Menjelang Kelulusan, Pengasuh Pesantren Tebuireng Sampaikan Pesan untuk Santri Kelas Akhir

42
Santri Putra kelas akhir tingkat SLTA foto bersama Pengasuh, Mudir, dan jajaran pembina usai kegiatan doa bersama di aula Yusuf Hasyim Tebuireng (foto: istimewa)

Tebuireng.online— Menjelang kelulusan santri kelas akhir, Pondok Pesantren Tebuireng menggelar kegiatan Sowan dan Doa Bersama Pengasuh yang diikuti seluruh santri tingkat SLTA pondok putra. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (9/3/2026) di Aula Lantai 3 Gedung K.H.M. Yusuf Hasyim, mulai pukul 11.00 WIB, setelah para santri menyelesaikan kegiatan belajar di sekolah masing-masing.

Peserta kegiatan merupakan santri kelas akhir dari beberapa lembaga pendidikan di lingkungan Tebuireng, yakni Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah, SMA A. Wahid Hasyim, SMK Khoiriyyah Hasyim, serta kelas VI Madrasah Mu’allimin Hasyim Asy’ari. Secara keseluruhan, sebanyak 363 santri mengikuti kegiatan tersebut.

Baca Juga: Nyai Farida Salahuddin Wahid: Pembina Tebuireng Harus Jadi Teladan Kebersihan bagi Santri

Acara ini turut dihadiri oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz, didampingi Mudir H. Lukman Hakim, Kepala Pondok Ustadz Slamet Habib, Wakil Kepala Pondok Ustadz Mahmudz, para koordinator wisma, serta jajaran pembina santri kelas akhir.

Dalam sambutannya, Ustadz Slamet Habib menekankan pentingnya para santri meneladani lima prinsip dasar Tebuireng, yaitu ikhlas, jujur, tanggung jawab, kerja keras, dan tasamuh (toleransi). Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi pegangan para santri ketika kembali ke tengah masyarakat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sementara itu, H. Lukman Hakim berpesan kepada para santri yang akan segera boyong dari pesantren agar meninggalkan kesan yang baik selama masa mondok. Ia menyampaikan bahwa datang ke pesantren dengan niat baik hendaknya diakhiri dengan perpisahan yang baik pula.

Baca Juga: Kiai Ahmad Roziqi Ungkap Tiga Corak Utama Pengabdian Mahasantri Ma’had Aly Tebuireng

“Jika santri meninggalkan pesantren dengan kesan yang baik, itulah yang disebut husnul khatimah. Ketika amal diterima oleh Allah, maka ilmu yang dipelajari akan membawa manfaat bagi agama, dunia, dan akhirat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, KH. Abdul Hakim Machfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin turut menyampaikan sejumlah pesan kepada para santri kelas akhir. Ia menjelaskan bahwa pesantren kini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga berbagai disiplin ilmu lain seperti matematika, sejarah, kimia, dan biologi.

Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan tersebut bertujuan agar santri mampu menggali dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dunia dengan baik.

Gus Kikin juga berpesan kepada para santri yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar tidak berhenti dalam menuntut ilmu. Ia menjelaskan bahwa ilmu dapat dibagi menjadi dua, yaitu ilmu agama dan ilmu yang berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Ia menambahkan, Tebuireng kini juga mengembangkan pendidikan berbasis sains melalui pendirian sekolah Trensains, yang menggabungkan kajian ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai kepesantrenan.

Dalam pesannya, Gus Kikin menegaskan bahwa seluruh ilmu pada dasarnya bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu, setiap ilmu yang dipelajari hendaknya tetap memiliki landasan dari kedua sumber utama tersebut.

“Dengan begitu, kita mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” tuturnya.

Baca Juga: Lebih dari Pembina, Prof. Imam Suprayogo Dorong Kader Tebuireng Menjadi Pemimpin Berintegritas

Cicit Hadratussyaikh itu juga mengingatkan para santri untuk tetap berpegang pada prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah yang memiliki motto Al-muhafadzatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, yaitu menjaga tradisi lama yang baik serta mengambil hal baru yang lebih baik.

Di akhir pesannya, Gus Kikin menegaskan bahwa santri yang telah mempelajari ilmu syariat hingga tingkat SLTA tidak seharusnya berhenti sampai di sana. Para santri diharapkan terus mengembangkan keilmuan mereka di jenjang yang lebih tinggi.

Gus Kikin mencontohkan sosok KH Ma’ruf Amin, salah satu alumni Tebuireng yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Menurutnya, perjalanan KH. Ma’ruf Amin menunjukkan bahwa santri yang memiliki dasar ilmu agama yang kuat dapat berkembang dan memberikan kontribusi besar bagi masyarakat dan bangsa.



Pewarta: Nurdiansyah Fikri
Editor: Rara Zarary