
Bagi siapa pun yang mempelajari bahasa Arab, ia akan mendapati bahwa teks bahasa Arab terkadang memiliki makna yang sebenarnya (haqiqi atau denotatif) serta terkadang bermakna kiasan (majazi atau konotatif). Karena pada hakikatnya teks hadis sendiri adalah bahasa Arab, maka maknanya pun terkadang donotatif atau justru konotatif. Jika yang dimaksud dalam hadis tersebut bukanlah bersifat denotatif maka bisa jadi makna dari hadis tersebut bersifat konotatif (majazi).
Adapun salah satu hadis yang dapat dipahami secara majazi serta dipahami dengan cara hakiki, adalah salah satu hadis yang seringkali ditanyakan oleh masyarakat khususnya saat memasuki bulan Ramadhan, yakni Hadis yang diriwayatkab oleh al-Bukhari, Muslim, al-Nasa’I, Malik, dan Ahmad dari Abu Hurairah r.a. yang berkata bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya, “Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelanggu.”
Bila kita memahami hadis itu secara serampangan dengan menggunakan tekstual saja maka akan memunculkan suatu pemahaman yang salah. Karena pada hakikatnya manusia adalah bersifat materi (dapat diindra), sedangkan jin adalah mahluk yang bersifat immateri (tidak dapat diindra). Sebagaimana diketahui bahwasanya selama bulan Ramadhan, tidak ada setan dari bangsa manusia yang dibelenggu. Lalu bagaimana dengan setan dari bangsa jin? Karena rantai adalah benda yang bersifat materi, sedangnkan jin adalah makhluk yang bersifat immateri. Bagaimana mungkin sesuatu yang bersifat immateri dapat dirantai oleh benda yang bersifat materi?
Untuk memberikan jawaban terhadap pertayaan di atas, selanjutnya penulis akan mencoba menukil beberapa pendapat ulama mengenai hadis tersebut, baik yang memahaminya secara hakiki atau secara majazi.
Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata; bahwa hadis ini dapat dipahami secara tekstual dengan makna yang sebenarnya, bahwa dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibelenggunya setan-setan merupakan bukti dari masuknya bulan Ramadhan dan bukti menaggungkan terhadap kemuliannya. Adapun dibelenggunya setan-setan bertujuan untuk mencegah mereka dari upaya menyakiti dan menggoda orang-orang yang beriman.
Hal ini juga dapat dipahami secara majazi (makna kiasan atau konotatif). Maka ungkapan di atas dipahami sebagai sebuah isyarat atas banyaknya pahala serta ampunan. Sedangkan upaya setan-setan untuk menggoda manusia dan menyakitinya terbatasi, sehingga mereka seperti dibelenggu.
Al-Qadhi juga menambahkan, mungkin dibukanya pintu-pintu surga dipahami sebagai ungkapan tentang ibadah-ibadah yang dibukakan oleh Allah kepada hamba-hambaNya di bulan Ramadhan, tidak dengan di bulan-bulan lainnya, seperti melakukan puasa, qiyam al-lail (shalat tarawih), berbuat kebajikan-kebajikan, dan banyak menahan diri dari hal-hal yang menyalahi aturan-Nya. Semua ini dapat menyebabkan seseorang masuk surga sekaligus sebagai pintu-pintu surga.
Begitupula dengan ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibelenggunya setan-setan dapat dipahami sebagai ungkapan tentang upaya mereka dalam menahan diri dari hal yang bertentangan dengan agama.
Berbeda dengan Al-Qadhi, Imam Ibn Hajar al-Asqalani yang mengutip dari al-Hulaimi yang berkata; “kemungkinan maksud dari ungkapan ‘setan-setan’ (dalam hadis ini) adalah setan-setan pencuri berita langit.
Mungkin juga yang dimaksud adalah bahwa setan-setan itu tidak maksimal menggoda kaum muslimin sebagaimana halnya di luar bulan Ramadhan, karena kaum Muslimin (saat Ramadhan) sibuk berpuasa dengan mengekang hawa nafsu, membaca al-Qur’an dan berzikir.
Lalu bagaimana ketika setan-setan dibelenggu selama bulan Ramadhan, tetapi masih banyak manusia yang melakukan kemaksiatan? Imam al-Qurtubi berkata; seandainnya setan-setan itu dibelenggu maka sukar ditemukan kemaksiatan, jika pun masih ditemukan kemaksiatan, maka sesungguhnya kemaksiatan tersebut sedikit sekali terjadi pada orang yang berpuasa yang memelihara syarat dan adab puasa.
Baca Juga: Saat Ramadan Setan Terbelenggu, Tetapi Kenapa Tetap Maksiat?
Penulus: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Sutan


















