Di Meja Takdir

35
Ilustrasi perempuan dan takdir yang dijalaninya (sumber: aai/ra)

Rindu yang Sepi
Tanpa ketukan, ia datang
Duduk di sudut hati tanpa permisi
Seperti cahaya redup
Yang lupa cara padam

Rindu kali ini tidak berisik
Aku menyebut namamu
Dalam hati yang hati-hati
Karena tak ingin rindu ini tumbuh liar, menjalar

Cukup hidup
Sebagai ingatan yang tenang


Di Meja Takdir
Aku duduk berhadapan dengan waktu
Ia membawa jawaban
Sementara aku hanya membawa tanya
Tentang kepastian

Kita menukar diam
Seperti dua orang asing
Yang sama-sama lelah berharap
Menunggu giliran untuk dipahami

Di meja takdir tersaji jeda
Bukan akhir, bukan pula awal
Hanya ruang sunyi
Agar aku belajar menerima
Sebuah penolakan


Perasaan Tanpa Nama
Ada perasaan tanpa nama
Yang tinggal di dada
Tak berani disebut rindu
Tak pantas pula disebut cinta

Ia hadir diam-diam
Menyelinap di sela doa
Yang tak selesai

Di antara ingin dan takut
Yang saling meniadakan

Maka ia dibiarkan tinggal
Tanpa label, tanpa tuntutan
Cukup menjadi isyarat

Bahwa kau masih manusia
Yang bisa merasa


Manusia dan Jeda
Manusia dan jeda
Saling membutuhkan

Yang satu berjalan
Yang lain mengingatkan
Untuk tidak kehilangan diri
Di tengah terburu-buru

Jeda mengajariku
Bahwa tidak semua luka
Harus segera sembuh

Sebagian perlu didiamkan
Agar bisa belajar tenang



Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online