Islam diajak membangun ukhuwah sekaligus memperkuat persatuan bangsa.

Hari raya Idulfitri selalu menghadirkan suasana haru. Takbir dan tahmid berkumandang mengiringi perpisahan dengan bulan suci Ramadan, bulan yang selama ini menjadi ruang pembinaan diri bagi setiap muslim. Selama sebulan penuh, umat Islam ditempa untuk mengasuh jiwa, menata hati, sekaligus mengasah nalar melalui berbagai ibadah yang dijalankan. Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum pendidikan spiritual yang mengajarkan manusia untuk lebih dekat kepada Allah sekaligus lebih peka terhadap sesama.

Baca Juga: Menjaga Ukhuwah dan Merawat Tradisi

Kini Ramadan telah berlalu. Kehidupan kembali berjalan dengan segala tantangan zaman yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi berlangsung begitu cepat dan membawa perubahan besar dalam cara manusia berpikir, berinteraksi, bahkan memandang kehidupan. Perubahan tersebut tidak mungkin dihindari. Manusia tidak dapat menolak kemajuan zaman, tetapi dituntut untuk mampu menghadapinya dengan kesiapan moral dan spiritual. Di sinilah Ramadan sesungguhnya memberikan bekal penting: memperkuat hubungan manusia dengan Allah agar tetap kokoh menghadapi derasnya arus perubahan.

Ramadan adalah bulan ketika Allah menebarkan rahmat, magfirah, dan pembebasan dari api neraka bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Harapannya, setiap muslim yang keluar dari Ramadan tidak hanya memperoleh kemenangan secara simbolik, tetapi juga mengalami peningkatan kualitas diri. Namun hubungan vertikal kepada Allah saja tidak cukup. Setelah hablum minallah diperkuat, manusia juga harus menjaga hablum minannas, hubungan antarsesama manusia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam konteks Idulfitri, hubungan sosial itu tercermin melalui tradisi silaturahmi. Orang tua menjadi pihak yang paling utama untuk dihormati dan dikunjungi, sebab rida Allah bergantung pada rida keduanya. Tradisi pulang kampung, meninggalkan kesibukan pekerjaan demi berkumpul bersama keluarga, sesungguhnya mengandung makna spiritual yang mendalam. Silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial, melainkan bagian dari ibadah yang memperkuat kasih sayang, persaudaraan, dan persatuan.

Baca Juga: Amanah Besar Mendidik Santri Baru di Pesantren Tebuireng

Hubungan sesama manusia tidak kalah penting dibanding hubungan dengan Allah. Melalui saling memaafkan dan saling mengunjungi, umat Islam diajak membangun ukhuwah sekaligus memperkuat persatuan bangsa. Perbedaan pandangan, mazhab, bahkan pilihan politik semestinya tidak menjadi alasan perpecahan. Bangsa ini berdiri di atas kesepakatan bersama bahwa kita satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Semangat Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa keberagaman adalah kenyataan yang harus diterima dengan kedewasaan.

Islam sendiri tidak melarang manusia berbeda atau berkelompok. Yang dilarang adalah perpecahan dan perselisihan yang merusak persaudaraan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ali Imran: وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ “Janganlah menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka penjelasan-penjelasan.

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu berawal dari perpecahan dan dominasi hawa nafsu di atas petunjuk agama. Memang Allah menganugerahkan akal dan kebebasan berpikir kepada manusia. Akan tetapi kebebasan itu bukan tanpa batas. Kebebasan harus diarahkan oleh nilai-nilai syariat agar manusia tetap bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil.

Keragaman dan perbedaan pada hakikatnya merupakan kehendak Allah sendiri. Dalam Surah Al-Maidah disebutkan: وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚSeandainya Allah menghendaki, niscaya manusia dijadikan satu umat saja. Namun Allah menjadikan perbedaan itu sebagai ujian agar manusia berlomba-lomba dalam kebaikan.”

Baca Juga: Santri, Ulama, dan Kemerdekaan

Karena itu, Idulfitri seharusnya menjadi momentum untuk kembali memahami hakikat fitrah manusia. Hari raya ini disebut sebagai hari kembali kepada kesucian. Dalam Surah Ar-Rum Allah berfirman: فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ Ayat ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci dan memiliki kecenderungan alami menuju kebenaran.

Fitrah adalah potensi dasar manusia untuk mencintai kebaikan dan membenci keburukan. Ketika manusia berada di jalan yang benar, hati akan merasa tenteram. Sebaliknya, ketika jauh dari kebenaran, hati dipenuhi kegelisahan. Rasulullah saw. bersabda bahwa kebajikan adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang, sedangkan dosa menimbulkan kegundahan dan kesempitan dada.

Dalam diri manusia, fitrah bekerja layaknya sistem imunitas rohani. Ia menjadi benteng pertahanan agar manusia tetap berada dalam koridor ilahi. Ketika seseorang melakukan pelanggaran moral dan spiritual, hati akan memberikan reaksi berupa kegelisahan batin. Itulah tanda bahwa fitrah manusia sesungguhnya selalu terhubung dengan petunjuk Allah.

Kesempurnaan penciptaan manusia digambarkan Allah dalam firman-Nya: لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ Manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik, baik secara jasmani, akal, maupun rohani. Namun Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia memiliki potensi jatuh ke derajat yang paling rendah apabila tidak mampu menjaga dirinya.

Kisah Nabi Adam menjadi simbol penting dalam memahami kondisi manusia. Adam yang hidup di surga tetap memiliki kemungkinan tergelincir karena melanggar larangan Allah. Hal itu menunjukkan bahwa manusia, sebagai keturunan Adam, juga memiliki potensi untuk jatuh apabila tidak mampu menahan hawa nafsu dan melampaui batas. Kemuliaan yang dimiliki manusia harus dijaga dengan kehati-hatian dan mawas diri.

Oleh sebab itu, kondisi fitri setelah Ramadan semestinya dijadikan modal untuk mempertahankan konsistensi ibadah dan kebaikan. Puasa sunah, salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, serta menjaga silaturahmi perlu terus dipelihara agar semangat Ramadan tidak berhenti hanya sebagai ritual musiman.

Baca Juga: Menjaga Warisan Sanad

Allah Swt. juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan dalam Surah An-Nisa: وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ Bertakwalah kepada Allah dan peliharalah hubungan silaturahmi. Silaturahmi bukan sekadar hubungan sosial, tetapi bagian dari ibadah yang mendekatkan manusia kepada Allah.

Pada akhirnya, Idulfitri harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan tahunan. Idulfitri adalah momentum memperkuat persatuan, mempererat kasih sayang, dan membangun kehidupan bersama yang harmonis. Dalam suasana saling memaafkan dan saling mengasihi, bangsa ini membutuhkan semangat untuk terus berlomba dalam kebaikan, menjaga persaudaraan, serta menghindari perpecahan.

Semoga Idulfitri benar-benar menjadi titik awal lahirnya manusia-manusia yang kembali kepada fitrahnya: manusia yang dekat kepada Allah, peduli kepada sesama, dan mampu menjaga persatuan bangsa. Dengan bekal ketakwaan dan nilai-nilai syariat, semoga Indonesia senantiasa menjadi baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr, negeri yang baik serta memperoleh ampunan dan keberkahan dari Allah Swt.



Ditranskip oleh: Albii

Editor: Rara Zarary