Refleksi Diet, dari Pola Makan Buruk ke Hidup Sehat

95
Ilustrasi: alodokter
Banyak orang masih menganggap bahwa diet itu identik dengan mengurangi makan secara ekstrem, bahkan sampai menyiksa tubuh. Anggapan seperti ini akhirnya membuat makna diet sering disalahpahami, dan bisa menurunkan motivasi orang yang sebenarnya ingin mulai hidup lebih sehat.

Di era modern saat ini, gaya hidup masyarakat mengalami perubahan yang cukup signifikan. Kemudahan dalam mengakses berbagai jenis makanan, terutama makanan cepat saji, seringkali membuat seseorang mengabaikan pola makan yang sehat. Karana makanan cepat saji ini memang didesain agar kita merasa suka dan ketagihan, sehingga tidak sedikit orang yang makan secara berlebihan, tidak teratur, serta kurang memperhatikan kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi. Akibatnya, berbagai masalah kesehatan mulai bermunculan, seperti obesitas, kelelahan, hingga gangguan metabolisme. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan tubuh masih tergolong rendah.

Baca Juga: Sehat tanpa Diet! Begini Mengatur Pola Makan Ala Rasulullah

Pengalaman pribadi penulis menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan fenomena tersebut. Pada masa sebelumnya, penulis cenderung kurang memperhatikan pola makan dan kesehatan tubuh. Aktivitas makan sering dilakukan tanpa kontrol yang jelas, sekadar untuk memenuhi keinginan tanpa mempertimbangkan kebutuhan nutrisi tubuh. Akibatnya, kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kualitas fisik, seperti sering merasa mengantuk, kurang fokus dalam beraktivitas, serta memengaruhi penampilan. Dampak tersebut tidak hanya terlihat pada postur tubuh, tetapi juga pada kondisi kesehatan kulit.

Berbagai permasalahan yang dialami tersebut pada akhirnya menyadarkan penulis bahwa hal tersebut merupakan akibat dari pola makan yang kurang tepat. Setelah merasakan dampak yang cukup mengganggu, penulis kemudian memutuskan untuk mulai memperbaiki pola makan dengan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat dan disiplin.

Setelah menjalani program diet secara konsisten, penulis mulai merasakan berbagai perubahan positif. Tubuh terasa lebih ringan, tingkat kewaspadaan meningkat sehingga tidak mudah mengantuk, serta kondisi kulit menjadi lebih sehat. Selain itu, aktivitas sehari-hari dapat dijalani dengan lebih optimal. Hal ini menunjukkan bahwa diet bukanlah bentuk penyiksaan terhadap diri, melainkan sebuah upaya yang konstruktif dalam meningkatkan kualitas hidup.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Ingin Sehat? Yuk Konsumsi Buah!

Banyak orang masih menganggap bahwa diet itu identik dengan mengurangi makan secara ekstrem, bahkan sampai menyiksa tubuh. Anggapan seperti ini akhirnya membuat makna diet sering disalahpahami, dan bisa menurunkan motivasi orang yang sebenarnya ingin mulai hidup lebih sehat. Padahal, diet yang tepat bukan sekadar membatasi makanan secara berlebihan, melainkan mengatur pola makan agar lebih seimbang dan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pola makan sehat adalah pola konsumsi yang mengandung gizi seimbang. Artinya, diet yang dilakukan dengan benar justru membantu menjaga kesehatan, bukan sebaliknya.

Selain itu, diet juga bukan berarti tidak makan sama sekali atau harus menjauhi semua makanan yang enak. Justru, diet lebih kepada upaya memperbaiki pola makan agar menjadi lebih teratur, disiplin, dan tidak berlebihan. Lalu, apakah orang yang menjalani diet tidak boleh menikmati makanan enak? Tentu saja boleh. Namun, tetap ada prinsip yang perlu dijaga, yaitu tidak berlebihan, tetap seimbang, dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

Pada akhirnya, menjaga pola makan seperti ini bisa dilihat sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang terhadap diri sendiri. Bagaimanapun, tubuh juga perlu dijaga dan dirawat dengan baik agar dapat berfungsi secara optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Menariknya, praktik diet yang bertujuan menjaga kesehatan ini memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31 sebagai berikut:

 يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَکمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَّكُلُوۡا وَاشۡرَبُوۡا وَلَا تُسۡرِفُوۡا‌ ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡنَ 

Yā banī ādama khużū zīnatakum ‘inda kulli masjidiw wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū, innahū lā yuḥibbul-musrifīn. (Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.) Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan dalam konsumsi makanan. Larangan berlebih-lebihan menunjukkan bahwa Islam telah mengajarkan prinsip moderasi jauh sebelum konsep diet modern berkembang.

Baca Juga: Berpuasa Jadi Sehat? Menelusuri Pesan Hadis dan Temuan Medis 

Selain itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw., bersabda:

إِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

(Inna libadanika ‘alaika haqqa).  Artinya: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” Hadis ini memberikan pemahaman bahwa tubuh manusia merupakan amanah yang harus dijaga dengan baik. Oleh karena itu, menjaga kesehatan, termasuk melalui pengaturan pola makan, dapat dipandang sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus spiritual.

Lebih lanjut, nilai pengendalian diri yang terdapat dalam diet juga sejalan dengan konsep ibadah dalam Islam, khususnya puasa. Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia, puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, kedisiplinan, serta kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Dalam konteks ini, diet memiliki kesamaan nilai, yaitu melatih seseorang untuk mengontrol keinginan makan, tidak berlebihan, serta lebih sadar terhadap apa yang dikonsumsi.

Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa diet bukanlah ibadah dalam arti ritual yang secara langsung diperintahkan dalam syariat, seperti salat atau puasa. Diet lebih tepat dipahami sebagai bentuk ikhtiar atau usaha manusia dalam menjaga kesehatan tubuh. Akan tetapi, ketika diet dilakukan dengan niat yang baik, seperti menjaga amanah tubuh dan meningkatkan kualitas hidup, maka aktivitas tersebut dapat bernilai ibadah. Hal ini sejalan dengan prinsip dalam Islam bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan niat yang benar dapat bernilai ibadah.

Baca Juga: Toxic Positivity, Apakah Selalu Berpikir Positif Itu Sehat?

Dalam hal ini, diet tidak hanya berfungsi sebagai upaya menjaga penampilan fisik, tetapi juga sebagai sarana untuk memperbaiki diri secara menyeluruh, baik dari segi kesehatan maupun spiritualitas. Di tengah maraknya gaya hidup yang cenderung tidak sehat, diet dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran diri dalam menjaga tubuh sebagai amanah dari Allah Swt.



Penulis: Novi Syahwalina Irsa
Editor: Rara Zarary