Bukber dan Budaya Pamer di Bulan Suci

53
Ilustrasi buka bersama di bulan Ramadan

Ramadan selalu datang dengan wajah yang khas, seperti masjid lebih ramai, sedekah semakin mudah ditemui, dan tradisi berbagi makanan berbuka menjadi pemandangan yang hampir ada di setiap sudut jalan. Dari gang kecil hingga jalan raya, orang-orang membagikan takjil kepada mereka yang sedang berpuasa. Tradisi ini bukan hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa orang yang memberikan makan kepada orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala yang sama seperti orang yang berpuasa tersebut.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Baca Juga: Bukber Doang, Tapi Tidak Shalat Maghrib

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hadis ini menunjukkan betapa besar nilai sebuah tindakan sederhana seperti memberi makan orang yang sedang berpuasa. Bahkan, pahala yang didapatkan tidak main-main: setara dengan pahala orang yang menjalankan puasa itu sendiri. Tidak heran jika banyak orang berlomba-lomba menyediakan makanan berbuka, baik untuk keluarga, tetangga, maupun orang yang tidak dikenal.

Namun, di tengah semangat berbagi tersebut, ada fenomena lain yang perlahan muncul di ruang sosial kita: buka bersama yang berubah menjadi ajang pamer.

Istilah bukber atau buka bersama sebenarnya lahir dari semangat silaturahmi. Ramadan menjadi momen yang tepat untuk mempererat hubungan, baik dengan keluarga, sahabat, maupun rekan kerja. Duduk bersama di meja yang sama, menunggu azan magrib, lalu menyantap hidangan sederhana, pada dasarnya adalah pengalaman spiritual sekaligus sosial yang hangat.

Sayangnya, makna itu mulai bergeser.

Tidak sedikit acara buka bersama yang justru lebih sibuk mengatur sudut foto dibandingkan mengatur niat. Hidangan yang dipesan bukan lagi sekadar untuk dinikmati bersama, tetapi juga untuk difoto dan dipamerkan di media sosial. Restoran yang dipilih pun sering kali bukan karena kenyamanan atau kebersamaan, melainkan karena gengsi.

Baca Juga: Bahas Radikalisme Saat Buka Puasa Bersama

Pada titik tertentu, bukber berubah menjadi flexing memamerkan kemampuan finansial, gaya hidup, bahkan jaringan pergaulan.

Media sosial semakin memperkuat fenomena ini. Seseorang yang menghadiri buka bersama di tempat mewah dengan mudah mengunggah foto meja penuh makanan, minuman mahal, atau dekorasi restoran yang estetik. Tidak jarang caption yang ditulis juga menyiratkan kebanggaan tertentu: seolah ingin menunjukkan bahwa ia berada di lingkaran pergaulan yang “berkelas”.

Masalahnya bukan pada makan di tempat yang bagus atau menikmati hidangan mahal. Islam tidak pernah melarang seseorang menikmati rezekinya. Yang menjadi persoalan adalah ketika kegiatan itu berubah menjadi sarana pamer.

Dalam Islam, perbuatan riya’ atau pamer merupakan sesuatu yang sangat dikecam. Bahkan riya’ tidak hanya terjadi pada ibadah formal seperti salat atau sedekah, tetapi juga bisa merasuki aktivitas sosial yang tampak baik di permukaan.

Ketika seseorang memberi makan orang lain agar dipuji, maka nilai ibadahnya berpotensi hilang.

Ketika seseorang berbagi takjil hanya agar dianggap dermawan, maka yang tersisa bukan lagi pahala, melainkan penilaian manusia.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa amal yang paling bernilai justru yang dilakukan dengan ikhlas dan sering kali tersembunyi dari sorotan.

Ironisnya, semangat berbagi di bulan Ramadan kadang justru terjebak dalam logika popularitas. Ada yang berlomba-lomba membuat acara buka bersama paling meriah, paling mahal, atau paling ramai. Bahkan kegiatan sosial seperti berbagi takjil pun tidak luput dari potensi riya’ ketika terlalu banyak difokuskan pada dokumentasi dan publikasi.

Baca Juga: Takjil, Tradisi Berbuka Puasa yang Khas di Berbagai Negara

Di era digital, memang sulit memisahkan aktivitas dari kamera. Hampir setiap momen bisa dengan mudah diabadikan dan dibagikan. Namun, di sinilah letak ujian niat seseorang.

Apakah foto itu dibagikan untuk menginspirasi orang lain agar ikut berbagi? Atau sekadar untuk menunjukkan bahwa dirinya telah melakukan kebaikan? Perbedaannya mungkin terlihat tipis, tetapi dampaknya besar di sisi spiritual.

Ramadan pada hakikatnya adalah bulan latihan. Latihan menahan diri, menahan ego, dan menahan keinginan untuk selalu dilihat orang lain. Ketika seseorang mampu berpuasa seharian tanpa makan dan minum, seharusnya ia juga mampu menahan dorongan untuk memamerkan amalnya.

Bukber yang sederhana bersama teman lama, dengan menu yang biasa saja, sebenarnya bisa jauh lebih bermakna dibandingkan acara makan besar yang penuh gengsi tetapi kosong dari kehangatan.

Begitu pula dengan berbagi makanan kepada orang yang berpuasa. Kadang satu bungkus nasi yang diberikan dengan tulus kepada orang yang membutuhkan bisa lebih bernilai daripada meja penuh hidangan yang hanya menjadi latar belakang foto.

Baca Juga: Ramadhan Datang, Jangan Lewatkan 5 Hal Ini

Di tengah budaya flexing yang semakin kuat, Ramadan seharusnya menjadi pengingat bahwa nilai seseorang tidak diukur dari seberapa mewah ia berbuka, tetapi dari seberapa tulus ia berbagi. Karena pada akhirnya, pahala dari memberi makan orang yang berpuasa bukanlah sesuatu yang bisa difoto, diposting, atau dipamerkan. Ia hanya diketahui oleh dua pihak: manusia yang melakukannya dengan ikhlas, dan Tuhan yang melihatnya.



Penulis: Albii