
Tebuireng.online— Majalah Tebuireng menggelar talkshow bedah majalah di Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, Kamis (8/1/2026). Kegiatan ini dihadiri mahasiswa UPSI, dosen Ma’had Aly Tebuireng, serta dosen UPSI sebagai bagian dari upaya memperkenalkan tradisi intelektual pesantren ke tingkat internasional.
Talkshow tersebut mengangkat tema “Integration of Science in Islamic Boarding Schools” dengan menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. H. Mohamad Anang Firdaus, M.Pd.I., dosen Ma’had Aly Tebuireng, dan Dr. Samsuddin bin Abd Hamid, dosen UPSI Malaysia. Acara dipandu oleh H. M. Rizki Syahrul Ramadhan, S.H., M.Ag., selaku Pemimpin Redaksi Majalah Tebuireng yang bertindak sebagai moderator.
Baca Juga: Ma’had Aly Tebuireng Perluas Jejaring Akademik Berskala Internasional
Dalam pemaparannya, Dr. H. Mohamad Anang Firdaus menekankan pentingnya peran Majalah Tebuireng sebagai medium intelektual pesantren. Menurutnya, majalah ini memiliki posisi strategis dalam merawat tradisi berpikir kritis di lingkungan pesantren.
“Majalah Tebuireng bukan sekadar bacaan, tetapi medium intelektual pesantren yang merekam dinamika pemikiran dan respons pesantren terhadap perkembangan zaman,” ujar Ustadz Anang.
Ia menambahkan bahwa Majalah Tebuireng perlu dikenalkan secara lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
“Sudah saatnya Majalah Tebuireng hadir di ruang-ruang akademik internasional agar khazanah pemikiran pesantren bisa dibaca dan dikaji lebih luas,” imbuhnya.
Majalah Tebuireng pertama kali diterbitkan pada 1986 di bawah pengasuhan KH Yusuf Hasyim, dengan Lukman Hakim sebagai pemimpin redaksi. Dalam perjalanan intelektualnya, majalah ini pernah diisi oleh tokoh-tokoh pemikir Islam Indonesia, seperti Kuntowijoyo, Prof. Amin Rais, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Nurcholish Madjid.
Baca Juga: Pegang Sanad Syaikh Yasin al-Fadani, Kiai Ali Mas’adi Bekali Mahasantri Tebuireng Ijazah Sanad Hadis
Meski sempat berhenti terbit dan mengalami perpindahan kantor dari Tebuireng ke Jakarta hingga Surabaya, Majalah Tebuireng kembali hadir sejak 2007. Hingga kini, majalah tersebut telah menerbitkan 99 edisi, dengan edisi ke-100 direncanakan terbit pada tahun ini. Kehadirannya diharapkan tidak hanya menjadi bacaan santri, tetapi juga rujukan kalangan akademisi dan cendekiawan.

Edisi ke-99 Majalah Tebuireng mengangkat tema integrasi ilmu, sejalan dengan diskusi yang menghadirkan dua narasumber dari latar belakang keilmuan berbeda. Meski mengangkat persoalan yang sama, jawaban yang disampaikan menunjukkan perspektif yang beragam, sehingga memperkaya wacana tentang integrasi keilmuan di lingkungan pesantren.
Baca Juga: Perkuat Silaturahmi Ilmiah, Ma’had Aly Tebuireng Lakukan Academic Visit ke IIUM Malaysia
Sementara itu, H. M. Rizki Syahrul Ramadhan menjelaskan bahwa bedah majalah merupakan agenda rutin yang memiliki tujuan substantif.
“Bedah majalah ini penting agar Majalah Tebuireng tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami secara kritis dan kontekstual,” jelas Ustadz Syahrul.
Ia menyebutkan bahwa selama ini bedah majalah lebih sering dilakukan dalam skala nasional, sehingga pelaksanaan di Malaysia menjadi momentum untuk memperluas jangkauan ke tingkat internasional.
“Kegiatan di UPSI ini menjadi langkah awal Majalah Tebuireng untuk hadir di ruang akademik internasional,” katanya.
Pemimpin Redaksi Majalah ini menambahkan, pemilihan UPSI sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada keberadaan sekitar sepuluh santri Tebuireng yang tengah menempuh pendidikan di kampus tersebut, sehingga memudahkan koordinasi dan pelaksanaan acara.
Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah memperkenalkan Majalah Tebuireng sebagai bacaan berkualitas melalui pendekatan soft marketing.
“Kami tidak ingin mempromosikan majalah secara iklan, tetapi menunjukkan langsung bahwa Majalah Tebuireng memiliki kajian yang serius, mendalam, dan relevan,” ujarnya.
Ia menilai pengenalan Majalah Tebuireng kepada mahasiswa dan akademisi Malaysia menjadi penting karena tradisi keilmuan pesantren memiliki banyak kesamaan.
Baca Juga: Direktur Media Tebuireng Diskusikan Integrasi Ilmu Agama dan Sains di UPSI Malaysia
“Tradisi keilmuan pesantren di Indonesia dan Malaysia memiliki irisan yang kuat, sehingga kajian dalam Majalah Tebuireng cukup relevan bagi kalangan akademik di sini,” ungkapnya.
Nilai utama yang ingin disampaikan melalui kegiatan ini adalah bahwa pesantren bukanlah lembaga yang statis dan terjebak pada tradisionalisme sempit.
“Pesantren hari ini tidak berhenti pada membaca kitab, tetapi juga aktif merespons tantangan zaman dan merumuskan arah pendidikan yang jelas,” tegas Dosen Ma’had Aly Tebuireng itu.
Sebagai penutup, ia berharap kegiatan bedah majalah ini dapat memperluas pengenalan Majalah Tebuireng di kancah internasional serta menjadikannya sebagai salah satu referensi penting dalam kajian keislaman dan pendidikan pesantren.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















