Direktur Media Tebuireng Diskusikan Integrasi Ilmu Agama dan Sains di UPSI Malaysia

55
Direktur Tebuireng Media Grup, Dr. H. Mohamad Anang Firdaus saat membedah Majalah Tebuireng di UPSI Malaysia (dok. majalahtbi)

Tebuireng.online— Wacana integrasi keilmuan agama dan sains mengemuka dalam talkshow yang digelar oleh Tim Majalah Tebuireng, di Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, Kamis (8/1/2026). Diskusi ini menjadi ruang reflektif untuk membaca ulang arah pendidikan pesantren di tengah tantangan ilmu pengetahuan modern dan kebutuhan zaman yang kian kompleks.

Diskusi dibuka oleh moderator M. Syahrul Ramadhan yang menegaskan bahwa santri hari ini tidak lagi hanya berhadapan dengan kitab kuning, tetapi juga dengan realitas ilmu pengetahuan modern yang menuntut kompetensi baru. Pertanyaan besar pun mengemuka: apakah pesantren perlu mencetak pakar di luar keilmuan agama, atau justru harus tetap fokus pada tradisi keilmuan klasik yang selama ini menjadi identitasnya.

Baca Juga: Majalah Tebuireng Go International, Bedah Integrasi Ilmu di UPSI Malaysia

Sebagai narasumber utama, Ustadz Anang Firdaus, Direktur Media Group Tebuireng sekaligus dosen Ma’had Aly Tebuireng, mengajak peserta melihat persoalan ini dari kacamata sejarah panjang pesantren. Ia menjelaskan bahwa santri pada masa lalu dikenal sebagai sosok mutafannin, yakni pribadi yang menguasai banyak disiplin ilmu dan mendapatkan legitimasi keilmuan langsung dari masyarakat.

“Dulu, pengakuan keilmuan tidak selalu berbasis ijazah. Santri yang mumpuni akan diakui otoritasnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, menurut Anang, lanskap pendidikan berubah ketika sistem modern menempatkan ijazah sebagai ukuran utama keahlian. Ia menilai perubahan ini turut memengaruhi posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional. Bahkan, ia menyinggung adanya penurunan kualitas ulama jika ditilik dari konteks sejarah.

Ia mencontohkan bagaimana pada masa Persia kuno, lembaga-lembaga keislaman menjadi pusat kajian ilmu agama sekaligus ilmu falak. Namun, ketika berada di bawah kekuasaan kerajaan, kebebasan dan dinamika keilmuan mengalami stagnasi. Hal serupa, menurutnya, juga terjadi di Indonesia pasca terbitnya SKB Tiga Menteri tahun 1975.

“Sejak itu, negara hanya mengakui pesantren yang membuka pendidikan formal, sementara kurikulum diniyah tidak sepenuhnya diakui. Dampaknya, orang tua lebih memilih sekolah formal, dan pesantren perlahan berpotensi ditinggalkan,” jelasnya.

Baca Juga: Majalah Tebuireng Tepis Tuduhan Feodalisme: Itu Tak Relevan dengan Tradisi Pesantren

Dalam konteks integrasi keilmuan, Anang mempertanyakan makna integrasi yang kerap didengungkan. Ia menilai integrasi bukan sekadar menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu institusi, tetapi menempatkan keilmuan pada sumber dan otoritasnya masing-masing.

Ia mencontohkan pola pendidikan keluarga pesantren pada era 1970–1990-an. Putra-putra KH Wahid Hasyim, misalnya, ditempatkan pada jalur keilmuan yang berbeda dengan bekal agama yang kuat. Gus Dur ditempa di pesantren dan Al-Azhar, Gus Sholah menempuh pendidikan teknik di ITB, sementara Gus Umar menekuni dunia kedokteran.

“Mereka tidak menjadi manusia setengah jadi karena belajar pada sumber keilmuan yang otoritatif,” tegasnya.

Menurut Anang, problem pendidikan hari ini justru melahirkan banyak “manusia setengah jadi”, yakni mereka yang tidak memiliki otoritas keilmuan yang jelas, tetapi memaksakan diri masuk ke wilayah yang bukan kapasitasnya. Fenomena ini berpotensi melahirkan praktik keliru dalam dunia keilmuan maupun profesi.

Ia menambahkan bahwa pesantren dan santri hari ini sejatinya sudah mulai terbuka. Tebuireng, misalnya, kerap dikritik karena dianggap tidak memiliki identitas yang tegas. Namun, menurut Anang, justru di situlah letak keunikannya.

“Tebuireng tidak sepenuhnya pesantren salaf, tapi juga tidak sepenuhnya modern. Ia berdiri di antara keduanya,” ujarnya.

Pendekatan pendidikan pesantren kini berbasis program, termasuk di pondok putri Tebuireng. Santri diberi ruang memilih jalur sesuai minat dan bakat, mulai dari tahfidz, Al-Qur’an, bahasa, hingga bidang lain. Meski demikian, ketika santri diproyeksikan sebagai calon pemimpin agama, mereka tetap memiliki peluang menjadi apa saja.

Baca Juga: Hisma Rayakan Milad dengan Bedah Majalah Tebuireng Edisi Barokatologi

“Pesan kiai sederhana: kalau jadi kiai, jadilah kiai yang saleh. Kalau jadi dokter, jadilah dokter yang saleh,” kata Anang.

Sementara itu, Ustadz Syahrul menambahkan bahwa semangat integrasi keilmuan sejatinya hadir di berbagai negara, hanya berbeda dalam pola dan pendekatan.

Dalam sesi tanya jawab, peserta menyinggung dilema antara ilmu agama sebagai fardhu ‘ain dan ilmu umum sebagai fardhu kifayah. Menanggapi hal itu, Anang menegaskan bahwa pesantren tidak sedang mendistorsi keilmuan, melainkan menata peran.

“Ilmu agama sebagai bekal mukallaf harus dipelajari terlebih dahulu. Setelah itu, ilmu fardhu kifayah harus ada yang mengambil peran,” jelasnya.

Baca Juga: Bedah Majalah Edisi Gus Dur: Dari Santri, Politisi, hingga Wali Sukses Digelar!

Ia juga mengingatkan agar program tahfidz tidak mengorbankan tahsin, karena tahsin merupakan bagian dari fardhu ‘ain. Pandangan-pandangan ini, menurutnya, menjadi fondasi penting agar integrasi keilmuan di pesantren tidak menghilangkan jati diri santri, namun tetap relevan dengan perkembangan zaman.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary