
“Seringkali kita mencari pelarian dari penatnya rutinitas dengan dalih self-healing, namun yang didapat justru beban pikiran baru. Benarkah cara kita ‘menyembuhkan diri’ sudah tepat, atau jangan-jangan kita hanya sedang menabung pening?”
Di era media sosial saat ini, istilah healing telah mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan. Awalnya, healing atau penyembuhan diri dipahami sebagai proses pemulihan kesehatan mental atau batin dari trauma dan stres. Namun kini, algoritma Instagram dan TikTok seolah mendikte bahwa healing haruslah identik dengan liburan mewah ke destinasi estetik, staycation di hotel berbintang, atau belanja barang mewah dan bermerek.
Baca Juga: Kamu Worth It! Tips Self Love Tanpa Kehilangan Keimanan
Fenomena ini dalam studi komunikasi sering disebut sebagai komodifikasi. Sesuatu yang sifatnya abstrak dan spiritual–yaitu ketenangan–diubah menjadi “produk” yang bisa dijual dan dipamerkan. Media sosial menciptakan standar baru yang tanpa disadari justru memicu tekanan sosial dan finansial bagi banyak orang. Kita tidak lagi mencari kesembuhan, melainkan mencari pengakuan bahwa kita sanggup membayar harga untuk sebuah kesembuhan.
Alih-alih mendapatkan ketenangan (aspek psikologis), banyak orang justru terjebak dalam rasa pening (aspek ekonomi dan beban mental). Pusing karena melihat saldo rekening yang terkuras demi konten, atau pusing karena setelah liburan usai, tumpukan masalah tetap menanti tanpa ada solusi yang benar-benar terselesaikan.
Secara psikologis, ini sering disebut sebagai temporary escape atau pelarian sesaat. Masalahnya, ketika kita kembali dari liburan yang mahal tersebut, realitas hidup yang pahit masih tetap sama. Jika tujuan healing hanya untuk lari dari masalah tanpa adanya resolusi batin, maka yang terjadi adalah siklus stres yang berulang. Kelelahan mental ini kemudian diperparah dengan kelelahan finansial, yang akhirnya memicu kecemasan baru: bagaimana menutupi lubang di tabungan setelah “menyembuhkan diri”?
Baca Juga: Ramadhan: Dari Scarcity Mindset Menuju Healing Period
Pesatnya arus informasi digital membuat kita sering terjebak dalam Fear of Missing Out (FOMO). Melihat teman mengunggah foto kopi mahal dengan latar pemandangan alam, muncul dorongan untuk melakukan hal serupa agar dianggap telah melakukan self-reward. Kita merasa jika tidak mengikuti tren tersebut, kita tertinggal atau tidak cukup menyayangi diri sendiri
Dalam dunia komunikasi, ini disebut sebagai konstruksi realitas media. Kita melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak sempurna melalui filter, lalu menganggap itulah standar tunggal kebahagiaan. Padahal, apa yang kita lihat di layar hanyalah fragmen kecil yang telah dikurasi. Akibatnya, esensi dari penyembuhan batin itu sendiri hilang, berganti dengan upaya validasi dari orang lain lewat jumlah likes dan komentar. Kita menjadi budak atas persepsi orang lain, di mana kebahagiaan kita ditentukan oleh sejauh mana orang lain “iri” atau kagum dengan apa yang kita unggah.
Islam sebenarnya telah memberikan konsep yang jauh lebih sederhana dan mendalam mengenai ketenangan jiwa. Allah SWT berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa sumber ketenangan yang hakiki (thuma’ninah) bersifat internal, bukan eksternal. Healing terbaik dalam Islam bukanlah dengan menjauhi realitas melalui konsumerisme, melainkan dengan mendekati Sang Pencipta. Ketenangan sejati tidak ditemukan dalam keriuhan dunia luar, melainkan dalam heningnya sujud di sepertiga malam. Menjalankan sholat dengan khusyuk, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, atau sekadar duduk diam di sajadah sambil berdzikir adalah bentuk penyembuhan jiwa yang paling efektif dan–yang terpenting–tidak menyisakan beban finansial maupun residu pikiran.
Baca Juga: Menemukan Makna Self Reward
Agar proses pemulihan diri benar-benar efektif dan sesuai syariat, ada beberapa langkah konkret yang bisa kita terapkan:
- Redefinisi Makna Bahagia: Sadari bahwa kebahagiaan tidak selalu memiliki label harga. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam secangkir teh hangat di pagi hari, canda tawa bersama anak-anak di rumah atau keberhasilan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Jangan biarkan iklan dan konten media sosial mendikte nilai kebahagiaan Anda.
- Digital Detox: Matikan ponsel sejenak. Berhenti membandingkan hidup kita dengan konten orang lain. Fokuslah pada keberadaan diri kita di saat ini (mindfulness). Dalam tradisi Islam, ini mirip dengan muraqabah, yaitu kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi kita, sehingga kita tidak perlu haus akan validasi manusia.
- Evaluasi Niat dan Melawan “Social Comparison”: Sebelum melakukan healing, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kita pergi liburan karena benar-benar butuh istirahat, atau hanya ingin dianggap eksis? Niat yang salah akan membawa kelelahan yang berlipat. Lawanlah keinginan untuk membandingkan diri secara “upward” (ke atas) yang hanya akan melahirkan hasad dan rasa kurang.
- Syukuri Hal-Hal Kecil: Dalam Islam, syukur adalah kunci bertambahnya nikmat. Alih-alih mengeluh tentang apa yang belum dimiliki, syukurilah peran kita saat ini—baik sebagai orang tua, pekerja, maupun anggota masyarakat. Syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi “cukup”.
Healing sejati tidak seharusnya meninggalkan residu berupa utang atau stres berkepanjangan. Ia seharusnya membuat kita kembali segar dan siap menghadapi tantangan hidup dengan perspektif yang lebih positif. Kita perlu memahami bahwa dunia ini memang tempatnya lelah, dan satu-satunya cara beristirahat yang benar adalah dengan menyandarkan beban tersebut kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Baca Juga: Self Healing Melalui Komunikasi Intrapersonal
Mari bijak dalam merespons tren digital, agar kesehatan mental terjaga, dompet tetap aman, dan hati tetap tertuju pada Tuhan. Sebab, ketenangan sejati ada di dalam hati yang ridha atas takdir Allah, bukan pada layar ponsel yang penuh kepura-puraan. Pada akhirnya, “penyembuhan” terbaik adalah saat kita menyadari bahwa dunia hanyalah persinggahan, dan kepada-Nya lah segala kegelisahan akan berakhir menjadi kedamaian yang hakiki.
Penulis: Anik Wulansari, M.Med.Kom
Editor: Rara Zarary


















