
Tebuireng.online- Calon pembina santri Pesantren Tebuireng mendapatkan perspektif mendalam mengenai filosofi pengabdian mahasantri. Dalam sesi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang berlangsung di Balai Diklat Trensains, Jombok, Ngoro, Kamis (05/03/2026), Dr. KH. Ahmad Roziqi, Lc., M.H.I., membedah materi bertema “Corak Pengabdian Ma’had Aly”.
Dalam paparannya, Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari ini menegaskan bahwa pengabdian pembina yang berasal dari latar belakang Ma’had Aly memiliki karakteristik unik yang mengombinasikan kekuatan literasi klasik dengan adaptasi modern.
Kiai Roziqi menjelaskan bahwa pengabdian mahasantri Ma’had Aly bertumpu pada tiga corak utama: tarbiyah (pendidikan), dakwah, dan pengabdian masyarakat. Ketiga aspek ini menjadi fondasi bagi pembina dalam mentransformasikan ilmu yang diperoleh di jenjang pendidikan tertinggi pesantren tersebut.
“Dalam aspek tarbiyah dan dakwah, mahasantri tidak bisa dipisahkan dari kajian turats (kitab kuning). Kajian inilah yang menjadi bekal keilmuan sekaligus dasar dalam membimbing para santri di asrama,” jelas Kiai Roziqi di hadapan para peserta diklat.
Satu poin penting yang ditekankan adalah mengenai esensi pembinaan di tingkat kamar. Kiai Roziqi mengibaratkan kamar santri sebagai masyarakat dalam lingkup kecil. Kemampuan seorang pembina dalam mengelola dinamika di kamar adalah cerminan kemampuannya kelak di tengah masyarakat sosial.
“Kalau kamu belum bisa mengubah masyarakat kecilmu (santri) di kamar, maka kamu tidak akan bisa mengubah masyarakat di lingkup sosial dengan baik,” tegas beliau.
Menurutnya, menjadi pembina adalah sarana latihan untuk menghadapi berbagai karakter, persoalan, dan dinamika kehidupan. Pengalaman menghadapi konflik dan karakter santri yang beragam akan menjadi modal berharga saat kelak terjun ke masyarakat luas.
Meski berpegang teguh pada literatur klasik, Kiai Roziqi mewanti-wanti agar para pembina tidak menutup mata terhadap kemajuan zaman. Penguasaan teknologi di era digital saat ini merupakan sebuah keharusan bagi santri agar tetap relevan.
“Di era digitalisasi sekarang, hampir semua aspek kehidupan membutuhkan teknologi. Seorang santri tidak boleh ketinggalan zaman dan harus mampu menghadapi kecanggihan teknologi tanpa kehilangan identitas pesantrennya,” imbuhnya.
Di akhir sesi, Kiai Roziqi memotivasi peserta agar menjadikan masa pengabdian ini sebagai sarana mengamalkan ilmu (amaliyah ilmiyah). Beliau berharap para calon pembina angkatan ini mampu memberikan dampak nyata melalui pengabdian yang tulus dan berintegritas.
Baca Juga: Bekali Calon Pembina, Ustadz Slamet Habib Bedah Struktur dan Nilai Dasar Pesantren Tebuireng
Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Sutan


















