
Rindu yang Sepi
Tanpa ketukan, ia datang
Duduk di sudut hati tanpa permisi
Seperti cahaya redup
Yang lupa cara padam
Rindu kali ini tidak berisik
Aku menyebut namamu
Dalam hati yang hati-hati
Karena tak ingin rindu ini tumbuh liar, menjalar
Cukup hidup
Sebagai ingatan yang tenang
Di Meja Takdir
Aku duduk berhadapan dengan waktu
Ia membawa jawaban
Sementara aku hanya membawa tanya
Tentang kepastian
Kita menukar diam
Seperti dua orang asing
Yang sama-sama lelah berharap
Menunggu giliran untuk dipahami
Di meja takdir tersaji jeda
Bukan akhir, bukan pula awal
Hanya ruang sunyi
Agar aku belajar menerima
Sebuah penolakan
Perasaan Tanpa Nama
Ada perasaan tanpa nama
Yang tinggal di dada
Tak berani disebut rindu
Tak pantas pula disebut cinta
Ia hadir diam-diam
Menyelinap di sela doa
Yang tak selesai
Di antara ingin dan takut
Yang saling meniadakan
Maka ia dibiarkan tinggal
Tanpa label, tanpa tuntutan
Cukup menjadi isyarat
Bahwa kau masih manusia
Yang bisa merasa
Manusia dan Jeda
Manusia dan jeda
Saling membutuhkan
Yang satu berjalan
Yang lain mengingatkan
Untuk tidak kehilangan diri
Di tengah terburu-buru
Jeda mengajariku
Bahwa tidak semua luka
Harus segera sembuh
Sebagian perlu didiamkan
Agar bisa belajar tenang
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary


















